Terimakasih untuk bintang film o yang mirip artis Ariel “Peterpan”, Luna Maya dan Cut Tari. Berkat mereka, ranjangku dua malam ini kembali hangat. Super hangat!!! Thanks berat lah.
Pagi tadi aku bangun sudah senyum-senyum, telur separuh masak sudah disantap, teh hangat sudah dihirup, ditambah ciuman tipis istri, mmm… semua menjadikan pagi ini adalah pagi terindah. Aku berpikir, mungkin akan begini terus kalau ada film-film “panas” mirip bintang ternama lain di negeri ini.
Tapi perkiraanku meleset. Persis sewaktu akan berangkat kerja, ponakanku yang duduk di bangku SMA, tak sengaja nyeletuk menyebut video mirip Ariel-Luna dan Ariel-Cut Tari. Aku kaget, istriku ikut kaget. Aku tak jadi kerja. Kuhampiri si ponakan, kuinterogasi habis-habisan. Intinya, aku mau tahu apakah dia sudah nonton atau belum.
Setelah mengonterogasi habis-habisan, ponakanku masih tak mau mengaku. Dia cuma mengaku tahu dari kawan-kawan di sekolah, juga tahu dari berita-berita di televisi. Meski begitu, toh aku belum mau percaya begitu saja. Keyakinanku sangat kuat dia sudah menonton film terpanas di sepanjang masa dunia entertainment itu. Aku bingung mau bicara apalagi. Kekhawatiran langsung timbul.
Bayangkan, bagaimana efek tontotan “panas” bagi remaja usia belasan itu? Apa yang akan terjadi nanti, jika rasa ingintahunya meninggi, rasa ingin mencobanya meningkat tajam dan rasa ingin menyalurkan hasratnya tak terpenuhi. Apa yang akan terjadi? Bisa-bisa kacau balau nanti.
Mau tidak mau aku tunda berangkat kerja, kuberi dia doktrin agar tak meniru apa yang dipertontonkan dalam video panas itu. Dia hanya mengangguk-angguk. Istriku hanya diam. Aku jadi serba salah. Tapi mau bagaimana lagi, toh nasi sudah menjadi bubur, video yang panas itu sudah terlanjur menyebar hampir merata di seluruh kota ini bahkan mungkin seluruh Indonesia.
Jadi begitulah. Sedianya aku mau mengucapkan terima kasih kepada pemeran film panas mirip artis Ariel Peterpan-Luna Maya dan Cut Tari itu, tapi tak jadi lah. Kucabut saja. Lebih baik kumaki-maki saja, biar tahu rasa mereka. Gara-gara dia, ponakanku jadi teracuni. Mungkin masih banyak orang tua yang mengalami hal serupa dengan yang kualami hari ini.