RSS

Akhir Tahun

15 Feb

Cerpen: Monas Junior

 

            Angin menyisakan kering di kerut kulit, meninggalkan debu di antara persendian, meresapkan dingin di daun telinga Rahmat, pria bertubuh pendek namun gemuk, ketika berdiri ragu di depan rumah Sobari, Kepala Desa Kerlung.

            Sesaat Rahmat terlihat gelisah memutar-mutar kotak rokok putih di tangan kanannya, menyeka keringat di jidat, menggaruk-garuk kepala beberapa kali, lalu berniat membantalkan niatnya memasuki rumah bercat kuning yang hanya berjarak 3 langkah dari tempatnya berdiri.

            Dalam hatinya, Rahmat mendengar genderang perang mulai bertabuh-tabuh. Kian lama kian keras hingga membuat jantungnya berdenyut tak beraturan. Seketika, janji-janji menjadi panji-panji sepasukan besar penuntut kemerdekaan, penuntut hak yang pernah ia keluarkan kepada seseorang, yang kini rumahnya persis 3 langkah dari tempat dia berdiri.

            “Kalau Bapak mau mengurus surat-menyurat plus dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan investor kita, saya jamin akhir tahun ini Bapak dapat dua persen dari miliaran rupiah yang dikeluarkan perusahaan untuk biaya pembebasan lahan itu. Tentu, kalau urusan kita selesai semua,” janji Rahmat kepada Sobari di awal tahun, saat mereka sedang mengerjakan proyek besar, pembebasan lahan warga yang terkena pengeboran minyak sebuah perusahaan minyak dan gas multinasional.

            Perang sudah mulai. Kenangan-kenangan bermunculan ibarat ribuan anak panah yang dengan cepat menancap di ingatannya. Seketika janji-janji berguguran, menggelepar-lepar di tanah jiwa. Menewaskan semangat Rahmat dengan tuntas.

***

            Awal tahun ini, Sobari yang begitu mendapat janji dari dirinya, seorang Putra Daerah Desa Kerlung, seketika meluluskan semua permintaan perusahaan minyak dan gas multinasional itu. Hanya butuh satu bulan bagi Sobari untuk menuntaskan pekerjaannya—mengurus surat-menyurat plus dokumen pembebasan ribuan hektar lahan warga Desa Kerlung–, untuk kemudian menyerahkannya ke Rahmat, bulan berikutnya.

            Oleh Rahmat, dokumen penting itu diteruskan ke kantor BPN, diproses, kemudian bersama-sama pihak BPN, Rahmat menyerahkan dokumen tersebut ke pihak perusahaan multinasional yang sudah tak sabar ingin menggarap tanah di kabupaten ini.

            Singkatnya, Rahmat mendapat komisi 5 persen, pihak BPN beberapa persen lagi. Jelasnya sudah tentu Rahmat tidak tahu. Toh, bagi Rahmat saat itu, yang penting ia kebagian. Soal komisi di bawah meja untuk BPN, baginya tak terlalu penting. “Yang penting tahu sama tahu,” bisik Rahmat, ketika menyelipkan bingkisan amplop coklat tebal ke ketiaknya. Lalu bergegas masuk ke mobil plat merah yang terparkir tak berapa jauh dari Novotel Jambi.

            Transaksi singkat, aman, memuaskan. Rahmat bersiul-siul pelan melarikan mobilnya ke diskotik tak jauh dari hotel tadi. Memarkir mobil di lantai dasar, mengapit amplop coklat di ketiaknya, lalu berlari-lari kecil menaiki lift menuju lantai 2, ruang karaoke yang akan disewanya sepanjang malam. Girangnya tak berhingga, senangnya tak berbatas.

            Hingga pukul 3 dinihari, Rahmat baru keluar dari ruang berukuran 5×5 meter yang masih berdentang-dentang musik keras itu. Di sampingnya, gadis muda yang cantik menggandeng erat tangannya, terus mengikuti Rahmat hingga pintu lift. Senyumnya mengembang bersamaan kecupan ringan di bibir gadis itu. Mereka berpisah saat lift menerkam tubuh Rahmat, pesta pun usai. Dengan darah dipenuhi alkohol, Rahmat terhuyung-huyung menaiki mobilnya ketika sampai di pelataran parkir lantai dasar. Meski mabuk, amplop coklat masih terselip di ketiaknya dengan manis.

            Siangnya, ketika usai mandi di hotel bintang 7 Kota Jambi, Rahmat baru sadar, komisinya sudah kurang dari 5 persen, sukses ditelan gemerlap malam. “Ah cuma 3 juta-an. Masih banyak sisa.” Rahmat menenangkan diri, pengaruh alkohol sudah musnah, tapi girangnya masih kokoh.

            Seminggu di Kota Jambi, bertualang dari diskotik ke diskotik, baru lah cukup bagi Rahmat menuntaskan kegembiraannya. Itupun setelah dia tahu bahwa komisinya sudah terkuras sekitar seperempat dari 5 persen. “Tiga puluh-an juta. Masih banyak sisa….” Lagi-lagi Rahmat menghibur diri.

            Minggu yang menyenangkan. Rahmat sampai detik ini, berdiri tak jauh dari rumah Sobari, masih tersenyum mengenang kejayaannya setelah mendapat durian runtuh itu. Senyum tipis tiba-tiba mengembang saat ia terkenang kembali gelak tawa istrinya yang kegirangan menerima ratusan juta rupiah, malam menjelang tidur. Lalu tidur mereka pun menggebu-gebu hingga dini hari.

***

            “Bapak ada?”

            Gadis kecil usia sekitar 5 tahun yang menyambutnya di ambang pintu rumah Pak Sobari, mengangguk cepat. Lalu berlari ke dapur mencari-cari pria yang dipanggilnya bapak itu.

            “Pak, ada yang cari! Ada yang cari!” Begitu teriak gadis kecil dengan rambut kuncir kuda itu, bersuara lantang.

            “Suruh masuk, Mia,” sahut pria bersuara berat, dari balik dapur, menyusul Mia—gadis kecil berkuncir kuda itu, tenang.

            Begitu sampai di hadapan Rahmat, Sobari berdiri kaku. Melepaskan tatapan tajam tak bersahabat, Sobari bersikap seolah-olah tak pernah ada jurang kebencian antara dirinya dengan Rahmat. Tapi gagal.

            “Ada apa lagi, Pak Dewan yang Terhormat?”

            Rahmat tersentak. Baju baja yang dikenakan mentalnya, dan dikiranya sudah kebal dari sindiran setumpul gada itu, rupanya malah membiarkan jantungnya tertembus. Hingga berhenti berdetak.

            Menguasai serangan, tak kalah seolah-olah tak ada perang diantara mereka, Rahmat seenaknya duduk tanpa izin di sofa. Menyulut sebatang rokok, lalu mempersilahkan Sobari sang tuan rumah duduk di hadapannya.

            Sobari menyambut sikap Rahmat tak kalah seenaknya. Dengan lagak seorang tuan tanah, Sobari berkacak pinggang. Pedang amarahnya sudah terhunus, berkilat menyilaukan mata Rahmat. “Ceritakan urusanmu, usai itu silahkan pergi,” ujar Sobari, masih berdiri tegap.

            “Begini…”

            Rahmat menjelaskan maksud kedatangannya. Berawal dari persoalan pemilu legislatif yang tahun depan bakal digelar, persiapan menjelang pemilu, sampai tujuan mencari dukungan suara terbanyak dari Desa Kerlung. Semua diceritakan Rahmat dengan dada berdegap-degup. Dia tahu suaranya bergetar, dia tahu Sobari tak mendengarkan dan dia juga tahu peluangnya amat kecil.

            “Kau sudah ceritakan urusanmu, sekarang pulanglah.”

            Sobari mengukuhkan ketegasannya. Masih berdiri, dia berjalan ke pintu, berdiri acuh sembari merentangkan tangan kirinya ke halaman.

            Perang usai, kekalahan telak di pihak Rahmat. Dengan wajah keruh, tubuh lemas, Rahmat perlahan-lahan berdiri, mendekati Sobari seraya berbisik, “Saya butuh petolongan Datuk, saya butuh dukungan Datuk,” Rahmat memelas.

            “Saya putra daerah sini, Tuk.”

            “Saya tahu,” tukas Sobari. Masih acuh tak acuh.

            “Karena itu, bantulah saya.”

            Tak kuasa menahan amarah, Sobari mendorong punggung Rahmat dengan tangan kanannya, hingga Rahmat setengah terlempar ke luar pintu.

            “Kau ingat janjimu, tapi kau tak ingat menepatinya. Sekarang kau terima imbalannya!” Hardik Sobari, setelah menutup pintu dengan cepat.

            “Jika itu masalahnya, akhir tahun ini akan kupenuhi janjiku. Berapa yang Datuk inginkan? Berapa nominalnya!”

            Sang Datuk tak menjawab, hanya desing angin di telinga Rahmat yang menyahut, kencang dan kering.

***

            Akhir tahun, Rahmat mulai sibuk. Tugasnya sebagai anggota panitia anggaran legislatif, menyita hampir seluruh waktu dalam setiap hari hidupnya. Dari pagi, jeda tengah hari, lanjut lagi, jeda sore hari, bersambung malam hingga dini hari. Semua dilakukan demi membahas keuangan daerah  tahun depan.

            Hampir satu bulan lebih, Rahmat dan kawan-kawan berhasil menyelesaikan pembahasan rancangan APBD. Dan berhasil pula mengumpulkan puluhan juta di rekeningnya. Hati Rahmat puas, janji yang tertunda tentu sudah bisa dipenuhinya jika seluruh permasalahan tidak lagi ada di APBD.

            Sambil bersandar di jok mobil dinas, Rahmat kembali menghitung-hitung keuntungan yang diperoleh dia dan timnya. Sejak awal pembahasan hingga ketua dewan mengetuk palu, mengesahkan APBD tahun depan. Sementara, Zakir–sopirnya, mengendarai mobil dengan santai. Angin AC membelai mesra pipi Rahmat.

            “Satu orang delapan puluh juta. Mmm, cukup melunasi janji kepada Datuk dan cukup untuk membuat senang istri dan anak-anakku. Lumayan…”

            Sampai di garasi, Rahmat bergegas turun. Tergopoh-gopoh ia hampiri istrinya di dapur, yang tengah  menyiapkan makan siang baginya.

            Dari dompet, Rahmat mengeluarkan kartu ATM, lalu menyerahkannya ke istrinya. “Coba Mama cek isinya, pasti kaget,” kata Rahmat, matanya berbinar-binar menatap wajah istrinya yang terlihat lelah.

            “Nantilah…” Imah–istri Rahmat, menanggapi dingin. Tak ada bias semangat ingin tahu dari mimik wajahnya.

            Itu membuat Rahmat tak senang. Dengan separuh memaksa, Rahmat menyelipkan kartu ATM ke saku baju Imah. “Jangan begitu, aku kan sudah capek mencari ini. Cobalah kau cek, nanti atau sekarang tak jadi soal. Asal kau cek, kau akan tahu betapa hebatnya suamimu mencari nafkah.”

            Saking kesalnya, Rahmat menyesal telah menarik Rp 20 juta dari tabungannya. Andai saja tidak ditarik, sudah tentu istrinya jauh lebih terkejut melihat nominal rupiah di rekening mereka.

            Imah masih acuh, wajahnya seketika memutih saat Rahmat dengan paksa menariknya ke dalam kamar.

            “Cukup, Bang.”

            “Kau yang cukup. Mestinya kau senang, mestinya kau bertanya-tanya kenapa aku kasih kartu ATM. Mestinya kau tebak bahwa aku lagi-lagi memberimu uang banyak. Tapi kenapa kau malah acuh, Dek? Kenapa? Apa kau sudah tak butuh uang lagi?”

            Imah tak menyahut. Hingga sore, malam, pagi besok dan besoknya lagi, Imah masih tak menyahut, bahkan tak bersuara sama sekali.

            Kartu ATM yang diberikan Rahmat, yang kini posisinya di dalam laci meja rias Imah, tak tersentuh dan tak tergeser sedikitpun. Rahmat mengetahui itu saat dia mencari sisir, pagi hari menjelang keberangkatannya ke kantor.

            “Dek! Sini!”

            Imah masih menerapkan aksi diam. Sambil menyirami bunga-bunga peliharaannya, Imah seolah-olah tak mendengar hardikan Rahmat, yang kedengarannya sedang gundah.

            “Mah! Ikut aku!”

            Karena tak digubris, Rahmat menyusul Imah di depan teras, lalu kembali menyeretnya ke dalam kamar.

            “Maumu apa? Maksudmu apa?” Kali ini, Rahmat berusaha memelankan suaranya.

            “Aku tak mau apa-apa, Bang.”

            “Kau tak mau uang juga?”

            “Tentu aku mau. Tapi bukan uang akhir tahun seperti tahun-tahun kemarin. Aku sudah bosan, Bang. Aku sudah bosan menerima uang harammu!”

            “Apa!” Tangan Rahmat terangkat, sedetik lagi pasti mencapai pipi Imah yang menatapnya tajam.

            “Tamparlah. Aku tetap tak mau terima uang harammu lagi. Tak kasihan kah Abang dengan anak-anak, yang tak tahu bahwa Bapaknya memberi makan mereka uang haram! Uang hasil mengompas daerah!”

            “Aku tidak mengompas, betina! Aku cuma menjalankan tradisi, dari dewan ke dewan. Kami memang selalu begitu, prosedurnya memang begitu. Mau apalagi?”

            Imah tak mau membalas kata lagi. Dia hanya menangis, tersedu-sedu memeluk tubuh Rahmat yang bergetar.

            “Sudah cukup, Bang. Aku sudah berkali-kali kau jelaskan soal usaha lobi mu itu. Kau bilang uang itu hasil tawar-menawar point anggaran dari beberapa instansi pemerintah, yang minta ajuan APBD mereka diloloskan dewan. Kau bilang tim mu hanya menerima yang masuk akal saja. Tapi kau tak pernah bilang, uang lobi itu dari daerah juga. Yang nanti dipotong setelah APBD disahkan! Kau tak pernah bilang bahwa kau juga ikut korupsi, Bang!”

            Bruk!

            Rahmat mendorong tubuh Imah hingga terhempas ke kasur. Rahmat menunjuk Imah, “Kau tahu apa soal korupsi. Mana buktinya aku korupsi? Urusan ini tak pernah tercium BPK, juga tak pernah diekspose media massa. Bagaimana kau bisa menyebut ini korupsi, betina!”

            Dengan sekejap mata, Rahmat meninggalkan Imah, memburu waktu ke meja kerjanya. Di gedung dewan kabupaten, nafasnya masih tesengal-sengal saat beberapa rekan menyapanya. “Aku bukan koruptor, aku hanya menikmati hasil lobi melobiku. Jadi kalau dia tak mau uang ini, ya untuk aku saja,” ungkap Rahmat dalam hati, dalam tenang dan damai. ***

 

Kualatungkal-Jambi, Desember 2007

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in Cerpen

 

Tag: , ,

2 responses to “Akhir Tahun

  1. jefri

    September 25, 2008 at 4:59 am

    seolah-olah akulah rahmd itu dan pak ali jadi sobarinya……he..he…

     
  2. ashar

    Agustus 26, 2010 at 4:25 am

    cihuuuuyyyy…. amboi!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: