RSS

Vrigid

15 Feb

Cerpen: Monas Junior

 

            Aku wanita diambang 50 tahun. Tubuh kerempeng, kulit keriput, rambut putih, mata sayu, sangat tak menarik bagi lelaki manapun. Termasuk bagi Afsya, suamiku (lelaki yang dulu telah kupilih sebagai persinggahan terakhir bagi cinta, hati, dan hidupku).

            Kemana cinta? Kemana kenangan? Kemana hasrat menggebu yang dulu memanas acapkali sentuhan-sentuhan menyudahi setiap pertemuan, setiap pertengkaran, setiap permasalahan, setiap suasana? Kemana, kemana pergi semua?

            Aku hanya sisa-sisa masa lalu. Ketika akhir usia adalah penderitaaan yang berkepanjangan. Ketika hidup hanyalah sesi penutup tiap bahasan. Ketika momok mengerikan yang aku tak mau mengenalnya sejak dulu; menopouse, datang, aku (wanita diambang 50 tahun), sempurna berada diambang kematian rasa. Kematian yang amat menyiksa.

            Aku sudah kering. Seperti jeruk manis yang habis diperas waktu, aku tinggal ampas dengan rasa pahit menempel di kulit. Mau diapa?

            Mau diapa jika pada malam-malam tertentu, kuterima sorot mata kecewa Afsya, usai percintaan yang selesai separuh. Keringat masih lengket di kulitnya, saat bersamaan harapan masa lalu lengket di hatiku dari matanya. Aku diambang mati. Diambang vrigid. Diambang tak berasa.

            Lalu vrigid itu datang, menggantikan menopouse di usiaku jelang 50 tahun. Ketika, keinginan kejayaan masa lalu membelit memeluk menyelimuti keinginan Afsya di usianya yang masuk 55 tahun. 

            “Jangan tanya aku salah apa. Aku tahu, aku salah jika kau tahu aku tak pernah benar di matamu,” ujar Afsya mengurai senyum pintas. Persis seusai mengantar undangan pernikahannya dengan seorang gadis usia 18 tahun, undangan keempat dari tiga percobaan pernikahan lain yang berhasil kugagalkan. Aku mati rasa!

            Di teras rumah dua tingkat, harta peninggalan Afsya, aku hanya mampu menyenderkan kepala di salah satu tiang kanopi. Memeluk besi bulat penyangga atap biru itu, mataku kian sayu melepas kepergian Afsya. Yang tak disengaja membawa pula rasa terakhir yang tertinggal di hidupku.

            “Bang, kau bantu membunuh rasaku. Terima kasih.” Hanya itu yang bisa kulontarkan via sms yang tak pernah sampai. Ah, telah berganti semua kiranya. Ya hati, ya kenangan, ya nomor ponselnya.

***

            Hari-hari berikut, seperti cerita-cerita sedih percintaan lainnya, hidupku yang di ambang usia 50 tahun kian tak bertentu. Apa-apa sendiri. Apa-apa tak benar. Apa-apa percuma. Dan aku makin tahu, vrigidku kian parah. “Bang… Kau bunuh rasaku tanpa rasa…” Lidahku kelu, bibirku kaku, tubuhku membeku. Aku kedinginan ketika rasa menjauh setiap tetes air mata berjatuhan.Yang bersisa, hanya kenangan usang, dan harapan sia-sia itu bisa membunuh kematianku.

            Dalam sendiri kukenang pula dua putriku yang kuberi sayap bertahun-tahun lalu. Setelah sempurna kepak mereka, beterbanganlah anak-anakku tanpa aku tahu ke mana mereka terbang setinggi-tinggi langit, setinggi-tinggi masa keemasan mereka. Aku kini sendiri. Sempurna menggigil sepi di angin kecewa yang terus menembus kulit hingga jiwaku. Tapi, aku mati rasa. Benarkah?

***

            Tepat pukul 12.00 WIB dua puluh tujuh tahun lalu, aku selalu memulai hari-hari penuh keringat. Mengantar paket makanan ke kantor-kantor pemerintahan, adalah pekerjaan menyenangkan yang selalu kulakoni tiap hari. Sejak usia ibu padam, aku melanjutkan cita-cita mulianya; menghidupi orang banyak dengan cara kami sendiri. Pengusaha katering.

            Usai S1 fakultas ekonomi, aku terus menekuni jalur masak-masak itu. Lalu aku makin giat tatkala sebuah masalah di sebuah kantor pemerintah, yang mempertemukan aku dengan Afsya, menghapus semangatku.

            Waktu itu, dia lah dewa penyelamat ketika sebuah insiden besar mengancam usaha katering kecil milikku. Puluhan orang pegawai dilarikan ke rumah sakit dengan dugaan keracunan makanan. Sialnya, satu-satunya orang yang paling dekat dengan penyebab kemalangan itu, adalah aku. Lebih sial lagi, hasil labor rumah sakit menyatakan mereka positif keracunan akibat mengkonsumsi makanan.

            Aku tak bisa menampik, kehabisan alasan, tak punya dalil-dalil untuk beladiri. Kecuali, tatapan pasrah ketika kepala kantor pemerintahan yang seluruh stafnya keracunan itu –sewaktu insiden, kepala kantor tak berada di tempat (seperti biasa)–, menginterogasi selama berjam-jam. Ancaman dipolisikan keluar dari mulut hitamnya yang kebanyakan merokok itu. Aku gelap mata, hampir buta akibat kejadian tak terduga ini.

            Tapi untunglah, bertepatan saat kepala kantor berbibir hitam menggiringku ke luar ruangannya, menuju kantor polisi, sekilas cahaya mulai menerangi mataku.

            Afsya, yang siang itu mengenakan pakaian ala eksekutif muda –berjas hitam, kemeja dalam warna putih plus dasi corak batik, celana katun hitam, rambut pendek lurus tertata rapi–, menghentikan langkah Pak Kepala. Tepat sebelum pintu mobil Lexus plat hitam miliknya dibuka. Dan aku, siap dihentakkan ke jok mobil sebagai calon tersangka yang sedang digiring ke kantor polisi.

            Sesaat aku-Pak Kepala, dipisahkan oleh Afsya. Berdua jarak 10 meter, kulihat mereka berbisik-bisik serius, entah membicarakan apa. Sembari sesekali keduanya menatap-natap ke arahku. Sesaat kemudian, Pak Kepala berjalan cepat ke Lexus-nya, mendengus, lalu menghempas pintu mobil, dan menghilang dari pandangan dalam hitungan detik.

            Tinggal aku di balik sisa asap knalpot, menatap kepergian Pak Kepala dengan tanda tanya yang berbuhul-buhul di benak.

            Buhulan pertanyaan itu belum juga terjawab hingga setahun kemudian, aku dinikahi Afsya. Resmi menjadi pasangan yang terjalin janji-janji selalu berdua, selalu setia, dalam suka maupun duka (seperti biasa).

            “Kenapa Pak Kepala melepaskan aku, Bang?”

            “Sudahlah. Nanti saja,” jawab Afsya sekenanya, lalu menuntaskan pertanyaanku dengan deru nafsu yang memenuhi kamar pengantin. Purnama di ujung malam saat itu, tak lagi kami pedulikan. Begitupun denting-denting piring sisa perhelatan yang disusun panitia, tak juga mampu memutus simpul peluk yang sudah setahun tertahan aturan.

***

            Barulah setelah Santi lahir, Nina di kandungan dua bulan, pertanyaan-pertanyaan masa lalu mulai terjawab. Itupun setelah aku tak lepas menyimak pekerjaan Afsya, beratus-ratus hari sebagai seorang kontraktor yang mulai naik daun di sebuah provinsi yang kini kami pijaki. Itupun butuh proses bertahun-tahun kemudian untuk aku bisa menyimpulkan bahwa Afsya, mendidikku untuk vrigid!

            Bergerak di bidang konstruksi dan lain-lain, Afsya mulai menonjol. Dia yang dikenal pengusaha muda sukses sekaligus negosiator ulung, mulai bertualang dari satu kabupaten ke kabupaten lain, menjelajahi titik-titik pembangunan yang butuh sentuhan tangannya. 

            Berhari-hari dia tak pulang, berhari-hari pula dia menjelma menjadi sosok yang benar-benar tak berperasaan. Soalnya berhari-hari aku yang mengandung Nina ditinggal begitu saja, di rumah kreditan satu kamar, menunggu waktu melepas jiwa-jiwa baru untuknya. Sementara dia, entah di gunung mana, di lembah mana, di danau mana, tak pulang-pulang sekedar membawa bertumpuk rindu untukku.

            Sesekali pulang, Afsya menghabiskan kebersamaan dengan ceroboh. Tidur, tidur dan tidur saja kerjanya. Lah aku dianggap apa? Jika bangun, tak ada kegiatan lain selain menciptakan diskusi satu arah. Melulu dia yang menjadi moderator, dia yang menjadi sumber dan aku menjadi audiens.

            Afsya dengan semangat mengulang-ngulang ceritanya. Soal bagaimana dia menciptakan jaringan kerja dengan kesungguhan bertahun-tahun. Bagaimana membeli orang-orang penting untuk sekedar meluluskan lobi proyek, bagaimana menyingkirkan musuh-musuh dengan berbagai cara, bahkan bagaimana menciptakan situasi aman bagi pekerjaannya.

            Yang satu ini, Afsya selalu menceritakannya penuh penghayatan dan tatapan kemenangan. “Keamanan hanya harga mahal yang harus dibayar,” tutur Afsya, di satu sore, depan home teater ruang keluarga. Aku tak tahu dia bicara apa. Tapi demi melakoni tokoh istri yang baik, akhirnya aku membuka telinga untuk terus mendengar celotehannya.

            “Ma. Mama kan tahu. Dari seratus persen nilai proyek, aku hanya mendapatkan sekian persen kecil saja untuk dibawa ke rumah, untuk kau dan anak-anak kita. Itu lah harga bagi penciptaan keamanan. Mahal memang, tapi menyenangkan bagi pekerjaanku.”

            Aku bingung, makin bingung.

            “Kenapa, masih belum mengerti? Duh, Ma. Papa kan harus mengamankan proyek yang Papa dapat. Makanya Papa harus beli pejabat ini pejabat itu, petugas ini petugas itu, bahkan wartawan ini wartawan itu. Biar aman, biar nantinya Papa tidak diganggu.”

            Aku masih bingung, dan terus-terusan bingung. Tapi soal yang terakhir itu, Afsya memang tak mengada-ngada. Dia memang dikenal dekat dengan wartawan. Bahkan dia juga dikenal dekat dengan beberapa pimpinan media massa di provinsi kami, yang menerimanya dengan damai dan gegabah. Saking dekatnya, jika ada wartawan yang nekat mengkritik pekerjaannya, wartawan itu akan ditegur, dihardik, dipindahtugaskan atau bahkan diberhentikan! Afsya, suamiku adalah manusia yang paling berkuasa di negeri yang kian gegabah ini.

             “Yang penting lobi, Ma. Yang penting kurangi perasaan. Musuh di mana-mana. Lebih baik mengadu orang untuk sebuah pertempuran, daripada maju sendiri untuk menerima kemenangan yang kotor atau kekalahan yang memalukan.” Kalimat ini, selalu mengakhiri diskusi kami.

            Dan lihatlah, Vrigid itu ternyata memang sudah menghantuiku bertahun-tahun lalu. Bahkan sebelum aku diambang usia 50 tahun.

***

            Pagi ini aku sedang semangat-semangatnya. Berpakaian ala wanita karir, aku menjejakkan kaki kurusku di tehel teras rumah. Siap untuk berbelanja guna menghidupkan kembali usaha kateringku yang sempat mati suri.

            Kulihat daftar belanjaan yang tertulis di kertas putih sisa tisu, yang kuoret-oret semalam. “Mmm, ini hari yang bakal melelahkan,” gumamku sembari melipat kertas tisu itu, lalu menyelipkannya di dompet.

            Taksi bercat putih dengan garis-garis biru berhenti di depan rumah.

            “Ke lokasi perkantoran, Pak,” ujarku kepada sopir taksi yang tampangnya baru 20 tahunan itu.

            “Baik, Bu.” Dia tancap gas. Aku menyiapkan diri, menyusun strategi menyusun langkah. Ya, aku akan berbelanja hari ini.

            Membeli beberapa orang pejabat, beberapa petugas, beberapa teman dan beberapa wartawan. Toh, aku kan memang sudah vrigid dari dulu. Buat apa menyusahkan ketidakadaperasaan yang kemarin sempat menyiksaku. Buat apa!***

 

Kualatungkal, September 2007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in Cerpen

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: