RSS

Salah Siapa Hutan Gundul?

18 Feb

Sebenarnya beberapa hari lalu saya baru sadar, ternyata 90 persen hutan di kabupaten Tanjung Jabung Barat (Provinsi Jambi), sudah gundul segundul-gundu paculnya.
Fakta itu saya temui ketika berkunjung ke salah satu perusahaan raksasa produsen bubuk kertas di Dusun Sungai Tapah, Desa Tebing Tinggi, kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjab Barat. Sebut saja perusahaan itu, PT WEKAES.
Di jalan logging desa itu, saya sampai menghentikan laju kendaraan. Berdiri sambil mengusap dada memandangi ratusan hektar lahan yang tak ‘berbulu’ (maksudnya gundul gitu loh!) lagi, di kawasan itu.
Bukit-bukit kosong melompong, terpapar merana di hadapan saya. Onggokan kayu bekas ditebang, masih rapi di pinggir jalan. Sebuah truk tronton berhenti, beberapa pekerja ramai-ramai mengangkat kayu-kayu itu, lalu truk itu pun raib meninggalkan debu tebal di wajah saya.
Merenung sebentar, tiba-tiba saya merasa serba salah. Apalagi memikirkan pihak mana yang pantas disalahkan atas gundulnya hutan hampir di sebagian besar kabupaten ini. Atau bahkan di seluruh wilayah provinsi Jambi. Siapa?
Sepintas saya langsung mengklaim bahwa PT WEKAES-lah, yang pantas dan sangat pantas disalahkan. Nah, kan gara-gara mereka yang menebang hutan hampir tiap jam, hutan lambat laun jadi gundul. Gara-gara produksi bubuk kertas mereka kian meningkat, pasokan bahan bakunya juga otomatis meningkat. Hingga hampir seluruh hutan asli provinsi ini, habis ‘dibantai’ sama mereka.
Salah mereka juga, menggarap pelestarian hutan separuh hati. Sesekali tanam, beratatus kali tebang. Misalnya hutan lindung, coba bayangkan, dari ribuan hektar lahan hutan yang habis mereka tebangi, hanya beberapa ratus hektar saja dijadikan hutan lindung. Itupun tanpa sepengetahuan banyak pihak, tetap saja mereka gundulin tanpa tendeng aling-aling lagi.
Jadi, salah PT WEKAES lah yang membuat hutan gundul di mana-mana. Ya, kan?
Setiba di salah satu kamp lokasi perusahaan itu, pandangan saya yang memvonis PT WEKAES mutlak bersalah terhadap kegundulan hutan, seketika berubah. Kalian tahu kenapa? Mmm?
Ternyata, di lahan seluas 3 hektar, perusahaan bubuk kertas raksasa itu telah membangun areal perkantoran yang sangat elit. Cukup sekejap, saya bisa memprediksi ada ratusan karyawan yang bekerja total untuk perusahaan tersebut. Mereka, adalah pegawai dari tingkat buruh kasar, pengawas buruh, pengawas pabrik, sampai pegawai yang punya jabatan bergengsi. Belum lagi pegawai lain, dari data sementara di Disbnakertrans Tanjab Barat, tercatat ribuan pegawai yang menggantungkan hidup mereka ke perusahaan yang menggunduli hutan seantero provinsi Jambi ini.
Andai, andai saja perusahaan raksasa penjarah hutan ini tak berdiri, mungkinkah pemerintah sanggup menyediakan lapangan pekerjaan yang bisa mempekerjakan ribuan karyawan setaraf perusahaan ini? Mmm, rasanya sulit.
Lalu, kalau sudah begini, siapa yang salah atas gundulnya hutan di provinsi Jambi? Atau bahkan hutan di seluruh negeri ini? Departemen Kehutanan RI? Sebagai pihak yang mengeluarkan izin ini-itu untuk operasional perusahaan perkayuan se-Indonesia? Mmm… entahlah!

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2008 in Renungan

 

Tag: , , ,

2 responses to “Salah Siapa Hutan Gundul?

  1. Cabe Rawit

    Februari 18, 2008 at 9:54 am

    Manusia-manusia serakah yang sudah kehilangan akal sehat dan cinta kasihnya terhadap manusia dan alamlah yang merusaknya. Hutan ada karena ia bisa memberi banyak kepada manusia.Bukan tidak boleh ditebang dan diambil kayunya, tapi seimbanglah dalam memperlakukannya… ya kan bang???:mrgreen:

     
  2. monasjunior

    Februari 21, 2008 at 12:12 pm

    Ya gitu deeeeh…. Tq.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: