RSS

Antara Wartawan dan Penulis

16 Mar

Topik ‘antara wartawan dan penulis’ ini, sebenarnya sudah seringkali disinggung oleh beberapa rekan saya. Seperti Joni Rizal (Laety) dan Deddy Rachmawan. Maka saya pun tertarik mengangkat hal serupa dalam kerangka yang berbeda.

Singkatnya begini, wartawan adalah pilihan profesi yang dituntut mesti cakap dalam menulis berita. Rangkaian pekerjaannya, mulai dari wawancara, studi lapangan, terakhir menulis dalam naskah digital untuk kemudian diterbitkan di media tempat ia bekerja. Baik visual, audio, maupun audio visual.

Sementara penulis, sebenarnya tak jauh berbeda sistem kerjanya dengan wartawan. Mulai dari wawancara, studi lapangan, terakhir menulis dalam naskah yang sudah dirancang sebelumnya melalui metode tertentu. Mungkin perbedaan mencolok dari penulis, mereka kerap menggunakan studi literatur (bahan bacaan) untuk memulai menulis sesuatu. Selain itu, ada juga proses komprehensif (perenungan) untuk menutup tulisannya.

Jadi yang jelas, wartawan adalah penulis. Penulis, bukan wartawan. Tetapi penulis mungkin melakoni pekerjaan wartawan yang tertunda ataupun terbengkalai akibat proses pemberitaan yang acapkali terganjal berbagai hal, seperti ganjalan kepentingan bisnis maupun misi media tempat wartawan bekerja.

Jabarannya begini; seorang penulis, biasanya bekerja bebas, tak terikat, tak berbatas, tak berkepentingan apa-apa selain menuangkan ide-ide mereka –baik dari hasil olah literatur maupun hasil olah imajinasi melalui perenungan mendalam–, dan melahirkan karya-karya yang biasanya, bisa dikatakan jujur (tak ditutup-ditutupi, apa adanya).

Maka, adanya penulis, sedikit banyak membantu pekerjaan wartawan yang –seperti tadi saya sebut di atas– ‘tertunda’. Tetapi tetap, penulis adalah penulis, wartawan adalah wartawan yang melakoni pekerjaannya dengan menulis berita.

Jadi, benarkah wartawan adalah penulis? Yup, benar. Kalau saja, wartawan itu benar-benar bekerja dengan tekun, dengan menyelami penulisan yang baik, yang dalam dan yang mengusung kepentingan orang banyak. Sebut saja, wartawan idealis itu, ya, penulis (aspek penting, jujur dan tak ditutup-tutupi).

Nah, masih adakah sifat-sifat idealis yang dianut wartawan kekinian? Saya pikir, 50-50. 50 idealis, 50 bisnis. Makanya, wartawan kini sulit bisa dikatakan sebagai seorang penulis. Biasanya disebut sebagai pewarta (orang yang hanya menyampaikan berita).

Dan makanya, wartawan sekarang kebanyakan butuh penulis yang benar-benar penulis. Dalam artian, penulis yang bisa membantu mengungkap apa yang kebanyakan wartawan tak bisa ungkap di medianya. Termasuk, pengungkapan opini yang diharamkan dalam pemberitaan.

Soalnya, opini tidak memiliki sumber kuat dan tidak memiliki data akurat. Kedua syarat pokok diharamkannya sebuah berita naik. Titik. So? Penuliskah anda, atau wartawankah anda?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2008 in Renungan

 

Tag: , , ,

One response to “Antara Wartawan dan Penulis

  1. rachmawan

    Maret 22, 2008 at 5:36 am

    bagus ide tulisannya tu bos
    kalo bos penulis atau wartawan?
    Atau penulis yang juga wartawan? heheh
    jangan ribet-ribet, idealisme berjalan seiring bisnis.
    ato,,,realistis aja…(alah..muter-muter)

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: