RSS

Stop Pencekalan Seni

17 Mei

Waduh, jaman sekarang kayaknya lagi ngetrend cekal mencekal di bidang seni. Mulai dari seni pertunjukkan, sampai seni peran. Kok bisa ya? Padahal seni kan tetap seni, bukan sesuatu yang bisa dianggap bersalah atas rusaknya moral para penikmatnya. Apalagi, seni itu kebetulan memiliki nilai-nilai sensualitas–yang sebatas kewajaran– saja. Misalnya, film Mau Lagi (ML) ataupun aksi panggung beberapa aktris Indonesia.

Filem ML dicekal. Gara-garanya, dinilai berbau pornografi yang dikhawatirkan bisa merusak moral
bangsa. Weleh, kok bisa ya, sebuah filem yang mengangkat kenyataan, sekali lagi, kenyataan saat ini,
dinilai bisa merusak moral bangsa atau individu manusia Indonesia. Padahal, kalau mau jujur sih, moral
generas kita memang sudah mulai ambrol, meski belum parah-parah amat.

Penilaian ini sengaja aku keluarkan bukannya tanpa dasar. Coba lah kita jujur, di kota-kota besar atau
kota-kota yang mulai besar, indikasi rusaknya moral generasi muda sudah terlihat kok. Malah terlihat
dengan jelas. Tak percaya?

Oke. Aku mau buka rahasia (Mohon jangan kaget atau langsung mengeluarkan penilaian yang gegabah atas
kenyataan ini). Di beberapa hotel kelas melati (sengaja tidak aku sebutkan), di Kota Jambi (Provinsi
Jambi), pada hari Sabtu atau Minggu pagi sampai sore, biasanya dihuni oleh siapa? Pebisnis? Keluarga?
Pendatang? Pasutri? Jawabnya… siswa/i tingkat menengah atas! Serius!

Dari mana aku bisa tahu? Ceritanya begini, sewaktu aku dipindahtugaskan di Kualatungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), rumah kontrakanku di Kota Jambi tidak lagi kulanjutkan sewanya. Jadi setiap hari Sabtu-Minggu di Jambi, aku terpaksa nginap di hotel Melati, yang tarifnya tergolong murah.

Nah, setiap Sabtu dari pagi sampai sore, aku kaget melihat remaja berseragam abu-abu keluar-masuk hotel
melati tempat aku nginap. Bukan cuma sepasang, tapi berpasang-pasangan. Tak sampai di situ, minggu-minggu berikutnya, aku tetap saja mendapati pemandangan yang sama tiap kali nginap di hotel melati favoritku itu.

Tak jarang remaja tanggung itu pakai semi seragam. Bawahnya abu-abu, atasnya pakai kaos. Terus terang,
gadis yang dibawa para lajang SMA itu juga lumayan manis (sepintas iri juga sih, he he he… jangan tegang dong!). Jadi di situlah aku berani menyimpulkan penilaian, bahwa moral bangsa, bukan tanggungjawab seni! Sekali lagi, seni yang memiliki batas-batas kewajaran sensualitas.

Perlukah pencekalan seni diterapkan? Apakah pencekalan ini bisa menyelesaikan masalah moralitas yang selalu diagung-agungkan para pemimpin daerah, atau pemuka agama, atau apalah namanya? Jawabnya, sudah tentu tidak, dong.

Apakah Inul berhenti goyang ngebor ketika dicekal Rhoma? Apakah Dewi Persik berhenti ketika goyang
gergaji-nya dicekal beberapa bupati? Apakah film sejenis ML tak bakal diproduksi lagi akibat
penayangannya dicekal? Jawabnya, tidak juga lah.

Yang mesti kita lakukan (bukannya menggurui nih), bagi ortu, harus lebih awas menjaga anak-anak mereka
terutama yang beranjak remaja. Bagi pemerintah daerah, harus sering-sering menerapkan pengawasan atas
hotel-hotel melati di wilayah mereka, ataupun hotel berkelas.  Bagi pemuka agama, harus sering-sering
menggugah pemuda-pemuda sekitar wilayah untuk lebih menggiatkan kegiatan di bidang keagamaan. Bagi
organisasi HIV/AIDS, harus lebih giat lagi mensosialisasikan penyakit tak berobat ini. Bagi kita semua, harus lebih bijak menyikapi sendiri, mana yang layak atau tidak kita nikmati dari sebuah seni. Bukannya begitu?

Seperti dielu-elukan Iwan Fals:

Urus saja moralmu
Urus saja akhlakmu
keadilan yang sehat
yang kami mau…..

Nah, makanya, stop pencekalan terhadap seni!!!!! Setuju?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 17, 2008 in Renungan

 

Tag: , , , , ,

2 responses to “Stop Pencekalan Seni

  1. indra symfonia

    Mei 17, 2008 at 7:06 am

    yup, gw sangat setuju banget. Seni adalah sesuatu yang harus dinikmati tanpa batas, pencekalan terhadap artist sendiri sudah melanggar HAM dan Kreativitas.
    namun tidak dipungkiri seni itu dirasa berbeda bagi setiap orang, contohnya gw meihat foto sexsi dimajalah FHM, foto seksi itu gw anggap sebagai seni baik secara fotografi ato medelling. namun bagi beberapa orang gw disebut mata keranjang.
    jadi mending nikmati seni itu secara sendiri atao bersama orang yang menyukai seni yang sama.

     
  2. ryan

    Mei 17, 2008 at 9:00 am

    tidak ada yang salah pada seni. seni itu indah. yang salah adalah nafsu yang berkedok seni.”seni” yang ini lagi laris manis. Masih banyak yang bisa diciptakan pada seni,tapi kenapa yang diuber-uber yang murahan,tidak beradab dan bermatabat, maka jadilah seni yang berazaskan hewani untuk memuaskan perut,kelamin. “seni”begini yang harus distop,perlu dipertanyakan niat orang-2 yang mendukung dan pro dengan seni seperti ini. bayangkan kalo keluarga anda menonton “seni” seperti itu atau keluarga anda yang melakukannya. Masih adakah rasa malu? dilarang aja masih menjamur, apalagi ga’ ?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: