RSS

Yang tercecer…

20 Jun

Pas lagi ngecek email ku, eh tahu-tahu dapat puisi yang dah lama aku tulis. Tapi lupa mengarsipkannya.

—————

Sintesis
:Wulan

Aku ingin teriak keras-keras, tetapi tak ada gunung
yang sanggup mendengar suaraku. Aku ingin memanjat
gelisah kesendirian ini menuju bianglala yang
terpeleset di tabir senja, lagi-lagi ketinggian
membuat aku gamang lalu memaksaku turun ke lembah
terendah kesunyian.

Pernah juga kucari selendang awan di balik wajah
Wohler, ataupun Urea hasil pemanasan amonium sianat di
tujuh lubang tanah merah ini. Tak ada yang berlebih
jika tumbuh-tumbuhan itu ceria dan mengangguk-angguk
senang atas keberhasilan kimia sintesis menghidupkan
mereka. Tapi hujan asam membuat kulitku mengkerut,
pucat dan dingin sangat.

Zat-zat organik itu, sangat busuk sayang. Sebusuk
hatiku yang kelu dingin dan butuh transplantasi rindu.
Tapi hati ini bukan senyawa yang bisa dibuat
dilaboratorium, ataupun atom-atom terstruktur itu!

Aku butuh kau, tolong aduk aku ke dalam bejana
hidupmu. Jadikan aku urea yang terbaik bagi hatimu.

Jambi, Agustus 2004

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 20, 2008 in Renungan

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: