RSS

Balada Keluarga Pengunjung Napi

21 Jul

Sudah jatuh dihimpit tangga. Rasanya pribahasa ini sangat pas menggambarkan nasib yang dialami pengunjung narapidana (napi) di lembaga pemasyarakatan, khususnya di kota kecil Kualatungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat). Mungkin juga di seluruh wilayah RI.

Entahlah, mungkin ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa pungutan liar adalah hal yang wajar terjadi di lingkungan Lapas. Korbannya tentu saja keluarga pengunjung napi. Pungli itu berbentuk rokok maupun uang dengan nilai yang seringkali mencekik keluarga napi.

Saya sebenarnya sudah dengar soal ini, tapi baru jelas ketika seorang tetangga saya, Mbak Ita (bukan nama sebenarnya), yang suaminya ditahan di LP Kualatungkal, mengeluhkan perihal ini kepada saya sejak beberapa bulan lalu. Katanya, tiap kali menjenguk suaminya di LP, dia harus menyediakan uang sekitar Rp 150 ribu. Pulang dari LP, uang itu habis-sehabis habisnya.

Sebagian besar dibelikan rokok, sebagian lagi disisakan untuk kelancaran selama jam besuk. Waktu di sana (LP) amatlah mahal. Jika lewat dari waktu yang ditentukan, pengunjung harus membayar lebih untuk penambahan waktu kunjung. Belum lagi, untuk mencapai ruang besuk, keluarga pengunjung harus ‘menyogok’ barisan oknum pegawai LP dengan rokok maupun uang. Barulah diizinkan bertemu suami tercintanya hingga batas waktu yang ditetapkan.

Pemberlakuan peraturan tak tertulis ini, terus dijalani Mbak Ita hingga detik ini. Tiap kali menjenguk suami, harus sediakan isi kantong sekitar Rp 150 ribu. Plus, uang yang nantinya ditinggalkan untuk keperluan suami selama di dalam tahanan.

Oke lah kalau keluarga si napi itu tergolong borjuis alias berkantong tebal. Nah kalau terkena di keluarga yang kantongnya pas-pasan, atau bahkan kurang, peraturan ini sudah tentu mencekik keluarga si napi yang tak beruntung itu. Misalnya Mbak Ita.

Mendengar penuturannya, saya jadi tercenung. Mau dijadikan berita, rasanya sulit. Bukankah ini sudah menjadi rahasia umum yang sulit dicarikan pembuktiannya? Kalau dikonfirmasi ke Kepala LP, tentunya dia membantah dengan sejuta dalil. Jadi, ya terpaksa saya curhat lewat blog ini saja, setidaknya keprihatinan saya bisa terlampiaskan lewat jalan ini. Tidak berharap banyak.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 21, 2008 in Renungan

 

Tag: , , , , ,

2 responses to “Balada Keluarga Pengunjung Napi

  1. Pakde

    Juli 26, 2008 at 6:13 am

    baru tahu nih, uang pelicin ada juga di LP.

     
  2. tingkir

    Agustus 13, 2009 at 4:03 pm

    Curhat tsb benar adanya. OB hotel prodeo sangat tahu bagaimana untuk tidak bisa dituntut oleh siapapun krn mereka sdh sangat paham hukum, jadi bisa tahu mensiasati hukum itu sendiri. hal ini mmg tjd di seluruh wilayah RI. mau check, pasti benar… semboyannya kalau bisa jadi unit produksi, napi yang borjuis harus tinggal selama mgkn. LSM mgkn bisa bantu org2 yang tertindas ini.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: