RSS

Surat1

11 Jan

Buat Istriku yang dulu kucinta, kini amat kucinta…

Perekat
:Monas Junior

Jika bertanya awan ke mana beranjak setelah di atas kepala, kau tanya saja angin. Jika bertanya burung ke mana terbang setelah di atas dahan kamboja, kau tanya saja kepaknya. Jika bertanya air kemana mengalir setelah di muara, kau tanya saja dasarnya. Jika bertanya hati ke mana berujung setelah lelah menghampiri, kau tanya saja jiwamu.

Sederhana kan? Sangat sederhana. Ketika kau tahu, kau satu-satunya orang tersendiri di antara ribuan orang-orang sibuk, kau akan termenung seperti lesatan peluru menghantam gunung. Benar-benar terhenti sendiri.

Jangan kau tanya asam habis di kulit jeruk, jangan pula kau tanya garam habis di dasar pantai, sebab mereka sudah meresap di kulit-kulitku, di wajah-wajahku, di lapisan neuronku, di bawah sadarku.

Ooo dikau dinda dirantau hati. Pulanglah ke pelukku. Kembalikan hatiku yang pernah kau bawa dulu. Pulangkan pula rindu yang telah kujual sejak asmara bangkit lagi.

Ooo dikau dinda di rantau jiwa. Pulangkan pula separuh jiwa yang sebenarnya telah kau rampas dengan telak meski tanpa kau sadari. Pulangkan pula impian-impian bersama yang seringkali mengakar di kaki-kaki bukit.

Sementara istana pasir sudah kubangun buatmu. Meninggi… meninggi…. Dan meninggi terus mengalahi langit-langit mimpi. Sadarkah kau, sebenarnya aku ingin engkau yang menjadi ratu, menjadi permaisuri, menjadi ibu suri setelah tahun-tahun keemasan kita nanti.

Andai engkau tahu sebenar-benar tahu. Asamku, asinku, rasa seluruhku telah habis, ketika kau mulai membara api. Murkamu, melemurkan segala, menghancurkan langkah-langkah yang sudah terarah.
Ooo dikau dinda di rantau hati. Tahu pulakah kau, ketika usia sudah beranak-pinak berkaki-kaki berkepala-kepala banyak, kita bukan lagi pasangan jiwa. Kita hanya pasangan struktur baru yang sebenarnya sudah jelas dari sekarang.

Usah bingung cinta, usahlah kau gamang. Sebab mengapa bunda membiarkan kita melekat di hatinya, sementara ayah tetap merajainya? Sebabnya satu, satu saja sebabnya. Itu karena mereka punya perekat kuat. Yang selalu menempelkan segala-segala terdekat.

Seperi engkau, seperti ponakan, seperti cucu, seperti sepupu, seperti ratusan jiwa-jiwa terkait erat. Mereka merekat kuat di jiwa-jiwa tua itu.

Kau pasti ingin tahu perekatnya. Ya, sebuah benda tak lazim. Kita tahu itu, orang tahu itu, semua tahu itu. Perekat itu, dinamai: Sabar. Ya, kesabaran wujudnya.

Sabar dan kesabaran, satu elemen penting ketika cinta sudah benar-benar tua. Ketika cinta mulai kabur dan terpecah belah ke berbagai sudut. Sementara bentuknya telah beragam.

Cinta benar-benar menuju kematian waktu itu, sementara yang kau tahu kini, cinta adalah segala pertemuan, segala kerinduan, segala pengabulan keinginan, segala keindahan, segala ketidakmungkinan jadi mungkin. Segala kekuatan, segala kebutuhan bersatu padu.

Tapi… ooo dinda oo dinda…. Ketika tahun-tahun kepala bertambah, usia makin sedikit, cinta menjumpai ketidakbentukan yang kian absurd. Lalu benar-benar raib saat kau sadar, engkau sudah demikian tua untuk mengingat segala yang indah.

Kebutuhan, adalah jiwa-jiwa menuju kejayaan. Singgasana terakhir, melihat keturunan kita, menemui kebahagiaan muda hingga tuanya yang mungkin tak lagi kita dampingi. Tujuan berhenti, hanyalah ketika tubuh, jiwa, hati, selesai di pertapaan hidup, dan perlahan mengangkasa ke tempat pesanggrahan terindah.

Mungkinkah perekat itu ada di dirimu? Cintaku… Sementara pelajaran hidup tersulit, dan tak pernah bisa diketahui hasil ujiannya, adalah pelajaran kesabaran?

Entahlah. Yang aku tahu, aku butuh rindumu dalam bingkisan sabar terbaik. Karena sabarku, penuh untukmu dengan asam, asin-nya hidup yang telah kucecap.

Selamat malam, sayang.
Jambi, 27 Juni 2006

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 11, 2009 in Curahan

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: