RSS

Surat2

11 Jan

Buat Istriku yang dulu kucinta, kini amat kucinta…

Ya… Begitulah
: Monas Junior

Pagi Dinda…
Aku tahu senyummu masih seperti pertama kita sua. Selalu saja kau kulum. Selalu saja kau mampu membuatnya demikian indah, dan penuh misteri. Selamat pagi, Cinta. Kau kelihatan tidur pulas semalam. Aku senang.

Bicara apa kita hari ini? Kau mau apa? Baiklah, kita bicara tentang rengekan yang keluar dalam celoteh tolak-harapmu. Ya, penolakan, tetapi kau juga berharap. Benar begitu, kan? Sayang…

Yup. Kau berceloteh tentang dirimu yang kau nilai; cerewet, manja, banyak permintaan, keras kepala. Dan kau merutuki dirimu seperti tak mau memaafkan. Dan kau, membuat aku berpikir bermalam-malam setelah itu. Berpikir, bagaimana menjelaskan betapa aku telah mengenalmu, dengan segala elemen yang ada di tubuhmu-jiwamu.

Jadi, hari ini kita bicara tentang karakter manusia saja. Biar kau tenang, aku puas. Puas sudah sampaikan betapa aku mengenalimu jauh sebelum aku mengenali diriku sendiri, ataupun orang-orang mengenali dirinya sendiri.

Kembali ke karakter. Baiklah.

Suatu saat, kawan dekatku menanyakan hal yang membaut aku kaget sekaligus tersanjung. Waktu itu kami di sebuah kedai samping kantor. Biasalah, memenuhi hasrat perut sekaligus memuaskan dahaga kerongkongan. Plus kopi, plus berbatang-batang tembakau, plus musik dan plus ocehan belasan pengunjung kedai lain.

Dia bertanya, “kok kau tahan dengan Dia? Aku saja tak tahan dengan sikapnya. Kalau aku jadi kau…” begitu katanya sambil menyeruput kopi, mengernyitkan dahi lalu menghisap Sampoerna Mild di bibirnya.

Lalu kujawab sekenanya, “Ya… begitulah Dia,” tukasku cepat. Sambil membubuhi bumbu-bumbu kesal yang kian ambigu.

Dia yang kami bicarakan, adalah teman sekamarku yang sikapnya ‘aneh’ dinilai kawan-kawan sekantor. Waktu itu kami tinggal di mess kantor. Tiap hari, ada saja ulahnya yang membuat orang kesal.

Mulai dari kepicikannya, kepelitannya, kelicikannya, hingga ke-ke yang lain. Simpulannya, tak banyak orang menyukai kehadirannya. Meski, orang-orang tak bisa begitu saja terhindar darinya.

Dia, tokoh nyata. Karakternya, juga nyata. Jadi, “ya…. begitulah Dia.” Penilaianku waktu itu, hanya sebatas perkataan itu. Tak berjabar.

Hingga, suatu saat aku belajar banyak dari, lagi-lagi kawan dekatku. Wanita. Cantik, sudah bersuami dan masih menganggap dirinya gadis yang pantas dimanja. Bah! Tapi, lagi-lagi aku menerimanya dengan damai, karena… “ya… begitulah Dia.”

Kawan wanitaku yang suka bermanja itu bilang, (suatu saat aku berkata-kata agak ‘nakal’); “Kau ni, cubo lah jangan ngomong kayak gitu lagi. Dak berubah-rubah,” ujarnya menyalak. Aku teringat anjing tetangga yang acapkali ‘menyapa’ku tiap pulang malam.

Lalu kujawab sekenanya, lagi. “Loh, beginilah aku. Kalau aku berubah, kau pasti akan bingung, aku juga bingung, semua jadi bingung,” jawabku, kau tahu, sekenanya saja.

Aku terus mengetik narasi. Bercanda dengan kata-kata yang makin ‘nakal’ tapi berdasar fakta. Orang-orang menyebut tulisan yang aku buat itu, sebagai BERITA. Memberitakan, begitu pembenarannya. Tapi, au ah!

Kan kita sedang bicara karakter, nih. Kita sedang bicara manusia, nih. Kita sedang memahami celotehanmu tentang dirimu sendiri, nih. Jadi, masalahnya adalah…. Aku tak tahu harus diperpanjang berapa alenia lagi.

Yang jelas. Karakter manusia itu, sesuatu yang terbentuk dengan tidak disengaja. Menjadi satu dengan darah, daging, tulang. Lalu mengalir ke kulit di semua permukaan tubuh. Dan, BANG! Terciptalah aku, kau, mereka, semua!

Karakter itu, bukan terjadi begitu saja seperti yang aku tulis di atas, BANG! (ini ilustrasi saja, biar manis gitu loh!). Tapi penciptaannya bertahun-tahun sejak manusia mulai berkenalan dengan lingkungannya. Ya alam, ya manusia, ya gaib dan ya proses belajar.

Lalu semua pembelajaran itu, pelan-pelan telah membalut dirinya, dan menjadikan dia seseorang yang akan dikenal setiap orang. Karakter, adalah seseorang. Karakter, adalah KTP bagi semua orang. Jika seseorang mengubah karakter, artinya siap-siap merubah KTP yang tak punya tanda tangan Camat dan tak bermasa berlaku.

Ketika si ‘Dia’ berubah menjadi Aa’ Gym (misalnya), maka ‘Dia’ bukan lagi kawan yang kukenal. Dan aku akan segera menjauh darinya sambil berteriak, “Engkau siapa!”. Lalu, kalau tidak dia pergi, aku yang berangkat dari kamar mess beberapa waktu lalu (buktinya aku bertahan hingga dia menikah dan beranakpinak).

Dan kini, ketika kawan wanita yang masih suka manja itu mengetahui aku berubah, maksudku karakterku kuubah, dia juga akan melakukan hal yang sama. Jadi asing, jadi bingung, jadi aneh melihat aku. Dan dia pasti bertanya-tanya, “ada apa denganmu? Sakit? Buntu (tak ada uang)? Ada masalah?”

Tentu itu membuat aku jadi berkata, “Loh!” lalu, “Iya, ada apa denganku? Sakitkah aku? Buntukah aku? Ada masalahkah aku?” Tiba-tiba, aku terpaksa kembali menjalani karakter yang kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Seperti yang biasa orang-orang kenal. Bahwa aku adalah aku, adalah benar. Bahwa karakterku begini, dan selalu akan begini, juga merupakan kebenaran. Meski masih absurd.

Simpulannya apa, Dindaku rindu? Kau bingung? Aneh? Berkerenyit? Ya, sudah, biar kubantu menyimpulkan.

Aku akan mengenali kau, karena kau seperti ini. Cerewet plus judes, plus manja, plus banyak permintaan, plus keras kepala. Barangkali aku perlu tambahkan; plus imut-imut, plus cantik, plus menggemaskan, plus penuh harapan dan plus seksi! (ups! Maaf agak ‘nakal’).

Ya, jadi jangan sungkan-sungkan lagi, cintaku. Kau telah kuterima dengan damai sedamai angin memimpin awan, sedamai daun melindungi batang, sedamai ibu menitip cintanya di hati kita.

Aku menerimamu, karena; “ya… begitulah Engkau.” Dan semestinya kau menerimaku disebabkan yang sama; “ya… beginilah Aku.”

Bonus, jika karakter buruk pada kita bisa sama-sama kita kurangi. Catatannya, jangan sampai hilang sama sekali. Bisakah? Nah itu dia. Merubah karakter, berarti kembali ke kehidupan dimana kita memulai semua pelajaran.

Artinya… Tidak usah sungkan-sungkan berubah baik. Tapi, tidak apa-apa kau begini. Sebab, kau pasti sudah tahu sekarang, aku sudah menerimamu karena… “(tolong isikan)…”

13 Agustus 2006

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 11, 2009 in Curahan

 

Tag:

3 responses to “Surat2

  1. M Shodiq Mustika

    Januari 11, 2009 at 6:28 am

    Surat “nakal” yang penuh cinta. Hebat!

    Salam kenal. (Kita belum saling kenal, ‘kan)

     
  2. Husna

    Mei 4, 2011 at 1:01 am

    so romantic!

     
  3. Adi Hidayat

    Desember 6, 2011 at 12:12 pm

    aku sungguh terkesan,…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: