RSS

Ahmad, Penghuni Rumah Rakit di Tepian Sungai Batanghari

04 Feb
Rumah Rakit

Rumah Rakit

Banyak Nyamuk, Pernah Diterjang Puting Beliung

Rumah-rumah rakit, siapa sangka ternyata masih ada di Kota Jambi. Ahmad (45), seorang penghuni rumah rakit di Seberang Kota Jambi, hingga kini masih setia menempati rumah apung miliknya. Seperti apa kehidupan Ahmad di atas rumah uniknya?

Alpadli Monas, Kota Jambi

Berjarak sekitar 200 meter, menyeberang sungai pakai perahu ketek dari Ancol Pasar Jambi, rumah-rumah rakit yang terapung bisa terlihat di tepian Batanghari sebelah kiri. Rumah berdinding papan atap seng itu, tampak bergoyang-goyang mengikuti gelombang sungai yang kebetulan saat itu cukup besar.

Di luar rumah apung itu, terlihat pula beberapa anak sedang mandi di bawah lantai rumahnya. Melompat, berenang sebentar, lalu naik lagi ke atas lantai papan rumahnya yang bergoyang.

Rumah-rumah rakit itu, berjarak tak berapa jauh antara satu sama lainnya. Dengan jangkar dan tali tertambat di tepi sungai, jadilah rumah-rumah itu terapung-apung mengikuti aliran sungai dan kencangnya tiupan angin.

“Kalau anginnya ke depan (hilir), rumah kami ikut ke depan. Kalau anginnya ke belakang (mudik), rumah kami ke belakang,” ungkap Ahmad (45), seorang pemilik rumah rakit yang mengaku sudah 16 tahun berdomisili di sana.

Dari penuturan Ahmad, diketahui bahwa tempo dulu, sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, rumah-rumah rakit masih banyak di tepian Sungai Batanghari. Khususnya di wilayah Seberang Kota Jambi. Jumlah penghuni waktu itu sampai mencapai 200 KK.

Namun, seiring perkembangan zaman, dan tingkat perekonomian pemilik rumah rakit, tahun 1980 sudah banyak penghuni lama yang hijrah ke atas alias ke daratan tepi sungai.

“Yang tinggal di sini ya yang belum punya duit,” ujar pria perajin kapal speed boat ini, dengan nada pelan.

Suka duka sejak tinggal di rumah rakit, pria asal Sumatera Selatan ini mengaku cukup banyak yang sudah dialaminya. Misalnya, rumah miliknya pernah diterjang angin puting beliung. Sehingga, sebagian atap terbang ke mana-mana.

Parahnya, beberapa rumah tetangganya, ketika itu banyak yang rusak parah. Sampai-sampai hanya tersisa puing-puing saja. “Kejadiannya belum lama ini lah,” beber ayah 4 anak ini, lagi.

Meski diterpa bencana seperti itu, Ahmad dan kawan-kawan tetap bersikukuh tinggal di rumah rakit milik mereka. Alasannya, ekonomi. “Daripada menyewa, lebih baik tinggal di gubuk ini,” tuturnya.

Soal bantuan, Ahmad mengaku sampai kini belum ada perhatian dari pemerintah daerah. Padahal, kehidupan mereka bisa dikatakan di bawah garis kemiskinan.

Untuk hidup sehari-hari, fasilitas rumah mereka jauh dari sebutan cukup. Bayangkan, di saat hampir seluruh kota diterangi lampu-lampu beragam jenis, penghuni rumah rakit masih hidup di dalam kegelapan. Kalaupun ada penerangan, paling mereka mengandalkan lampu tradisional seperti lampu strong king alias petromaks.

Tak hanya itu, guna mencukupi kebutuhan air bersih, rata-rata warga rumah rakit mengandalkan bantuan keluarga atau kenalannya yang berada di “darat”. “Kami minta sama keluarga yang di darat. Air ledeng. Kalau untuk mandi ya cukup di sini saja,” beber Ahmad.(*)

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 4, 2009 in News Terkini

 

Tag: , , , , , ,

5 responses to “Ahmad, Penghuni Rumah Rakit di Tepian Sungai Batanghari

  1. koranindependen

    Februari 4, 2009 at 2:51 pm

    Rumah rakit di daerah saya Kalimantan Selatan disebut “Lanting.”
    Keberadaannya masih ada. Yang banyak adalah semacam kios terapung, dan tempat pemandian, cuci serta kakus.
    Coba sekali waktu jalan2 ke kota Banjarmasin, disana ada “Pasar Terapung” seperti salah satu preview di RCTI.

     
  2. monasjunior

    Februari 5, 2009 at 6:10 am

    Lanting yah? Pasar terapung juga asik kedengarannya. Andai bisa berkesempatan ke sana. Kalau ada waktu dan kesempatan, bisa jadi guide khusus kan boss….? Tq

     
  3. koranindependen

    Februari 5, 2009 at 8:44 am

    Insya Allah, boleh juga belajar jadi guide…

     
  4. Agus S Sadana

    Maret 11, 2010 at 7:22 am

    bermaksud menanyakan rumah rakit terlihat dalam blog ini lokasinya di mana?
    dan apakah masih ada?
    terima kasih

     
    • monasjunior

      April 15, 2010 at 3:01 pm

      Masih Pak/mas, di Sebrang Kota Jambi. Dari Ancol Jambi di depan rumah dinas gubernur, bisa minta antar sama tukang Ketek (perahu tradisional di Jambi) untuk ke lokasi rumah itu.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: