RSS

Diduga, Panti Pijat Salahgunakan Izin

09 Feb

Salah Satu Panti Pijat di Kota Jambi

20 Beroperasi,
2 Izin Kedaluwarsa

Alpadli M-Deddy R, Kota Jambi

Sejak terjaringnya anggota DPRD Kota Jambi Zul Hamli Al Hamidi oleh tim gabungan Satpol PP Kota Jambi di sebuah panti pijat beberapa hari lalu, panti pijat kembali mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Usaha itu ditengarai banyak menyalahgunakan izin yang dikeluarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi.


Selama ini Pemkot Jambi mengeluarkan izin bagi usaha panti pijat dengan jenis “usaha rekreasi”. Dari penelusuran koran ini di beberapa panti pijat, misalnya di kawasan Pasar, sekitar Hotel Novotel, dan kawasan Simpang Kawat, rata-rata izin yang dikeluarkan bagi usaha itu sekitar tahun 2006.

Peruntukan izin usaha panti pijat jelas, yakni penyediaan jasa bagi konsumen yang ingin relaksasi tubuh dengan terapi pijat. Praktiknya tidak jelas. Banyak panti pijat yang menjalankan usaha seks komersial terselubung.

Indikasi itu terlihat dengan maraknya panti pijat yang mempekerjakan wanita sebagai juru pijat. Malah wanita yang dipekerjakan tergolong muda dan punya tampang menarik.

Bahkan di beberapa panti pijat, juru pijat wanita itu dibagi ke dalam dua golongan, yang berpengalaman memijat dan yang belum. Nah, lalu buat apa yang belum berpengalaman dipekerjakan?

“Pokoknya pilih sajalah, mau yang mana,” ungkap kasir sebuah panti pijat di kawasan Hotel Novotel Jambi, seraya menunjukkan foto-foto juru pijat wanita yang terpajang di atas meja kasir, kemarin (8/2).

Meski mengaku punya izin, usaha panti pijat tak menutupi ada layanan khusus yang diberikan juru pijat mereka. “Kalau yang ‘itu’, tergantung tukang pijitnya,” jelas kasir yang belakangan diketahui beranam Romi itu seraya tersenyum.

Dari pantauan koran ini, rata-rata usaha panti pijat memulai aktivitasnya sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Batas menerima tamu adalah pukul 24.00 WIB. “Setelah itu mau sampai pagi juga boleh,” tandasnya, lagi-lagi dengan senyum manis.

Satpol PP Inventarisasi Izin Panti Pijat

Sejumlah panti pijat di kota Jambi ditengarai bermasalah dalam hal perizinan. Ada tiga kategori, tidak memiliki izin alias ilegal, memiliki izin tapi tidak lengkap, dan pernah memiliki izin tapi mati. Bahkan diduga ada panti pijat yang meski mengantongi izin, menyalahgunakannya alias dibumbui bisnis esek-esek.

Kepala Kantor Satpol PP Kota Jambi Atma Jaya menerangkan serangkaian razia yang mereka gelar beberapa hari terakhir. Salah satunya untuk menginvetarisasi hal itu. “Selain untuk merazia PNS ataupun pelajar di saat jam dinas atau jam sekolah,” kata pria yang pernah menjadi camat Jelutung tersebut kemarin (8/2).

Hasilnya, razia yang digelar bersama Poltabes itu mendapati panti pijat bermasalah. “Yang kita dapat ada dua panti yang izinnya mati selama dua tahun. Selain itu ada panti yang izinnya tidak lengkap,” beber Atma. Izin yang tak lengkap itu merupakan izin operasional yang dikeluarkan Bagian Perekonomian Setda Kota.

Sayang Kepala Bagian Perekonomian Damiri belum berhasil dikonfirmasi. Namun belum lama ini ia mengungkapkan bahwa banyak pelaku usaha yang sudah habis izin berlakunya tetapi belum memperpanjang atau meregistrasi ulang. Mantan Kepala Dinas Pertanian Muarojambi itu juga tak menyebut jumlah dan jenis izin usaha dimaksud.

Mendapati temuannya, Atma Jaya mengatakan, tidak menutup kemungkinan hal yang sama bakal ditemui di panti pijat lain. Ia sendiri mengaku Satpol PP belum memiliki data valid jumlah panti pijat di Kota Jambi. “Makanya kita data perizinannya,” katanya.

Data yang didapat koran ini dari Bagian Perekonomian semasa dikepalai Rosmansyah, sedikitnya ada 20 panti pijat hingga November 2008.  Dari jumlah itu, beberapa di antaranya disebut Atma bermasalah dalam hal perizinan.(*)

Usman: Kurang Pengawasan

Menyikapi penyalahgunaan izin usaha panti pijat di Kota Jambi, dosen sosiologi hukum Universitas Jambi Usman menilai tak lepas dari kurangnya pengawasan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi.

Menurutnya, selama ini Pemkot sering mengeluarkan izin tanpa proses lanjutan yang tak kalah perlu dibanding sekadar pengurusan izin, misalnya langkah-langkah evaluasi dan monitoring alias pengawasan.

Setelah izin diurus oleh pengusaha panti pijat, semestinya ada proses evaluasi yang dilakukan Pemkot, misalnya setahun sekali. Dasar evaluasi izin itu yakni dengan hasil pengawasan yang dilakukan selama usaha itu beroperasi, misalnya pengawasan dilakukan per minggu, per bulan, atau per tahun.

Jika hasil pengawasan didapat fakta bahwa pengusaha panti pijat melakukan pelanggaran, dalam hal ini pelanggaran perizinan, Pemkot bisa melakukan tindakan tegas. Salah satunya mencabut izin usaha tersebut.

Pelanggaran perizinan dimaksud yakni jasa yang disediakan pengusaha bersangkutan melebihi izin yang dikeluarkan. “Misalnya dikasih izin untuk jasa A, tapi praktiknya malah memberi jasa B. Ya otomatis ada penyalahgunaan izin,” ujar Usman, kemarin (8/2).

Dari pengamatan yang dia lakukan selama ini, ada beberapa panti pijat yang menyalahgunakan izin, contohnya menyediakan jasa pijat plus-plus. Itu membuat pandangan masyarakat selama ini jadi negatif terhadap keberadaan panti pijat.

Padahal panti pijat, katanya, sama saja dengan usaha bisnis yang lain. Pelayanan utamanya adalah jasa pijat. Tentu fasilitas yang diberikan berupa pijatan bagi pelanggan, bukan fasilitas lain semisal seks komersial.

Kondisi itu diperparah dengan maraknya panti pijat yang mempekerjakan wanita sebagai tukang pijat. Tak hanya wanita tua, wanita muda sering dipekerjakan di usaha jenis itu, sehingga persepsi negatif panti pijat melekat di pandangan masyarakat.

“Stereotipe (anggapan, red) terhadap panti pijat, masyarakat berpandangan negatif. Itu yang harus dicermati pemerintah,” jelasnya.

Menurutnya, supaya pandangan negatif masyarakat sirna, harus ada langkah tegas dari pemerintah melalui instansi terkait. Tentu saja dengan cara melakukan pengawasan berkala terhadap usaha panti pijat yang beroperasi di Kota Jambi.

“Dengan adanya pengawasan ketat, setidaknya pemerintah bisa mengurangi praktik penyalahgunaan izin usaha panti pijat, sehingga panti pijat fungsinya tetap sebagai panti pijat. Dan masyarakat jadi percaya terhadap keberadaan usaha jasa itu,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah tak bisa hanya mengandalkan razia. Pemerintah juga perlu mendengar dan menerima masukan dari masyarakat, termasuk kalangan pers, terhadap praktik usaha jenis itu. “Supaya izin kita tidak disalahgunakan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Kantor Satpol PP Kota Jambi Atma Jaya membenarkan indikasi adanya panti pijat yang memberikan layanan esek-esek. Bahkan dia mengatakan, tidak menutup kemungkinan sejumlah panti pijat menyalahi izin operasional yang diberikan.

Meski belum menangkap basah dugaan itu, apa tindakan Satpot PP bila mendapati penyalahgunaan izin? “Kita tidak main-main. Kita akan tindak tegas karena tidak sesuai dengan izin operasionalnya,” imbuhnya. Tindakan bisa berupa pencabutan izin atau penutupan kegiatan usaha.

Disinggung soal pengawasan, meski tak merinci lebih detail, ia hanya memastikan bahwa satpol PP akan terus melakukan razia dan pemantauan. Karena itu ia mengharapkan dukungan dan laporan dari masyarakat. “Yang jelas kita ingin tertib izin dan tertib operasional,” kata pria yang sebelumnya nonjob tersebut. Menurut Atma, panti pijat di Kota Jambi lebih banyak di Kecamatan Jambi Timur.(*)

Aktivitas Panti-panti Pijat Setelah Terjaringnya Oknum Anggota DPRD Kota
Masih Beroperasi, Pengunjung Makin Ramai

Usaha panti pijat di Kota Jambi, setelah terjaringnya seorang anggota DPRD Kota Jambi, tak terlalu terpengaruh. Beberapa panti pijat masih beraktivitas. Malah pengunjungnya kian ramai. Benarkah panti pijat hanya menyediakan layanan pijat saja? Adakah layanan lain yang disediakan? Berikut penelusuran Tim Jambi Independent di beberapa panti pijat, Minggu (8/2).

——-

Meski nama panti pijat kembali naik daun setelah tertangkapnya seorang oknum anggota DPRD Kota Jambi, beberapa waktu lalu, tak membawa pengaruh besar pada usaha itu.

Minggu (8/2) sekitar pukul 13.00 WIB, panti pijat di kawasan Hotel Novotel Pasarjambi dan Simpang Kawat masih beroperasi seperti biasa. Layanan yang ditawarkan hampir sama di masing-masing tempat, yakni pijat dengan juru pijat wanita nan seksi dan menggoda. Menariknya, di kasir, pengunjung diminta memilih foto wanita yang katanya tak lain tukang pijat. Saat disambangi koran ini, di KM, salah satu panti pijat di kawasan Novotel, foto sepuluh wanita terpajang di atas meja kasir.

Sepuluh foto itu dipajang tiga baris. Baris pertama dan kedua memajang wanita-wanita muda cantik berdandan seksi dengan pose menantang. Baris ketiga wanita usia takaran 30 ke atas dengan wajah tak terlalu menarik. Cuma, dari pengakuan kasir, yang lihai memijat adalah wanita dalam foto barisan ketiga.

“Kalau yang profesional di baris atas. Kalau yang biasa di (baris) bawah,” jelas kasir KM yang belakangan diketahui bernama Romi dengan santai.
Siang kemarin KM masih terlihat sepi. Di ruang lobi hanya terlihat empat penghuni. Dua pria di kasir dan dua wanita sedang duduk di meja tamu.

“Kalau di sini jarang dirazia. Tempat lain sering,” ungkap Yanti (23). Ketika ditemui, dia mengenakan kaos oblong putih, jaket jins biru, dan celana pendek ketat.

Lalu berapa tarif sekali pijat di KM? Bervariasi. Lantai 1 dengan fasilitas kipas angin dan sebotol air mineral, per jam hanya Rp 40 ribu. Lantai dua AC plus air mineral Rp 50 ribu. Dan lantai tiga AC plus air mineral plus televisi Rp 75 ribu.

Tarif untuk wanita pemijat pun bervariasi. Tergantung cara pemakaian. Kira-kira begitu gambarannya. Jika hanya memijat, paling pelanggan bisa memberi uang tip seadanya. Nah, kalau ambil layanan plus, misal lebih dari sekadar pijat, berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

Ditanya bisa atau tidak melayani “lebih dari sekadar pijat”, Sofie (30), seorang pemijat, mengaku tergantung situasi. Jika terpaksa, dia mau juga. Besaran tarifnya tergantung pelanggan. “Saya bukan dagang itu. Jadi ya terserah tamu (pengunjung, red),” ungkap Sofie, yang mengaku asal Jakarta, santai.

Yanti (23), pemijat lain di KM, mengaku mau jika diminta tamu melayani jasa ekstra. Tapi Yanti ini mematok harga. Kalau mau, katanya, Rp 200 ribu.

Menariknya, Yanti dan Sofie terang-terangan memberi pilihan lain bagi tamunya. Jika tamu tak mau jasa ekstra layaknya hubungan suami-istri, mereka bersedia memberi layanan sex with hand alias seks pakai tangan. Untuk mendapat jasa itu, tamu cukup memberi mereka tip sekitar Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu.

Selama sesi pemijatan, baik pemijat maupun tamu diperbolehkan berbincang-bincang sambil merokok. Tapi asal tidak lewat dari waktu yang sudah dipesan di kasir. Jika lewat, petugas akan mengingatkan tamu, mau tambah atau cukup. Jika tambah, biayanya disesuaikan.

Usai pijat, baru pelanggan disodori biaya yang dikeluarkan. Rata-rata sekali pijat pelanggan juga harus membayari minum plus rokok tukang pijat yang dipakai.

Biaya yang keluar sekali pijat contohnya 1 bungkus rokok Rp 15.000, 1 botol Frestea Rp 6.000, 1 botol air mineral AQ8 Rp 6.000, dan 1 jam layanan lantai 2 Rp 50.000, ditambah tip bagi pemijat Rp 20 ribu. Total biaya yang harus dibayar di kasir senilai Rp 97 ribu. Biaya itu belum termasuk layanan plus yang berkisar Rp 100 hingga Rp 200 ribu.

“Biasanya kalau habis razia, pengunjung makin banyak. Mungkin merasa aman. Kan sudah razia,” tambah Sofie.

Lain lagi di Sehat Bersih, jasa panti pijat di Jalan M Yamin SH, yang sempat dihebohkan gara-gara anggota Dewan Kota terjaring razia Satpol PP plus Poltabes itu. Di sana hanya diberlakukan satu tarif: Rp 50 ribu per sejam pijatan.

Prosedurnya hampir sama dengan di KM, yakni pengunjung disodori foto-foto juru pijat. Setelah memilih satu dari 14 orang itu, pengunjung harus menentukan berapa jam layanan yang dipakai. Usai itu pengunjung diantar petugas ke kamar yang sudah disiapkan.

Kamar-kamar yang dimaksud berupa bilik berdinding triplek tipis, ukuran sekitar 1,5×3 meter. Berjejer sekitar 4-5 bilik, pengunjung boleh memilih bilik mana yang masih kosong.

Setelah duduk, menunggu tukang pijat, dan pesanan minuman, pengunjung diminta melepas baju. Tukang pijat datang, pesanan datang, sesi pemijatan pun berlangsung.(*)

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 9, 2009 in News Terkini

 

Tag: , , , , , , , ,

4 responses to “Diduga, Panti Pijat Salahgunakan Izin

  1. novi

    Januari 20, 2010 at 9:18 am

    benarkah itu ???????????????????????????
    or only lie…………

     
  2. roy prabu

    Maret 27, 2010 at 2:36 am

    wah kayak nya jambi udAH sama kyk di jakarta ngeriiiiiiiiiiiiiiii……………..

     
  3. rio

    November 13, 2012 at 4:10 am

    jambi lebih parah

     
  4. sugeng

    Juli 23, 2013 at 10:10 am

    sauna melati jambi juga terkenal plus plusnya….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: