RSS

Impian Pasar Tradisional nan Modern

13 Feb
Maket Pembangunan Angsoduo

Maket Pembangunan Angsoduo

Relokasi Angsoduo Tak
Rampung-Rampung

Deddy Rachmawan-Alpadli Monas,
Kota Jambi

Sejumlah ibu-ibu tua-muda, tampak sibuk memilih aneka belanjaan kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional modern. Bertahun-tahun sejak 2004. Bahkan, di antara mereka ada yang berbelanja menggunakan pakaian layaknya bertamu. Rapi.

Selain rapi, ibu-ibu itu tampak bersih. Tidak ada lumpur menghiasi alas kaki akibat genangan air di pasar. Bahkan tidak ada lagi pembeli yang terlihat mengenakan sepatu bot. Sebaliknya, lantai pasar yang terbuat dari keramik itu terlihat mengkilap.

Kios-kios pedagang ditata sedemikian rupa. Diploting berdasarkan jenis dagangan. Aneka sayur dikelompokkan sendiri. Begitupun aneka jenis ikan, daging, semua ditata dengan rapi. Dari luar, bangunan pasar tampak megah layaknya sebuah mall.

Tak ada lagi kemacetan di muka mall “tradisional” itu. Aktivitas di Jalan Sultan Taha, Kelurahan Orang Kayo Hitam, Pasar Jambi, dari pagi hingga ke pagi lagi, berjalan normal. Parkir tertata rapi. Kubangan lumpur dan onggokan sampah tak lagi menghiasi. Pasar Angsoduo telah berubah.

Pasar yang dari dulu menghasilkan berbagai masalah itu, sudah berubah lebih baik. Maju dan modern. Cita-cita pemerintah Kota dan Pemerintah Provinsi Jambi, menyulap Pasar Angsoduo ke arah pasar tradisional yang modern, berbuah sukses.

Sayangnya, itu masih mimpi. Alias, belum terealisasi.

Suasana yang digambarkan Jambi Independent di atas, diambil dari gambar rencana pembangunan Pasar Angsoduo hasil relokasi. Gambar itu terpajang elok di kantor Wali Kota Jambi, beberapa waktu lalu. Disebut-sebut, rencana pembangunan Pasar Angsoduo hasil relokasi itu, meniru pasar Tanah Abang di Jakarta.

Gagasan relokasi Angsoduo yang disampaikan gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, yang disambut Wali Kota Arifien Manap, pada 2004 itu, belum juga berjalan. Meski lahan sudah disiapkan (di samping Pasar Angsoduo sekarang), dan ditimbun, relokasi Angsoduo terganjal masalah lain.

Dalam dokumen Jambi Independent, pada masa kepemimpinan Wali Kota Jambi Arifien Manap, ada tarik ulur kepentingan yang mencuat ke permukaan. Sampai-sampai, penimbunan Pasar Angsoduo yang dilakukan Pemerintah Kota, sempat dihentikan pada akhir tahun 2004.

Penimbunan dilanjutkan Pemerintah Provinsi Jambi. Dengan berbagai alasan, proyek bernilai belasan miliar rupiah itu, dilanjutkan hingga bertahun-tahun kemudian. Tahun 2007, kegiatan itu sama sekali dihentikan. 2008, tidak ada lagi penganggaran penimbunan lahan relokasi Pasar Angsoduo.

Di akhir 2007, lagi-lagi muncul masalah baru. Gubernur Jambi, selaku pemilik lahan yang sudah ditimbun bagi relokasi Angsoduo itu, menolak memberikan tanah beharga itu ke tangan Wali Kota. Baik Bang Zul maupun Arifien, sama-sama ngotot. Tapi tak berujung. Sampai akhirnya Arifien turun dari jabatannya sebagai Wali Kota Jambi, masalah kepemilikan lahan itu terus berlanjut.

Nasib baik bagi Pasar Angsoduo. Sejak Wali Kota Bambang Priyanto duduk sebagai orang nomor 1 di Kota Jambi, rencana ini kembali menampakkan jalan terang. Bahkan, terakhir Bambang meminta kesediaan gubernur Zulkifli Nurdin, untuk menghibahkan atau meminjamkan lahan itu bagi kelanjutan relokasi Pasar Angsoduo. Hasilnya memuaskan.(*)

Terpaksa Pakai Sepatu Bot

Zul (50) sesaat menatap ke arah kakinya. Penarik gerobak itu usai belanja beberapa butir timun di Pasar Angsoduo, kemarin (12/2) pagi. Sepatu bot warna hijau membungkus kakinya.

Sepatu bot Zul terlihat kotor. Penuh tanah. Bercak-bercak tanah menempel di celana panjangnya yang tampak kumal. “Di sini becek tiap kali habis hujan,” ungkap Zul, masih mejinjing kantung plastik berisi timun.

Menurutnya, pasca hujan, hampir semua wilayah Pasar Angsoduo digenangi air. Terparah di bagian belakang arah tepian Sungai Batanghari. Tak ada pilihan lain bagi pengunjung kecuali bersepatu bot, guna menyusuri petak-petak pasar tradisional yang kian kumuh itu.

Rata-rata pengunjung maupun pedagang di pasar itu setia mengenakan sepatu bot. Hilir-mudik, belasan bahkan puluhan orang tampak berjalan tertatih-taih, dengan sepatu bot yang tapaknya berat ditempeli tanah.

Dari pengakuan Rudi (24), pedagang sepatu bot di Pasar Rombeng, jarak sekitar 50 meter dari Angsoduo, permintaan sepatu bot cukup tinggi. Apalagi disaat habis hujan, rata-rata ada saja yang membeli sepatu bot di tokonya.

Tapi, sejak beberapa bulan terakhir, permintaan sepatu bot yang dihargai Rp 50 ribu per pasang itu, kembali turun. “Mungkin karena krisis global,” jelas Rudi, pria bermata sipit ini, santai.

Dari pantauan Jambi Independent, Angsoduo memang terlihat becek. Air menggenangi sebagian besar permukaan pasar tua ini. Sistem drainase (pengeringan) yang gagal, acapkali dijadikan alasan sebagai penyebabnya.

Pada bagian belakang, saking parahnya jalan, tak hanya pejalan kaki yang enggan melaluinya, bahkan kendaraan roda empat pun enggan lewat. Permukaan jalan di Angsoduo persis jalan logging di komplek transmigrasi. Tak beraspal, lubang di mana-mana.

Setelah akses jalan yang sulit, digenangi air, Angsoduo ternyata masih menyimpan masalah lain. Yakni kebersihan.

Pasar yang terselip di antara bangunan-bangunan mewah ini, menampakkan wajah kumuh. Kotor, sampah berserak di mana-mana. Mulai sampah plastik, sampai sampah bekas dagangan yang tercecer di permukaan jalan.

Selain itu, wajah Angsoduo kian parah akibat kesemrawutan lalu lintas yang berada di hadapannya. Pada jam-jam sibuk, yakni sekitar pukul 19.00 WIB, 12.00 WIB, 14.00 WIB dan 15.00 WIB, jalan Sultan Thaha Kelurahan Orang Kayo Hitam Pasar Jambi, yang melalui Angsoduo, macet total.

Kendaraan terpaksa jalan merangkak. “Kadang sampai dak jalan sama sekali,” ungkap Meri (27), seorang wanita di tempat parkir.

Soal parkir pun masih semrawut. Bahu jalan di jalur ke Angsoduo kini dipenuhi areal parkir dadakan. Pengunjung yang berniat berbelanja, terpaksa memarkir kendaraanya di daerah terdekat. Misalnya di bahu-bahu jalan seberang Pasar Angsoduo itu.

“Kita setuju kalau Angsoduo dipindahkan. Di sini sudah tidak layak lagi,” tambah Zul, penarik gerobak.

Meski begitu, Zul mengaku tidak tahu soal rencana pembangunan pasar Angsoduo. Yang dia tahu, ada informasi soal pemindahan pasar itu, tapi tidak tahu ke mana dan kapan dibangun.(nas)

Diduga Sarat Kepentingan

Arman Syafaat, Anggota DPRD Kota yang sudah dua periode menjabat, mau buka suara. Dijelaskannya, dulu, tanah Pasar Angsoudo adalah milik PT Pelindo. Kemudian diserahkan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi.

Menyadari semrawutnya pasar tradisional terbesar di kota Jambi itu, kata Arman, pada  tahun 2000-an muncul pemikiran dari Gubernur Zulkilfi Nurdin untuk merelokasi pasar yang kini dikelola Kantor Pengelola Pasar kota Jambi tersebut.

Gayung bersambut, Arifien Manap yang ketika itu menjabat Wali Kota Jambi memiliki keinginan yang sama. Maka, pada 2004 keluarlah SK Gubernur Jambi nomor 593/5216/BP tertanggal 24 November 2004. Isinya, Pemprov menyerahkan pengelolaan Pasar Angsoduo yang baru kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi.

Bahkan, DPRD Provinsi pun menelurkan surat keputusan bernomor 6 tahun 2004. Isinya, “Pemanfaatan tanah di Kelurahan Legok seluas 93.166 meter per segi untuk relokasi Pasar Angsoduo. Dan, tanah di Kelurahan Kasang seluas 11,942 meter per segi untuk tempat rekreasi masyarakat Jambi. Pengelolaan keduanya diserahkan ke Pemkot.”

Setelah surat-surat itu keluar, dimulailah penimbunan tanah yang akan dijadikan tempat relokasi Pasar Angsoduo tersebut. Bahkan Pemprov dan Pemkot sama-sama menggelontorkan dana dari APBD untuk penimbunan.

Tahun 2005 penimbunan dilakukan oleh Pemkot. “Anggarannya Rp 4 miliar,” kata Arman, tak ingat dianggarkan dari APBD tahun berapa.
Selanjutnya, menurut orang dalam di Sekretariat Wali Kota Jambi, penimbunan dilanjutkan oleh Pemprov. Dua tahun berturut-turut. Yakni, tahun 2006 hingga 2007. Tahun 2008, proyek ini berhenti total. Alokasi dana tak lagi dianggarkan di APBD. Catatan koran ini, untuk proses penimbunan, Pemprov dan Pemkot sudah menghabiskan dana sekitar Rp 17 miliar.

Kenapa penimbunan bisa terhenti? Seperti diberitakan koran ini, Gubernur Zulkifli Nurdin pada waktu itu, sekitar tahun 2007, menolak dengan tegas penyerahan tanah untuk relokasi Angsoduo kepada Pemkot.

Pemkot tak terima. Guna mengambil alih penanganan proyek itu kembali, pada akhir 2007 Arifien mengirim surat kepada  Gubernur Jambi. Surat bernomor 593/1153/HKU, tanggal 28 Desember 2007 itu, ditembuskan ke DPRD Provinsi dan DPRD Kota Jambi. Isinya, permohonan penyerahan lahan relokasi Angsoduo.

Arifien Manap kala itu mengatakan, setelah disetujui DPRD, penyerahan harus di-SK-kan oleh Gubernur. Sayang, Arifien, sebagai sosok kunci persoalan relokasi Pasar Angsoduo ini, ketika kemarin didatang Jambi Independent di kediaman pribadinya, tak ada di tempat.

Padahal, Pemkot sudah memilik investor yang bakal membangun Pasar Angsoduo yang baru. Belakangan, buntut tak kunjung diserahkannya tanah itu ke pemkot, investor urung melanjutkan kerjasama dengan Pemkot. “Mana investor mau membangun di tanah yang bukan milik kita,” ujar Arifien, kepada koran ini, ketika itu.

Waktu berlalu, proyek yang pernah disebut Arifien sebagai pekerjaan rumah (PR) kandas di tengah jalan. Alih-alih pembangunan terwujud, Arifien lebih dulu meletakan jabatan Wali Kota pada 4 November tahun lalu.

PR lain Arifien yang kini sudah tampak hasilnya, yakni pembangunan Rumah Sakit H Abdul Manap alias Rumah Sakit Kota. Gagasan pembangunan RS Kota ini, bersamaan dengan gagasan pembangunan Pasar Angsoduo yang modern itu.

Yang menarik jadi catatan, jika pada awalnya gubernur Zulkifli Nurdin sempat ngotot menahan tanah relokasi, pasca pelantikan Bambang Priyanto-Sum Indra sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota, ZN berubah pikiran. Dengan ringannya, gubernur menyerahkan tanah itu ke Pemkot. Masalah kepemilikan lahan relokasi Angsoduo, tuntas sudah. Berkat tangan Bambang dan Sum Indra (ponakan ZN).

Tanah relokasi Sudah Dihibahkan

Diam-diam, rupanya Pemprov Jambi telah menghibahkan tanah relokasi Angsoduo kepada Pemkot Jambi. Wali Kota Jambi Bambang Priyanto, kemarin (12/2), membeberkan hal itu. Ditanya Jambi Independent usai melantik pejabat eselon IV, Bambang mengaku ia sudah menerima surat hibah itu.

“Sudah, baru saja kita terima surat dari Provinsi. Jadi baru dihibahkan,” kata Bambang. Dikejar, wali kota yang diusung PAN ini menegaskan, saat ini tanah relokasi tersebut sudah menjadi aset Pemkot. “Ya sudah aset pemkot,” katanya sesaat, sebelum masuk ruangannya.

Disinggung soal pembangunan, Wali Kota yang juga dokter ini belum bisa memastikannya. Ia hanya menyatakan, pembangunan akan melibatkan investor. Bambang sempat juga menyinggung Angsoduo di masa datang. Apa yang ia sampaikan, persis seperti yang dicita-citakan pendahulunya, Arifien Manap.

“Intinya pasar Angsoduo itu adalah pasar yang siap saji, karena kita ada pasar induk di Jalan Lingkar,” tambahnya. Pasar induk yang berdampingan dengan terminal truk itulah  yang akan dijadikan sentra arus barang dari daerah lain. Di sana, kata Bambang, ayam akan dikuliti, bawang akan dikupas.

“Sehingga ketika masuk pasar angsoduo sudah bersih,” ulasnya.

Bambang sendiri mengaku prihatin dengan kondisi Angsoduo saat ini. Ia mengeluhkan kotornya Angsoduo. “Setelah kita cek ada sampah yang mungkin puluhan tahun tak diangkut. Sehingga  kita turunkan eksavator untuk membersihkan gotnya,” terang Bambang yang langsung memanggil Yan Ismar, Kakan Pengelola Pasar Angsoduo.(dra)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2009 in News Terkini

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: