RSS

Kajanglako Art Center, Wadah Kebudayaan Jambi yang Nyaris Terlupakan

15 Feb
Kantor Kajang Lako Art Center Jambi

Kantor Kajang Lako Art Center Jambi

Mulai Berdiri 1992, Jaya 2000

Siapa yang tak kenal lembaga kebudayaan Jambi Kajanglako Art Center (KAC)? Dulu, semasa jayanya, KAC di bawah arahan Lili Abdurahman Sayuti sempat mengharumkan nama Jambi sampai ke luar negeri. Berikut kisah perjalanan awal Kajanglako hingga titik jayanya.

Alpadli Monas, Kota Jambi

Suatu hari di bulan April 1998 digelar pertemuan serius di sebuah gedung eks milik Pemerintah Provinsi Jambi di Jalan Jenderal MT Haryono No 4, Telanaipura, Jambi. Lebih dari empat orang penting hadir di gedung itu.


Mereka antara lain Lili Abdurahman Sayuti (penyanyi), Tom Ibnur (koreografer), Erwin Arifin (musisi), dan Endang SH (pemahat). Disaksikan beberapa pendukung lain, Kajanglako dicetuskan. Tak berapa lama, lahirlah Pusat Bina Olah Seni Kajanglako Jambi (PBOSKJ). Setahun kemudian berganti nama Kajanglako Art Center (KAC).

Kajanglako diambil dari istilah perahu tradisional Jambi. Perahu itu biasa dinaiki petinggi-petinggi Kerajaan Melayu Jambi. Bahkan kini pola bentuk perahu kajanglako diambil untuk pilar-pilar di atas rumah adat Jambi.

Embrio KAC lahir sejak puluhan tahun lalu. Lewat tangan-tangan pribadi pendiri, KAC mulai digagas. Bahkan penelitian tentang kebudayaan asli Jambi sudah dimulai sepuluh tahun menjelang kelahiran KAC.

Sementara Yayasan Bina Lestari Budaya Jambi (YBLBJ) lebih dulu dibentuk. Pada 10 November 1992, yayasan itu didirikan langsung oleh Lili Abdurahman Sayuti, istri gubernur Jambi masa itu, Abdurahman Sayuti.

Abdurahman Sayuti langsung bertindak sebagai ketua Yayasan, Lili sebagai wakil, dan Hasan Kasyim (kini staf ahli di Setda Provinsi) sekretaris. YBLBJ lebih dulu berkibar.

Lewat sentuhan seni dari Lili, sang artis kaliber internasional, YBLBJ sukses mengikuti berbagai event-event kesenian, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mulai dari Jambi Art Festival di London (1992) sampai Pekan Seni Ipoh III di Ipoh, Malaysia (1998).

Berbekal pengalaman itu, YBLBJ bertekad meneruskan perjuangannya di jalur seni dengan mendirikan KAC. Didukung penuh gubernur Jambi pada masa itu, KAC berdiri tegap.

KAC yang pada 1992 dipimpin Direktur Eksekutif Tom Ibnur berusaha menjadi wadah bagi kebudayaan dan kesenian tradisional Jambi. Berbagai konsep dibuat. Berbagai langkah disusun.

Dengan semangat melestarikan dan mengangkat budaya lokal Jambi, KAC menyusun gerakan. Ke daerah-daerah pelosok kabupaten, tim KAC berusaha membentuk sentra-sentra kesenian daerah. Menemukan akar-akar kebudayaan yang mulai terlupakan. Mulai dari musik, tari, sampai kerajinan tangan. Atau kegiatan kebudayaan masyarakat lain.

Langkah awal itu mendapat sambutan positif dari daerah. Sayang, tujuan pembentukan sentra-sentra kesenian daerah belum tercapai optimal. KAC berhasil ikut menggalakkan kegiatan kebudayaan lokal, semisal arakan sahur setiap bulan suci Ramadan di Tanjab (kini Tanjab Barat).

“Setelah kami amati, potensi Jambi cukup besar di bidang kebudayaan,” ungkap Erwin Arifin yang kini menjabat direktur eksekutif KAC, ditemui di rumahnya, Jalan Belido 2 No 27, RT 32, Perumahan Bumi Paal Merah Indah, Lingkar Selatan, kemarin (12/2).

Dengan program utama revitalisasi seni, KAC mendapat simpati masyarakat. Berbagai kegiatan digagas, berlangsung, lalu sukses. Dukungan mulai mengalir ke KAC. Bahkan masa itu KAC mendapat bantuan langsung dari Pemerintah Provinsi senilai Rp 100 juta atau Rp 350 juta jika disesuaikan dengan masa kini.

Kiprah KAC kian giat. Lokal, nasional, sampai internasional. Sebagian kalangan sudah mengenal KAC sebagai lembaga kebudayaan seni Jambi yang berhasil.

Beberapa kegiatan yang sukses dihelat KAC antara lain Pekan Seni Pertunjukan Tradisional Jambi (1999) dan Jambi Art Festival (2000). Di bawah binaan yayasan milik Lili Abdurahman Sayuti, KAC terus dikenang hingga akhir tahun 2002, ketika sinar terang KAC mulai redup.(*)

Kajanglako Art Center, Wadah Kebudayaan Jambi yang Nyaris Terlupakan (2)

Masa Keemasan, Perkenalkan Zapin ke Luar Negeri

Setelah berdiri pada 1998, Kajanglako Art Center (KAC) memasuki masa keemasannya pada 1999. Sejak itu nama KAC bergaung di mana-mana. Dari Indonesia hingga mancanegara. Lewat penampilan seni tradisi, KAC mengajak negara luar belajar banyak tentang Jambi. Tak sengaja Jambi ikut tenar setenar KAC pada masa itu. Seperti apa masa keemasan KAC?

Alpadli Monas, Kota Jambi

Satu hari di tahun 1999, Gedung Olah Seni (GOS) Kotabaru Jambi dipenuhi pengunjung. Suara musik berdentang-dentang. Riuh redam. Suara tepuk tangan pengunjung bergemuruh. Semua yang ada di dalam ruangan itu antusias menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional Jambi yang dihelat KAC.

Tari tradisional utusan kabupaten-kabupaten, musisi daerah dengan beragam alat musik, menyemarakkan event pertama bertajuk “Pekan Seni Pertunjukan Tradisional Jambi (PSPTJ)” itu. KAC sukses.

Tak puas, KAC terus menggagas event-event baru. Selama setahun, tim-tim kreatif KAC menyusun Jambi Art Festival (JAF). Materi utama tetap: penampilan seni budaya tradisional Jambi. Materi tambahannya yang beda.

Jika pada PSPTJ hanya melibatkan seniman-seniman lokal, dengan aset-aset budaya daerah, pada JAF, KAC berencana melibatkan seniman-seniman nasional. Lagi-lagi KAC sukses. Rencana awal melebihi target.

Pasalnya, pada 2000, ketika Jambi Art Festival pertama kali digelar, ratusan undangan hadir, mulai dari seniman-seniman lokal hingga seniman luar negeri seperti Jepang, Malaysia, dan Singapura.

Lagi-lagi event raksasa yang menelan anggaran hingga Rp 450 juta itu digelar di GOS Kotabaru. Acara padat. Pengunjung berlipat. Utusan provinsi yang ikut menampilkan seni budaya khas masing-masing. Termasuk utusan dari negera Jepang, Malaysia, dan Singapura.

Khusus Jambi, melalui KAC, tari Zapin pertama kali diperkenalkan ke negara luar. Bertahun-tahun kemudian Jambi yang digawangi KAC berkali-kali menampilkan Zapin ke berbagai negara. Selain mengharumkan nama Jambi, nama KAC, tim tari dari Provinsi Jambi di bawah binaan KAC ikut mengharumkan nama Lili Abdurahman Sayuti. Sang penggagas KAC sekaligus pemilik Yayasan Bina Lestari Budaya Jambi (YBLBJ).

Sejak itu KAC mulai bertualang dari daerah ke daerah, provinsi ke provinsi, negara ke negara. Lewat tari-tarian, musik-musik, busana-busana, KAC memperkenalkan Jambi. Mata dunia pun mulai terbuka terhadap Jambi. Tari Zapin dikenal di mana-mana, seiring dikenalnya KAC dan unit-unit kebanggaannya. Masyarakat Jambi semakin simpati terhadap KAC.

Hampir setiap hari, gedung kantor KAC di Jalan Jenderal MT Haryono No 4 Telanaipura penuh diisi peminat seni budaya. Tercatat siswa yang belajar di KAC sekitar 2.000, mencapai 600 orang per hari. Mulai dari belajar tari, musik, fashion show, sampai belajar melukis.

Tiap tahun KAC mendapat dukungan dan sokongan penuh dari Gubernur Abdurahman Sayuti. Dari program-program andalannya, KAC memeroleh suntikan dana senilai Rp 100 juta atau Rp 350 juta (masa sekarang).

“Tiap hari kantor kita ini ramai. Anak-anak banyak yang belajar di sini,” ungkap Erwin Arifin, direktur eksekutif Kajanglako Art Center yang juga sekretaris YBLBJ kemarin (13/2).

“Kalau kita manggung ke luar daerah, yang pertama dicari orang itu ya anak-anak Kajanglako,” tambah Panca, dulu penari di KAC, kini koreografer, semangat.

Sayang, sejak Abdurahman Sayuti melepas masa jabatannya selaku gubernur Jambi, masa keemasan KAC surut.(*)

Kajanglako Art Center, Wadah Kebudayaan Jambi yang Nyaris Terlupakan (3-habis)

Gubernur Berganti, Masuki Masa Redup

Di pengujung 2006, Kajanglako Art Center (KAC) mencapai titik nol. Lembaga budaya Jambi itu mulai redup. Sinarnya tak lagi bercahaya seperti dulu. Meski begitu, sisa-sisa pengurus tetap bertekad kembali “membangunkan” KAC dari “tidurnya” yang cukup panjang. Seperti apa masa-masa surut bagi lembaga itu?

Alpadli Monas, Kota Jambi

Kantor Kajanglako Art Center (KAC) di Jalan Letjend MT Haryono, Telanaipura, Minggu lalu, tampak diisi sekelompok anak usia sekitar lima tahun yang sedang duduk melingkar. Di hadapan mereka duduk seorang wanita muda, tengah serius mengajari anak-anak itu berbahasa Inggris.

“Good morning,” ungkap wanita muda berjilbab itu disambut anak-anak sekitar sebelas itu dengan semangat. “Good morning.”

Di dalam Balai Kajanglako, yang atapnya mulai berlubang, dindingnya mengelupas, dan lantainya tak terawat itu, siswa Taman Kanak-kanak (TK) Al-Aqsha itu masih tekun mengikuti pelajaran yang diberikan.

TK Al-Aqsha adalah sekolah bentukan Yayasan Bina Lestari Budaya Jambi (YBLBJ). Sejak dini siswa-siswa TK tersebut diajari pendidikan keagamaan plus pendidikan seni dan budaya. Makanya pihak pengelola memberi kelonggaran bagi TK itu untuk menggunakan gedung KAC. Sisa-sisa kejayaan yang nyaris terlupakan.

Di samping kini digunakan sebagai taman bermain bagi siswa TK Al-Aqsha, gedung KAC masih dimanfaatkan untuk pendidikan seni dan budaya, misalnya tari, musik, dan fashion show.

Sejak 2006, KAC yang sebelumnya memiliki siswa didik sampai 600 orang per hari itu kini tak lebih hanya beberapa orang saja. Jadwal pelatihan pun jauh berkurang. Tetapi semangat para pendiri KAC tetap tinggi.

“Kita sangat ingin Kajanglako kembali bangkit,” ungkap Erwin, diamini Panca. Amin dan Panca adalah dua pengurus KAC yang ditemui Jambi Independent beberapa hari lalu.

Gubernur Berganti, KAC Kian Redup

Redupnya sinar kejayaan KAC sedikit banyak dipengaruhi bergantinya tampuk kepemimpinan di tingkat Provinsi Jambi. Sejak Abdurahman Sayuti turun diganti Zulkifli Nurdin sekitar 2000, KAC mulai tergerus kebijakan politik.

Ajuan-ajuan program tak lagi disambut positif, baik oleh gubernur maupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi.

Event Jambi Art Festival, misalnya, yang pada 2000 lalu sukses itu, tak lagi bisa digelar pada 2002. Parahnya, anggaran senilai Rp 700-an juta yang diajukan KAC langsung “dicoret” oleh DPRD Provinsi Jambi. Alasannya, menghambur-hamburkan uang rakyat.

“Itulah kalau tidak mengerti betapa pentingnya promosi bagi daerah,” sesal Erwin.

Meski dicoba berkali-kali, KAC tetap tak didengar. Karena tak lagi didukung, lembaga budaya daerah Jambi itu lambat laun padam. Meski ada beberapa agenda yang berhasil dihelat, semisal dialog budaya pada 2002, yang melahirkan sembilan unsur kebudayaan Jambi, KAC tetap saja tak bisa bangkit seperti semula.

Apalagi Lili Abdurahman Sayuti selaku pendiri sekaligus penyokong KAC lebih fokus di rumah, mengurus suaminya yang tak lain mantan gubernur Jambi sejak turun jabatan.

Di antara kegamanngan itu—kehilangan figur pemimpin dan dukungan dana—KAC pecah. Beberapa personel dan pengurus KAC mulai memisahkan diri. Sendiri-sendiri mereka membangun lembaga budaya maupun lembaga seni yang baru. KAC kian terombang-ambing.

“Waktu itu kita kehilangan sosok pimpinan,” kenang Erwin.

Pada 2006 KAC hanya digawangi beberapa orang. Dengan tenaga pelatih (tari dan fashion), KAC jalan tertatih-tatih. Tak sekencang dulu.

Walau kini sudah redup, Erwin dan Panca mengaku masih banyak yang merindukan lembaga budaya kebanggaan Provinsi Jambi itu. Bahkan tak sedikit yang masih mengundang KAC untuk tampil, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

“Kita masih sering dapat e-mail, misalnya dari Jerman, mereka minta kita tampil lagi,” beber Panca, masih bersemangat.

Sentra-sentra seni dan budaya bentukan KAC pun ternyata masih eksis di kabupaten/kota dalam Provinsi Jambi. Di Batanghari, misalnya, ada sanggar seni binaan Nuraini yang masih menunggu gerakan dari KAC. Di Tanjab Barat ada H Abu Bakar Jamaliyah, Kerinci Iskandar Zakaria, Sarolangun Ayu Manif, Tanjab Timur A Rafit. Mereka semua adalah “laskar-laskar” KAC yang siap kembali mendirikan KAC. “Kami yakin mereka masih eksis,” jabar Erwin.

Di Kota Jambi KAC juga masih memiliki sentra-sentra budaya yang kuat. Lewat sosok seperti Didin Sirodj, Mang Alloy, Arifin Akhmad, Sari Satriani, Heri Hergawan, KAC menyimpan harapan, untuk bangkit dan membawa harum nama Jambi ke dunia internasional. Akankah terwujud?

“Sekarang kita lagi menyusun agenda. Tapi kita yakin kawan-kawan masih punya semangat untuk membangun kembali KAC,” tandasnya.(*)

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2009 in News Terkini

 

Tag: , , , , , , ,

10 responses to “Kajanglako Art Center, Wadah Kebudayaan Jambi yang Nyaris Terlupakan

  1. Soney

    Maret 9, 2009 at 2:05 pm

    kajanglako art center jangan patah semangat untuk terus membudayakan budaya jambi.jambi-online.com pun mencoba untuk menunjukkan pada dunia bahwa jambi memiliki potensi yang besar dibidang budaya.
    jambi-online siap membantu…
    keep our spirit to KAC….

     
  2. syaiful

    Maret 29, 2009 at 2:14 am

    Assalamualaikum Wr. Wbr.

    salam kenal blogger pekanbaru

     
  3. joe

    Agustus 24, 2009 at 8:52 am

    ayo terus bangkit buat KAC..di jogja juga ada media Kajanglako, terbitan khusus pelajar Jambi di Yogyakarta..

     
  4. Erwin Arifin

    November 4, 2009 at 1:18 pm

    Terima kasih komentarnya
    Salam kenal kembali buat blogger pekanbaru Pak Syaiful
    untuk pak joe sukses KAC di jogya

     
  5. cicilia

    Maret 24, 2010 at 11:39 am

    saya mau tanya,,,apa persaratannya y bisa masuk dalam tim tari kajanglako..thanx

     
  6. shamsul baharin

    Juni 30, 2010 at 1:35 pm

    alangkah terkejutnya bila saya membaca perkhabaran ini. tahun 1998 Kajanglako membuat persembahan di pekan seni ipoh. masih terasa kehangatan dan kehebatan tarian yang begitu bertenaga. sehingga kini saya tidak akan lupa. harapan agar kumpulan ini berjaya kembali ….dan datang lagi ke ipoh. kita budaya melayu sudah banyak kehilangan…jangan lagi kita kehilangan tradisi yang amat kita banggakan ini.

     
  7. donnalita

    April 1, 2011 at 6:24 am

    saya mau tanya,,,,anak saya umur 11 tahun ingin sekali gabung di tim tari kajang lako,gimana caranya… thanks

     
  8. uli

    Februari 9, 2012 at 3:17 pm

    semangat… insyaalaah bisa bangkit lagi…..

     
  9. septa

    September 6, 2014 at 4:06 pm

    saya yang bukan asli saja sangat tertarik untuk mempelajari budaya Jambi. Salam, smoga saya boleh ikut bergabung🙂 skg saya mahasiswa FKIK UNJA 2014🙂

     
  10. Seiichi Aurianto

    Desember 31, 2014 at 1:11 pm

    Saya adalah bagian dari team tahun 1998, waktu itu saya melakukan beberapa pekerjaan seperti modifikasi Kerajinan Batik Jambi & persiapan bahasa Inggris bagi beberapa Penari Jambi yg perform keliling beberapa negara di Eropa. Yg masih ingat silahkan kontak,

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: