RSS

Pengalaman Abdi dan Marta, Pendamping Suku Anak Dalam

23 Mar

Awalnya Sulit Berkomunikasi, Lama-lama Cinta Rimba

Hidup di tengah rimba belantara bersama Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba, mungkin bukan pilihan hidup Abdi dan Marta. Banyak pengalaman yang diraih, banyak pula suka-duka yang dirasakan. Seperti apa kehidupan keduanya bersama SAD? Berikut penuturan anggota KKI Warsi Jambi itu kepada Jambi Independent.

Alpadli Monas, Kota Jambi

Salah satu kelompok SAD menghuni wilayah Sungai Terap, berdekatan daerah Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Tiap kali Abdi datang, mereka beramai-ramai menyambut pria utusan Wahana Konservasi (Warsi) itu dengan ceria.

Membawa bekal banyak, Abdi berhasil menarik perhatian warga SAD, terutama anak-anak dan remaja. “Kalau sampai di sana, yang pertama dikeluarkan rokok. Rokok apa saja, mereka isap,” ungkap Abdi kemarin (22/3).

Tak berapa lama, semua stok rokok yang dibawa habis. Tersisa beberapa bungkus untuk konsumsi sendiri. Itu pun nanti akan habis, tidak sampai 14 hari ke depan.

Sebagai anggota KKI Warsi, Abdi bertugas sebagai pendamping Orang Rimba. Tugasnya berkomunikasi dengan SAD, mengkaji adat dan menjadi fasilitator ketika dibutuhkan warga SAD.

Jika ada yang sakit, tugas pendamping membawa warga SAD keluar untuk berobat. Biasanya dibawa ke puskesmas terdekat.

Tugas itu sudah dilakoninya sejak 2005 lalu. Sedangkan Marta, pendamping SAD yang lain, baru bertugas sejak 2007 lalu.

Mengenang awal mula bertugas, baik Abdi maupun Marta mengaku sulit menjaling komunikasi dengan warga SAD. Soalnya, bahasa yang digunakan SAD berbeda dari bahasa Jambi umumnya.

“Mereka menggunakan bahasa Melayu yang kental. Jadi kalau kita bahasa Melayu, sedikit-sedikit mereka (warga SAD, red) mengerti,” beber Abdi.

Lain lagi pengalaman yang dialami Marta. Saat pertama bertugas, dia kesulitan menemukan kelompok SAD. Setelah dikabarkan ada SAD di Sungai Serengan, wilayah Desa Sungai Ruam, Batanghari, Marta segera menyusul ke lokasi. Setibanya di lokasi, tak seorang pun menetap di sana.

“Ternyata Orang Rimba di situ sudah pada melangun (bepergian, red). Jadi terpaksa kita cari-cari lagi dibantu jenang (perantara Orang Rimba, red) setempat,” beber Marta mengenang.

Untung, kelompok Orang Rimba itu kembali lagi ke tempat semula, yakni di tepi Sungai Serengam, Batanghari. Usai melangun, dibantu jenang, Marta bisa masuk ke komunitas warga asli Jambi tersebut dengan tenang.

Pergulatan hidup Abdi dan Marta berlanjut dari hari ke hari. Setiap awal bulan, Abdi dan Marta serta beberapa staf Warsi lainnya turun ke lokasi perkampungan Orang Rimba. Membawa bekal secukupnya, para penjelajah rimba itu membaur. Mempelajari adat istiadat, kebiasaan Orang Rimba, dan hukum-hukum yang berlaku di rimba.

Selama 14 hari di dalam hutan, banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh Abdi dan Marta. Mulai pelajaran yang kecil hingga besar. Sering ditemani anak-anak SAD atau remaja SAD berusia belasan tahun, kehidupan di dalam hutan menjadi seru.

Anak-anak SAD, kata Abdi, paling cepat bila belajar sesuatu. Mereka biasanya meniru kebiasaan orangtua masing-masing, mulai dari berburu hingga memanjat, semua dilakukan anak-anak SAD dengan ceria.

Tak hanya itu, diajari membaca pun, anak-anak SAD cepat menangkap. Dalam sehari, kenang Abdi, seorang anak SAD sudah bisa menghapal huruf hingga huruf M. Bedanya, orang-orang tua sulit diajari membaca.

Kalaupun mau, orang tua di kelompok SAD hampir semua kesulitan melafalkan huruf F. “Itu menariknya. Kalau sudah nyebut huruf F, susahnya bukan main. Sampai air ludahnya keluar,” ungkap Abdi, tertawa ringan.

Tak banyak aktivitas Abdi dan Marta yang bisa dikerjakan dalam hutan. Mereka paling sering memperhatikan aktivitas warga SAD itu ketimbang ikut campur. Soalnya, kalau salah, niat mau membantu tapi malah mengusik pekerjaan warga SAD tersebut.

Apakah sempat telantar di dalam hutan? Abdi mengaku pernah. Saking cepatnya warga SAD berjalan, dia jauh tertinggal di belakang. Di tengah kebingungan, untung seorang warga SAD yang menyusulnya.

“Untunglah ada hukum sio-sio. Hukum itu berlaku bagi orang luar. Intinya, orang luar kalau sudah masuk perkampungan SAD, tidak boleh disia-siakan. Kalau ada apa-apa dengan orang luar, warga SAD bersangkutan akan langsung kena hukum,” beber Abdi, dibenarkan Marta.

Banyak kebiasaan orang SAD yang patut diacungi jempol. Menurut Abdi, warga SAD paling bisa melestarikan hutan. Apa pun hasil hutan atau hasil tumbuhan, selalu dipanen Orang Rimba dengan hati-hati. Mereka tak mau mengusik batang atau pohon tanaman yang mereka panen tersebut. Kalau rusak, warga yang merusak akan kena hukum adat.

Begitu pun adat soal perempuan, warga SAD punya hukum tertinggi melindungi kaum wanita. Hukum yang berlaku di kelompok SAD, biasa disebut empat undang di pucuk. Jika dilanggar, kena sanksi berat, yakni mati.

Pelanggaran dalam empat undang di pucuk, misalnya, seorang warga SAD meniduri istri orang. Jika terjadi, otomatis kena hukuman mati. Mati dalam pengertian SAD ada dua jenis. Pertama, mati sebenarnya dan mati karena sakit.

Menariknya, walaupun hormat terhadap perempuan, kaum lelaki di SAD paling gemar bicara soal wanita. Khususnya yang menjurus ke persoalan seks. Nah, kalau sudah bicara itu, dengan catatan tidak ada wanita di sekitar mereka, biasanya akan ramai dan penuh canda tawa.
“Ini cara masuk yang gampang. Mereka kalau sudah kumpul sama-sama lelaki, ngomongnya paling senang soal seks,” ujar Abdi, lagi-lagi tertawa ringan.

Meski dalam suasana canda, lelaki SAD juga punya adat kuat. Walau berbicara seks, mereka dilarang membicarakan hal pribadi istri orang. Jika kedapatan, dikenai denda adat berupa tali beberapa keping.

Selain hukum itu, berlaku pula hukum empat undang di bawah. Penerapan sanksi hukum itu tak terlalu berat. Bisa diganti atau dipangkas hingga nilai terendah. Pelanggarannya berbagai macam, misalnya lelaki mau buang air kecil tanpa bilang-bilang, terus tepergok wanita, otomatis dia langsung kena empat undang di bawah.

“Banyak suka-dukanya di dalam (hutan, red). Tapi lebih banyak susahnya. Kami saja (anggota Warsi) rata-rata kena penyakit malaria,” kelakar Abdi, juga dibenarkan Marta.
Penyakit satu itu memang paling rentan diidap anggota Warsi. Apalagi di dalam hutan banyak nyamuk. Walau mengenakan lotion antinyamuk, tetap saja ada kena gigit.

“Kalau Orang Rimba sudah biasa. Mereka dak perlu lotion antinyamuk lagi. Kalau lihat kita pakai lotion itu, biasanya mereka langsung minta,” ujar Abdi.

Terlepas dari itu, soal mistik Orang Rimba yang terkenal ilmu pelet, Abdi dan Marta mengaku belum melihat secara langsung. Walau sudah berkecimpung dengan warga SAD, baik Abdi maupun Marta tak pernah melihat praktik ilmu itu dengan mata kepala sendiri.

Namun, jika kasus kepercayaan terhadap manjurnya ilmu Orang Rimba, dibenarkan oleh Abdi. Dijelaskan, pada satu kesempatan, waktu itu dia mengantar Orang Rimba berobat di puskesmas, tiba-tiba didekati oleh bidan yang bertugas di sana.

Si bidan langsung menarik Abdi. Dengan suara pelan, bidan desa itu minta Abdi memfasilitasi dirinya supaya bisa minta ilmu pelet pada Orang Rimba yang berobat tersebut. Mendengar permintaan itu, Abdi kaget. Dia tak percaya seorang bidan bisa percaya dengan hal seperti itu.

Setelah dijelaskan oleh si bidan bahwa suaminya selingkuh, dan dia berharap bisa menarik simpati suaminya lewat ilmu pelet, Abdi mengalah. Permintaan si bidan disampaikan ke temenggung. Untungnya temenggung bersedia membuat janji pertemuan dengan si bidan.
Lantas apa nasib si bidan itu selanjutnya? Abdi mengaku tidak tahu. Yang jelas, katanya, ketika ditanyakan ke temenggung, “Temenggung bilang sudah diurus. Begitu saja, saya tidak tahu nasib bidan itu apa berhasil apa tidak,” tandasnya.(*)

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2009 in News Terkini, Renungan

 

Tag: , , , , , , ,

3 responses to “Pengalaman Abdi dan Marta, Pendamping Suku Anak Dalam

  1. ade

    April 28, 2010 at 8:58 am

    hallo…
    saya bisa gabung gak…buat tambah pengalaman kerja ..jadi pendamping….081366571190

     
  2. Husna

    Mei 4, 2011 at 12:54 am

    Monas, aku jadi tertarik sama SAD, sering mendengar tapi belum pernah bertemu. menarik!
    kamu masih ingat aku ngga?

     
  3. rhawi

    September 11, 2011 at 12:56 am

    seru juga ne..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: