RSS

Kisah M Rysan (15), Korban Penculikan via Situs Facebook

26 Feb

Kisah M Rysan (15), Korban Penculikan via Situs Facebook (1)

Tersangka Pernah Kabur bersama Lelaki Lain

Korban penculikan via situs jejaring sosial Facebook (FB), kian berjatuhan. Salah satunya dialami M Rysan Sahputra Pradana (15), siswa kelas II SMAN 1 Kota Jambi. Selama 1 bulan, dia dilarikan oleh wanita kenalannya di FB. Untung akhirnya Rysan bisa pulang ke pangkuan orang tuanya, kemarin (21/2). Seperti apa kisah perkenalannya?

ALPADLI MONAS, Telanaipura

Pagi kemarin, Rysan disambut haru keluarganya di komplek Setya Negara, Sipin. Ayahnya, M Hasan Tarmizi (47) dan ibunya Mary Anita (45), tampak senang menyambut kepulangan Rysan setelah 25 hari menghilang itu. Keluarga mengklaim, Rysan diculik oleh Stephanie (23), wanita kelahiran Jakarta yang pernah tinggal di Jambi.

Dari penuturan Tarmizi, LC (40) bibi Stephanie di Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), terkuaklah cerita-cerita di balik pelarian Rysan dan Stephanie tersebut.

Sekitar tahun 2008, Rysan, putera sulung pasangan Tarmizi dan Mary, berkenalan dengan seorang wanita bernama Stephanie via situs jejaring sosial Facebook. Rysan kala itu masih kelas 3 SMP. Sedangkan Stephanie masih kuliah di STIE Musi, Palembang.

Belakangan, hubungan mereka kian dekat. Seperti hubungan dunia maya biasanya, mereka mulai saling bertukar nomor ponsel. Sejak itu, keduanya sering saling menghubungi.

Cerita berlanjut. Stephanie di Palembang, diam-diam dirudung masalah. Tantenya, LC, yang merawatnya sejak SMP, kehilangan akal ketika Stephanie mulai membuat masalah. Menurut LC, Stephanie sempat berpacaran dengan seorang lelaki yang tidak jelas asal usulnya.

“Dia (Stephanie) tak pernah mengajak pacarnya ke rumah. Saya tidak tahu siapa lelaki itu,” ungkap LC, dihubungi via ponselnya, kemarin (21/2).
Ujung-ujungnya, Stephanie pindah rumah. Tak lagi tinggal di rumah LC.

Stephanie mengaku pindah ke rumah keluarganya tak jauh dari rumahnya di Palembang. Alasannya, biar mudah membuat skripsi. Sewaktu itu, Stephanie sudah semester akhir.

Entah kenapa, tiba-tiba Stephanie raib. Sekitar tahun 2009. Panik, LC melaporkan kehilangan Stephanie ke polsek terdekat. Sejak itu, keluarga angkat Stephani di Palembang mulai melakukan pencarian.

Latar berlakang Stephanie, tersangka pembawa kabur Rysan, cukup memilukan. Sewaktu bayi, dia diangkat anak oleh warga keturunan Tionghoa di Jakarta. Keluarga di Jakarta menyekolahkan Stephanie hingga SD.

Tamat SD, Stephanie dipindahkan ke Palembang, tinggal bersama saudara keluarga angkatnya yang di Jakarta. Di Palembang, Stephanie disekolahkan hingga lulus SMP. SMA, dia bersekolah di Jakarta.

Malang nasib Stephanie, setelah ditinggal mati ibu angkatnya, dia kembali harus sebatang kara. Gara-garanya, ayah angkatnya yang di Jakarta meninggal.

Prihatin, LC memanggil Stephanie untuk kembali ke Palembang. Dia disekolahkan di STIE Musi, hingga akhirnya berkenalan dengan Rysan sekitar tahun 2008. Soal perkenalan itu, LC mengaku tidak tahu menahu.
Belakangan, Stephanie kabur ke Jambi, awal tahun 2009. Di sanalah, kemelut di keluarga Tarmizi bermula. Hubungan keduanya kian menyulitkan keluarga Rysan.(Bersambung)

Kisah M Rysan (15), Korban Penculikan via Situs Facebook (2)

Sejak Bertemu Stephanie, Sikap Rysan Berubah Total

Kemarin, 22 Februari 2010, M Rysan (15) telah kembali bersekolah setelah 25 hari libur. Kehadirannya disambut haru para guru SMAN 1 Kota Jambi dan rekan-rekannya. Berikut petikan kisah hubungan terlarang M Rysan bersama tersangka Stephanie (23).

ALPADLI MONAS, Telanaipura

Setelah hampir setahun lebih beruhubungan via ponsel, akhirnya keduanya bertemu di Kota Jambi tahun 2009. Anehnya, yang mendatangi Rysan malah Stephanie.

Diceritakan M Hasan Tarmizi (47), ayah Rysan, Stephanie tiba di Jambi awal Januari 2010. Seingatnya hari Sabtu. Saat itu, Rysan tiba-tiba menghilang dari rumah.

Tahu-tahu, Rysan sudah bersama Stephanie, di rumah kos Stephanie di kawasan Nusa Indah. “Rysan tak pulang malam itu, tidak pernah dia begitu,” ungkap M Tarmizi, beberapa hari lalu.

Sejak hari itu, kehidupan Rysan berubah total. Sikapnya mulai kedewasan-dewasaan. Tak seperti remaja seusianya. Malah, Rysan sering membantah nasehat-nasehat orang tuanya.

Dari sana lah Tarmizi dan isterinya Mary mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Rysan. “Dulu dia itu manja, tak pernah ke luar rumah. Malah, kalau mau beli pulsa, adiknya yang dia suruh. Dia itu manja dan penurut,” kenang Tarmizi.

Setelah sekian waktu, Kepala Bumi Putera Cabang Jambi itu akhirnya menemukan fakta-fakta yang mengejutkan. Dia, akhirnya mencium ada hubungan aneh yang dialami anaknya bersama Stephanie.

“Dia (Rysan) di bawah pengaruh (guna-guna) Stephanie. Jadi apapun yang disuruh Stephanie, pasti dia ikut,” ungkap Tarmizi, lagi.

Tak jarang, Stephanie membawa Rysan ke indekosnya di Nusa Indah. Saat itu, Stephanie sudah bekerja di percetakan Andesma, tak jauh dari indekos Stephanie. Malah, Rysan ikut kost di dekat indekos Stephanie itu.

Kesal, Tarmizi dan Mary mendatangi Stephanie. Mereka mendoktrin agar Stephanie tak mengusik anaknya lagi. Apalagi Rysan masih kecil, baru berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMA. Sedangkan Stephanie sudah berusia 23 tahun. “Anak saya masih di bawah umur,” terangnya.

Karena panik, kedua orang tua yang gelisah itu mulai menekan Stephanie. Mereka mendesak agar gadis kelahiran Jakarta itu untuk meninggalkan kehidupan Rysan. Tapi apa yang terjadi, Stephanie tak mengubris. Malah, ketika dia dipukul Mary karena terlalu kesal, Stephanie hanya diam.

“Semua tergantung Rysan, kami tak bisa dipisahkan,” ujar Tarmizi, menirukan apa yang diungkap Stephanie pada waktu itu.

Berbagai upaya mulai dilakukan Tarmizi dan Mary serta keluarga besar mereka. Masalah itu bukan lagi jadi urusan keluarga Tarmizi, sudah kian melebar dan tak terkendali.

Apalagi, makin hari, Rysan semakin larut dengan hubungan terlarang itu. Apapun yang diinginkan Stephanie, selalu diikuti Rysan. Persis seperti kena guna-guna. Malah, pernah suatu ketika, sewaktu hari hujan dan Stephanie mengajak Rysan keluarga, remaja 15 tahun itu langsung ke luar rumah. “Hujan-hujan dia keluar rumah,” ujar Mary.

Melihat sikap Rysan yang kian keras, Tarmizi dan Mary kian gusar. Setelah berbagai cara mereka lakukan tapi tanpa hasil, akhirnya mereka melibatkan pihak kepolisian. Sejak tahun 2009, Tarmizi sekeluarga mulai konsultasi dengan Polsek Telanaipura. Berbagai pendekatan dilakukan pihak Polsek. Tapi, tak juga membuahkan hasil.

Stephanie tak bergeming. Gadis yang pindah kerja ke percetakan Djatmiko di Mayang Mangurai itu, tetap memilih untuk terus berhubungan dengan Rysan. Bahkan, setelah pindah kost ke Mayang, Stephanie tetap berhubungan dengan Rysan.

“Pimpinan percetakan Djatmiko katanya pernah mengingatkan agar Stephanie tidak mengganggu anak sekolah, tapi dia (Stephanie) tak mau peduli,” terang Tarmizi, lagi.

Tak tembus dengan cara-cara itu, Tarmizi sekeluarga mulai berupaya lewat jalur magic. Di saat itu lah, mereka terkejut setelah diberi tahu seorang tokoh agama, bahwa anak mereka sudah kena guna-guna. “Malah, istri saya juga kena,” ujarnya.

Hubungan Stephanie-Rysan terus berlanjut hingga tahun 2010. Awal Januari 2010, akhirnya Stephanie membawa Rysan kabur ke Jakarta.(Bersambung)

Kisah M Rysan (15), Korban Penculikan via Situs Facebook (3)

Seminggu di Lampung, Seminggu di Bekasi

Hubungan Stephanie (23) dan M Rysan (15) terus berlanjut meski kedua orang tua Rysan, Tarmizi dan Mary tetap tak setuju. Belakangan, Rysan kabur dari rumah, ikut kemanapun Stephanie mengajaknya. Seperti apa kisah pelariannya?

ALPADLI MONAS, Telanaipura

Satu hari di awal bulan Februari 2010, Rysan pulang cepat dari sekolah. Biasanya, hari itu dia mengikuti les siang, seperti hari-hari biasa. “Alasannya mau main sekalian main tenis,” ungkap Tarmizi, mengenang.

Ibunya, Mary, yang pada waktu itu ada di rumah, mengizinkan Rysan pergi. Dengan berbekal beberapa helai baju, Rysan berangkat dari rumah. Melihat itu, Mary sempat curiga, kenapa anaknya mau olahraga pakai bawa baju sebanyak itu? Tapi, pikiran itu ditepis Mary, dia percaya pada Rysan.

Waktu berjalan, jelang Magrib Rysan belum juga pulang ke rumah. Tarmizi dan Mary mulai khawatir. “Kita tunggu sampai lepas Magrib, kalau belum pulang, baru kita cari,” kenang Tarmizi, lagi.

Ternyata usai Magrib, Rysan belum juga pulang. Saat itu lah, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari Rysan. Dimulai dari tempat indekos Stephanie di Mayang. Di sana, Rysan ataupun Stephanie tak ditemukan. Dihubungi, pihak kantor tempat Stephanie bekerja, percetakan Djatmiko, mengaku Stephanie masih ada di Jambi.

Pencarian terus berlanjut. Tapi, Tarmizi sempat lega mendengar Stephanie masih ada di Jambi. Itu berarti, Rysan tak akan jauh.

Beberapa hari kemudian, orang Djatmiko mengaku Stephanie sudah dipecat. Dari sana Tarmizi baru tahu, bahwa orang dihubungi kemarin, tak mengetahui bahwa sebenarnya Stephanie sudah dipecat. Alasan pemecatan karena selama beberapa waktu terakhir, Stephanie tak serius bekerja.
Pada 6 Februari 2010, akhirnya Tarmizi sekeluarga melaporkan kehilangan Rysan ke Poltabes. Sambil menunggu aksi pihak kepolisian, Tarmizi terus berupaya mencari Rysan. Hampir seluruh sudut Kota Jambi sudah dilakukan, namun Rysan tak berhasil ditemukan.

Di tempat terpisah, Rysan telah kabur bersama Stephanie menggunakan angkutan darat. Mereka singgah di Lampung. Seminggu di Lampung, kondisi fisik Rysan mulai menurun. Selama di bawah pengaruh Stephanie, Rysan tak pernah lepas mengikuti kemanapun gadis kelahiran Jakarta itu pergi. Bahkan, berjalan kaki berpuluh kilometer pun, Rysan ikut.

Seminggu di Lampung, akhirnya Stephanie kembali membawa Rysan kabur. Tujuan berikut, Bekasi. Di Bekasi, Rysan kembali menginap selama 1 minggu. Usai itu, lagi-lagi dia dibawa Stephanie ke kawasan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Di sana, Rysan seperti disekap. Kalau tak ikut Stephanie, Rysan dibiarkan tinggal sendirian di kamar indekos. Kehidupan yang dialaminya kian sulit sejak mengikuti Stephanie.

Satu hari, Rysan hanya disuguhi makan nasi warteg seharga Rp 4.000. Itupun dihabiskan berdua dengan Stephanie. “Sambalnya tahu, tempe,” terang Tarmizi, menirukan penuturan Rysan.

Penderitaan Rysan tak sampai di sana. Hampir tiap hari, Rysan dipaksa ikut Stephanie mencari kerja. Sekali berjalan bisa memakan puluhan kilometer. Di tengah terik matahari, ekonomi yang kian sulit, plus fisik yang kian lemah, Rysan tetap menurut semua kata Stephanie.

“Kakinya sampai melepuh jalan jauh,” ungkap Tarmizi, yang juga Kepala Cabang Bumiputera Jambi itu.

Stephanie belum juga dapat kerja. Sampai akhirnya, Stephanie diterima bekerja di sebuah bar. Sejak itu, Rysan mulai sering ditinggal di indekos sendiri, menunggu Stephanie pulang kerja.

Saat sering ditinggal itu lah, kesadaran Rysan lambat laun kembali. Iming-iming Stephanie yang mengaku punya warisan sangat banyak, pelan-pelan dilupakan Rysan. Sampai akhirnya, Rysan memutuskan untuk kembali ke pangkuan keluarganya. Ayah-ibunya yang mencemaskan kepergiannya selama 25 hari itu.(Bersambung)

Kisah M Rysan (15), Korban Penculikan via Situs Facebook (4-Habis)

Menelpon Saat Keluarga Gelar Yasinan

Setelah 25 hari mengikuti kemana pergi Stephanie, M Rysan, akhirnya kembali ke pangkuan keluarganya. Pada Jumat (19/2), Rysan menghubungi keluarganya. Minggu (21/2), siswa SMAN 1 Kota Jambi itu akhirnya tiba di Jambi. Seperti apa kisah akhir perjalanannya?

ALPADLI MONAS, Telanaipura

Setelah seminggu di Lampung, seminggu di Bekasi, dan sekitar sepuluh hari di Bendungan Hilir (Benhil) Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat, pada Jumat (19/2) Rysan melakukan kontak pertama dengan keluarganya. Tarmizi, sang ayah, menyambut kontak pertama dari Rysan itu.

Siang Jumat sekitar pukul 10.30 WIB, di rumah Tarmizi sedang diadakan acara yasinan. Seluruh undangan telah hadir, malah, acara yasinan sudah dilaksanakan. Persis di tengah acara itu lah, Rysan menghubungi Tarmizi.
“Pertama dia bilang; boleh dak Abang balek?” ungkap Tarmizi, menirukan ucapan Rysan.

Dari layar ponsel Tarmizi, tertera nomer kode Jakarta berawalan 021. Tarmizi langsung menebak kalau yang menghubungi itu tak lain Rysan, anak sulungnya yang sudah berhari-hari hilang.

Mendengar itu, Tarmizi langsung senang. Dia mengizinkan Rysan pulang. Malah, Tarmizi mengarahkan Rysan untuk bisa kabur dari indekos di kawasan Benhil.

Via ponsel, Tarmizi menyarankan agar Rysan menemui petugas keamanan di sekitar indekos, atau kabur ke kantor cabang Bumi Putera (BP) di Benhil.

“Saya juga bilang, kalau perlu cari polisi, peluk saja biar diamankan. Yang penting Rysan bisa lepas dari Stephanie,” terang Tarmizi, saat ditemui di rumah kakek Rysan di Komplek Setya Negara, Minggu (21/2) lalu.

Harap-harap cemas, Tarmizi segera memesan tiket pesawat tujuan Jakarta. Dia memberi limit waktu 2 jam untuk Rysan kabur dari indekosnya. Tapi, baru 1,5 jam dari masa kontak Rysan pertama, Mulyadi, Pimpinan BP Cabang Benhil, tiba-tiba menghubungi Tarmizi.

Mulyadi menyampaikan bahwa Rysan sudah berada di bawah pengamanan pihak BP Benhil. “Rysan sudah di ruang pimpinan Cabang Bumi Putera di Benhil, saya langsung lega,” bebernya.

Supaya lebih aman dan guna menghindari tindakan Stephanie yang kemungkinan besar mencari Rysan, pihak Bumi Putera Benhil kembali melarikannya ke kantor wilayah Bumi Putera di Jakarta. Tak berapa lama, kantor wilayah BP kembali menghubungi Tarmizi, mengatakan Rysan sudah aman di kantor wilayah itu.

Tak sabaran, Tarmizi berangkat menuju Bandara Sultan Thaha. “Tapi pesawat kami delay, jadi berangkat malam,” bebernya.
Setiba di Jakarta, Jumat malam, Tarmizi disambut pelukan hangat dari Rysan. Suasana pertemuan itu sangat haru. Beberapa kali Rysan meminta maaf atas semua tindakannya. Dan Tarmizi, tentu saja memaafkan anaknya yang sudah hampir 1 bulan menghilang itu.

Di kamar hotel, Rysan banyak bercerita tentang perjalanannya kepada Tarmizi. Termasuk semua iming-iming Stephanie.
Guna menarik perhatian Rysan, Stephanie ternyata menceritakan bahwa dia punya warisan sangat banyak. Malah, dengan warisan itu, Stephanie meyakinkan Rysan tak perlu sekolah lagi. Dengan harga warisannya, mereka berdua bisa hidup tujuh keturunan.

“Rysan diiming-imingi itu (warisan), sampai dibilang tak perlu sekolah lagi oleh Stephanie,” beber Tarmizi, yang lebih banyak bercerita ketimbang Rysan.

Pagi Minggu (21/2), Rysan dipulangkan ke Jambi. Sekitar pukul 10.00 WIB, mereka tiba di Kota Jambi. Seluruh keluarga Rysan langsung menyambut haru. Mary, ibunya, yang paling gembira menyambut kepulangan anaknya itu.(*)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2010 in News Terkini

 

Tag: , , , , , , , , , ,

2 responses to “Kisah M Rysan (15), Korban Penculikan via Situs Facebook

  1. Fajrin

    Maret 7, 2010 at 6:27 am

    siiippp,,,,,,,,

     
  2. anakemmak

    Maret 7, 2010 at 6:31 am

    btw kalo dibuat skrisi gmana y judulx

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: