RSS

Rasa, Fakta dan Opini

01 Jun

Rasa adalah bagian dari Jurnalistik yang mulai pudar.

Ini mengkhawatirkan. Ketika data-fakta dan kata-kata sumber jadi segala, saat itu juga sisi kemanusiaan jadi terlupakan. Apa yang harus kita lakukan? Sementara, karya jurnalistik adalah penggalan sejarah dan karya sastra yang terburu-buru. Meski jelas, singkat, padat dan faktual -menurut jaman penerbitannya-, karya jurnalistik tetap akan jadi literatur penting yang dibutuhkan pada suatu saat.

Kita mulai terjebak dengan penegasan deadline dan berburu waktu penulisan serta penerbitan. Apa-apa menjadi harus cepat, tangkas dan merekam peristiwa ke dalam penggalan kata-kata terstruktur dan relatif singkat. Lalu itu semua terwujud dalam bentuk berita yang, kalau boleh disebut, sangat dangkal dengan sedikit makna yang ditimbulkan.

Lalu, apakah setiap berita harus meninggalkan amanat kepada pembacanya? Bukankah berita adalah sekumpulan informasi yang dianggap perlu oleh pembaca? Lalu, apa salahnya jika pembaca diberi -mungkin lebih tepatnya dipaksa- memahami makna dari berita yang ditulis jurnalis sehingga semua menjadi jelas!

Jika memang bisa, jangan-jangan media jadi terjebak ke dalam opini yang diharamkan dalam setiap pemuatan berita yang berisi fakta?

Bisa jadi, bisa jadi juga tidak. Soal haram tidaknya opini, toh, tergantung bagaimana kita memaknai apa itu opini dan apa itu fakta. (kok jadi sarat teoritis begini ya. Bikin bingung sendiri. Hadoh, capek deh….).

Tapi baiklah, coba kita telaah perbedaan antara opini dan fakta.

Opini adalah tulisan yang berisi tentang gagasan, ide, atau buah pemikiran seseorang terhadap suatu peristiwa, hal, atau kejadian tertentu. Karena opini berasal dari buah pikiran masing-masing individu, maka pendapat seseorang terhadap suatu hal akan berbeda satu sama lain. Walaupun sama, setidaknya redaksi kalimat yang dikeluarkan akan berbeda. (copas dari web orang)

Nah, fakta, adalah hal yang benar-benar dan nyata terjadi. Oleh karenanya semua orang akan mengeluarkan pernyataan yang sama terhadap suatu fakta. Makanya, lawan kata fakta tentunya adalah opini. (ini juga copas, tapi rasanya… pas lah -bukan FAS NIAN yo… hehehe)

Baik, kita sudah tahu apa itu opini dan apa itu fakta. Lalu, apa hubungan antara rasa, fakta dan opini dalam karya jurnalistik itu? (Entahlah . Kan, jadi bingung lagi.)

Kuceritakan tentang pengalaman sehari-hari. Bukan sok tahu atau sok pintar, ini hanya berbagi pengalaman. Tak lebih dari ini. Suwer!

Hampir setiap hari, saya membaca, menelaah dan mengedit puluhan berita di meja redaksi. Rata-rata, berita yang ada terasa garing, kering kerontang, terlalu singkat, buru-buru alias kurang detail, dan -di sini lah letaknya- kurang berasa. Ya, rasanya hambar, seperti kita minum air putih biasa, tak ada yang tersisa di tenggorokan. Beda kalau makan cabai (meninggalkan sensasi pedas) atau gulai padang (pedas plus asin), tentunya masih ada sesuatu yang melekat di tenggorokan sehabis menyantap itu semua.

Setelah berita habis teredit, saya merasa ada yang tidak terasa dari berita-berita itu. Seperti kereta cepat, melesat tepat beberapa detik ketika saya sadar kereta itu ada, lalu menghilang. (benar-benar aneh tulisan ni, kapan selesainya, dah ngantuk tauk! Wadow).

Timbul pertanyaan dalam hati. Kalau saya saja tak bisa merasakan apa-apa dalam berita itu, bagaimana dengan pembaca? Tentu tak merasakan juga bukan? Sama seperti menghadapi reporter baru, ketika saya tanyakan detail berita yang akan ia tulis, lalu ia menjawab dengan kebingungan, saya jadi bisa memastikan bahwa apa yang ia tulis tentu akan membingungkan redaktur dan pembaca tulisannya (kok jadi ngomongi ini…).

Lalu, saya mencari cara untuk meninggalkan rasa lewat amanat di ujung berita. Hasilnya, ya, lumayanlah. Berita itu jadi makin sedih jika berisi berita kemalangan dan jadi ceria ketika berisi peristiwa menggembirakan.

Pemaknaan inilah yang saya sebut rasa dari suatu berita. Tentu saja, penarikan kesimpulan berupa amanat di akhir berita, bisa dianggap opini jika kita tak tahu apa itu opini dan fakta. Sebab, faktanya, simpulan di akhir berita itu adalah fakta. Alasannya, kalimat pemaknaan itu ditarik dari seluruh cerita/fakta yang termuat dari lead hingga ending berita.

Itu hanya langkah kecil menyelipkan rasa di dalam berita. Tentu banyak cara lain. Tergantung kreatifitas dan kejelian reporter dan editornya.

Yang terpenting dipahami adalah, berita terbaik itu dihasilkan oleh tulisan terbaik wartawan setelah diolah oleh upaya terbaik redaktur atau editor. Jika tulisan wartawannya saja sudah membingungkan, datar, hambar dan tak berkejelasan, paling editornya hanya bisa memoles dengan hasil seadanya. Finishing berita dari editor hanya bisa memperbaiki separuh dari tulisan wartawan/reporter (teori ini belum terbukti, bisa-bisanya saya saja… hehehe…. namanya juga opini, sebab, tulisan ini kan termasuk dalam pengertian opini).

Jadi, ya begitulah. Rasa dalam berita itu penting, tapi, jauh lebih penting adalah pemahaman dari wartawan tentang ini, dan kesempatan waktu cukup banyak bagi editor/redaktur mengimplementasikan bagian rasa di dalam berita. Semua saling terhubung dan terbuhul. Dan, semua tergantung kita, para jurnalis memahami tentang ini. (akhirnya kelar juga tulisan ini. Capek. Waktunyo bobok.)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 1, 2013 in Renungan

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: