RSS

THR

20 Jul

Cerpen: Monas Junior

             Sebenarnya dia sudah siap, tapi hatinya bersikeras mengatakan belum. Ini membuat langkahnya limbung. Dia bingung. Apakah harus pergi atau berdiam diri saja di kamar yang mesra ini. Berkali-kali istrinya memuja ketampanannya, memuji kerapian dandanannya, berdecak-decak takjub menatapinya, tapi dia sangat yakin itu belum cukup memuaskan.

            “Tunggu apalagi, Pa? Mereka sudah menunggu. Cepatlah. Biar cepat pula selesai urusan itu.”            

Suara Yanti, istrinya, membujuk dengan kasar.

Dia tahu semuanya serba tergesa-gesa di saat-saat seperti ini. Hampir bisa dikatakan serba kacau. Rutinitas tahunan ini membosankan dan menyesakkan bagi Anton. Dia muak. Ingin muntah menyadari betapa tiap tahun situasi seperti ini selalu mengekori hidupnya. Tak pernah lepas dan benar-benar menjijikkan.

            “Aku tak enak badan. Besok saja lah…”

            “Sehari penundaan, sehari pula itu jadi beban di pikiran. Lepaskan, Pa, biar ringan.” Yanti mengambil jarak lima senti dari punggung Anton berdiri. Menghadap cermin besar yang menempel di lemari pakaian, keduanya adu tatap.

“Mungkin sebaiknya aku tak lagi berhubungan dengan mereka, Ma. Mungkin dari dulu aku sudah salah ketika mengenal mereka pertama kali di kampus.”

            “Hanya beberapa jam saja. Ndak berat, kok.”

            “Bilangnya enak, tapi melakukannya sulit.”

            “Dipercepat saja setengah jam. Bereskan, lalu pulang. Kan gampang.”

            “Aku lelah.”

            “Nanti sepulang dari sana langsung tidur.”

            “Ya lah.”

            Anton duduk di tepi ranjang dengan kekalahan telak, menyarung kaos kaki, memasang sepatu kulit warna coklat, menjalin tali sepatu, lalu berdiri dengan sikap tegap yang dibuat-buat. Istrinya berdiri dengan ketegaran tulus. Tersenyum, lalu memeluknya dengan ikhlas. Anton memberi kecupan ringan di kening istrinya yang entah sudah berapa kali memberinya energi untuk menghadapi situasi-situasi sulit seperti ini.

            Mereka berpisah di depan pintu mobil sport. Anton mencium kening istrinya untuk kedua kalinya, lalu masuk ke mobil sport merah yang selalu siap memukau siapapun yang melihatnya ketika mereka merayapi jalan kota.

            “Kamu melupakan sesuatu?”

            Belum sempat Anton berpikir, Yanti telah berlari kecil ke dalam rumah. Selang semenit, perempuan yang sudah beranak tiga itu kembali lagi dengan sebuah koper kerja warna hitam. “Ini. Hati-hati, jangan ditinggal di mobil.”

            “Ya, ya.”

            Sopirnya yang bermata sipit membawa Anton dengan kecepatan sedang di lingkungan komplek elit yang sudah ditinggalinya selama empat tahun terakhir. Sesekali dia menyapa beberapa tetangganya (atau mungkin pembantu tetangganya), yang berpapasan jalan dengannya. Dia menyadari bahwa pagi ini terlihat menjanjikan. Matahari sudah dari tadi meninggalkan sudut 10 derajat langit timur, dengan awan mengikuti setiap pergerakannya. Suhu jadi cukup teduh untuk pejalan kaki yang kesiangan. Tiba-tiba dia menyesal tak mengenakan pakaian olahraga, lebih menyesal lagi saat ingat orang-orang yang akan ditemuinya.

            Tak sampai 15 menit, mobil merah itu sudah parkir di depan mal tepi sungai pusat pasar kota ini. Sesaat nafas Anton memburu ketika menelpon beberapa nomor yang ia sangat yakin sebenarnya tak ingin dihubunginya pagi ini. Tapi, tetap saja dia berhai-haian dengan orang-orang yang akan menjadi hantu sepanjang hidupnya itu.

            “Saya sudah di sini, kalian di mana?”

            Suara di ujung telepon mendesau-desau tak karuan. “Bising, SMS saja.” Anton memutus hubungan telepon.

            “Kamu tunggu di sini. Sekira setengah jam saya tak keluar, kamu susul saya ke lobi hotel. Bilang Ibu minta antar ke rumah keluarga.”

            Parmin si sopir hanya mengangguk. Dia sangat paham kapan tuannya senang atau tidak menghadiri satu pertemuan. Kali ini, jelas, tuannya sangat terpaksa datang ke sini. Dia menerka siapa sebenarnya yang ditemui tuannya sampai menyeret-nyeret dia dalam masalah pertemuan ini.  

            Anton bergegas menuju lift, menekan tombol 3, lalu menunggu sambil bersikeras menekankan ke hatinya bahwa ini adalah tindakan yang benar. Tapi hatinya menolak dengan keras. Pintu lift terbuka, dua pria mengenakan semacam masker mulut menyambutnya. Dia langsung mengenali kedua mata yang bersinar cerah menatapnya itu.

            “Kau semakin lambat, Pak Tua.”

            “Ya, meski pakai mobil sport termahal, tetap saja kau menghabiskan satu jam waktu kami untuk menunggu.”

            Suara kedua pria itu mendengung karena terhambat masker. Bukan itu saja, mereka malah menutup hidung sambil melirik ke koper hitam yang dibawa Anton.

            “Kau bawa sampah, ya?”

            Anton bingung. Dia mencari-cari benda yang dikatakan sampah oleh Arif, rekannya yang lebih gendut. Rangga, sobat seletingnya semasa kuliah ikut menggeleng. “Iya, bau sekali.”

            “Sampah mana? Bau apa? Kalian sakit? Pergi ke dokter sana.”

            “Kami makin sakit kalau dekat-dekat denganmu.”

            “Betul. Tambah parah.”

            Lagi-lagi dua sobatnya itu membuat Anton risau.

            “Sudahlah. Kita ke lobi, kalau kalian tak puasa, kutemani kalian ngopi.”

            Kedua pria itu serentak mencekal tangan Anton. Lalu bergantian menyalaminya seperti teman lama yang sudah lama tak bersua. “Kami cuma mau minta maaf lahir bathin, biar afdol Idul Fitri ini.”

            “Saya juga. Saya minta maaf kalau selama ini merepotkan kamu. Besok-besok kami janji tak akan mengusik kamu lagi.” Rangga tersenyum di balik maskernya. Arief mundur setelah berhasil memastikan Anton takjub dengan sikap mereka pagi ini.

            “Lalu, yang ini bagaimana?” Anton mengangkat kopernya.

            Kedua pria itu mundur, menutup hidung dengan tangan, sambil menggeleng-geleng kencang.

            “Bawa pulang saja. Anak buah dan atasan kami bisa mengurus diri mereka sendiri. Lagian pegawai negara mana yang berhak dapat THR. Kalau swasta sih, iya.” Suara Arief begitu lantang.

            Anton terperanjat. Dia mencari kebenaran di mata Rangga.

            “Jangan khawatir sobat. Semua sudah berlalu. Kami tak mau lagi menerima semua hal yang busuk. Itu menyiksa.”

            Mereka lalu menjelaskan tentang bau busuk dengan detail yang memuakkan. Ibarat tinja dan sampah dapur yang berlama-lama menumpuk, bebauan itu menusuk tajam ke hidung dua rekannya itu sampai melekat di tenggorokan. Dua tamu hotel yang ke luar dari lift menghentikan pembicaraan kotor itu. Anton cepat menyeret dua temannya menjauh dari pintu lift.

            “Kau tahu, tiap kali menerima apapun di luar hak kami, kami selalu disiksa bebauan semacam tinja dan sampah dapur.” Arief melanjutkan dengan kecepatan luar biasa.

            “Mulanya aneh, tak masuk akal, tapi lama-lama kami terpaksa mengalah. Sakit seperti ini menyengsarakan. Tak ada dokter yang bisa menyembuhkan. Kambuh-kambuhan. Hanya datang kalau kami menerima segala hal yang kotor, lalu hilang kalau kami menerima yang bersih. Apa-apa jadi serba salah.

Orang-orang di kantor awalnya menganggap kami gila. Tapi lama-lama, mereka malah ketularan. Kami jadi sangat sensitif dengan bebauan. Jadilah segala hal kembali ke jalan yang sebenarnya. Kasus-kasus mulai bersih. Hampir semuanya masuk ke meja hijau. Tak ada lagi sistem perdamaian di luar sidang. Ini membuat sebagian orang senang, sebagian lagi malah marah. Tapi kami tak peduli. Asal tidak ada lagi bau busuk di ruangan, kami semua sudah cukup senang.”

            Brak!   Anton tak sengaja menjatuhkan koper yang dibawanya.

            “Wabah ini baru setahun menjangkiti kami. Mulanya lembaga tempat saya bertugas, lama-lama sampai juga ke tempat Rangga.”

            Rangga mengangguk.

            “Itu benar. Kami, sampai-sampai kurang tidur gara-gara menyusun ulang pasal demi pasal sesuai tempatnya. Segala tuntutan ditegakkan berdasar tindak kejahatan para pelakunya. Sejak semua terjangkiti ini, tak ada lagi ATM berjalan.” Rangga menuntaskan dengan kebijaksanaan tertinggi, saking tingginya sampai-sampai Anton tak bisa menggapai maknanya.

            “Gitu aja bro, nanti kita jelasin lagi habis lebaran,” Rangga mengakhiri.

            Lalu kedua rekan Anton itu menyudahi urusan begitu saja. Menyalami lagi, membalikkan badan, kemudian bergegas meninggalkan Anton yang masih tercenung semeter dari pintu lift. Bahkan ketika kedua pria itu turun, Anton masih memunggungi mereka dengan penuh kekhawatiran. Berharap kedua sahabat yang tak begitu disukainya itu tak sampai ke kamar rumah sakit jiwa.

            Di luar, udara sedang seru-serunya. Panas menggerahkan. Orang-orang bersembunyi di bawah pohon dan tempat-tempat beratap. Hanya tukang parkir dan polisi lalu lintas yang masih setia berdiri di tempatnya sambil terus-terusan merutuk hari. Kendaraan bertubi-tubi menghajar semangat mereka sampai titik nol. Lalu tak ada yang bersisa kecuali lelah dan dahaga berlipat-lipat. Mereka bergabung dengan orang-orang yang lebih dulu dikalahkan matahari.

            Anton merasa beruntung karena mobilnya berpendingin. Suhu di dalam menyenangkan, semilir dingin tapi tak cukup melenakan. Dia berusaha santai dan menenangkan hatinya yang sudah lebih dulu terusik, ya panas, ya dua rekannya. “Kerusakan hari ini sangat sempurna.” Anton berpikir sambil bersandar di jok berbulu lembut.

            Dari balik kaca berlapis film hitam, matanya memapar ruko-ruko yang seakan berjalan bergantian ke arah belakang. Mobil yang disopiri Parmin terus melewati Taman Tanggo Rajo, berputar ke Pasar, menuju Telanaipura lewat Jembatan Makalam, melintas depan museum perjuangan yang berisi sepenggal-sepenggal sejarah Jambi, hingga terhenti di jalan jalur dua perkantoran gubernur Telanaipura yang asri dengan eksterior jalannya yang megah.

            Tepat di simpang empat rumah sakit, ada SMS masuk ke ponsel iphone berwarna putih miliknya. Isinya kalimat yang sederhana: “Kando, ado di kantor dak?”. Kemudian dibubuhi nama dan instansi tempat si pengirim bekerja.

            Kalau sudah seperti itu, jari-jarinya bekerja secara otomatis. “Di Jakarta. Kagek Kando hubungi lagi.” Sederhana, tapi membuat senyumnya mengembang secara otomatis. Ia bahkan tertawa geli membayangkan betapa jengkelnya si penerima SMS di seberang sana. Lalu senyumnya berubah rengutan panjang ketika ingat beberapa hari lagi akan mengeluarkan sejumlah uang untuk si pengirim SMS dan beberapa orang lainnya.

            Setiba di rumahnya, komplek mewah kawasan Mayang Mangurai Kotabaru, Anton melepas penat di hatinya dengan hembusan nafas yang panjang. Koper, tangan, kaki dan tubuhnya secara anggun turun dari mobil, lalu melangkah malas memasuki rumah tipe entah berapa ratus itu.

            Keanehan hari itu berakhir di dalam bilik berdipan empuk miliknya. Istrinya hanya melihat dengan tatapan penuh tanya tanpa bisa mengutarakannya sedikitpun.

 

***

 

            Tiga tahun kemudian, keanehan itu kembali menyerangnya.

Satu siang, Anton sedang duduk di meja kerja berlapis kaca di satu kantor pemerintahan. Jas putih berkancing, celana putih dengan sepatu hitam mengkilap, ditambah topi putih serupa milik perwira-perwira polisi, menjadikan ia tampak mencolok di ruang berkarpet merah motif kembang.

            Matanya terpejam sambil hidungnya melacak bebauan aneh yang merebak hampir di seluruh sudut ruangan. Ia resah, cemas dan benar-benar pusing dibuat bau busuk itu.

            Berhari-hari sudah bau itu menetap di ruangannya. Sangat betah dan sangat bandel. Berhari-hari pula petugas kebersihan bolak balik membersihkan ruangan itu, tapi tetap saja bau busuk itu awet.

            “Ruangan ini seperti tempat pembuangan sampah saja. Kalau tidak juga wangi, besok saya minta pindah ruangan saja.” Begitu ia mengeluarkan perintah kepada kepala bagian umum dua pekan lalu. Tapi anehnya, baik bau maupun dirinya, tetap saja berada pada satu ruangan yang makin hari makin tidak menyenangkan itu.

            Keanehan makin menjadi ketika semua tamu yang bertandang ke ruangannya, tak satupun yang merasakan bau busuk membahana itu. Hanya ia saja. Semata wayang hidung miliknya. Hingga membuatnya sangat sengsara.

            Tapi hari itu ia sedikit berbahagia. Karena, ya, tentu saja karena sumber bau yang selama ini menyiksanya telah ditemukan. Anehnya, bau itu kian kencang ketika hidungnya menempel di laci meja. Seperti sampah. Bahkan baunya lebih menyengat dari gunungan sampah di tempat pembuangan akhir.

            Lebih aneh lagi, ketika laci itu dibukanya, tak satu onggok sampah pun ditemukannya. Hanya beberapa ratus lembar rupiah dan beberapa puluh lembar dolar yang berdesak-desakan di dalam laci ukuran 50 senti x 1,5 meter itu.

            Anton panik. Ia meminta lacinya dikosongkan dari benda apapun. Beberapa petugas kebersihan yang mendapat tugas itu hampir saja pingsan di tempat. Mata mereka nanar melihat ratusan lembar berharga itu harus dibuang begitu saja.

            “Pokoknya buang, ke mana saja yang kalian inginkan!”

            Perintahnya menggelegar, menyentak-nyentak seisi kantor.

            Untungnya di tengah riuh rendah itu datang seorang pria bijak. Kepala bagian umum usia sekitar 45 tahun, menjadi satu-satunya penyelemat suasana.

            “Ke mana saja, Pak?”

            “Iya, ke mana saja.”

            “Dua minggu lagi lebaran, Pak.”

            “Lalu apa hubungannya dengan sampah-sampah itu?”

            “Kita buang ke tempat-tempat yang mau menampungnya. Bagaimana?”

            Anton berpikir sebentar, benar-benar sebentar, lalu memutuskan, “Ya, terserah lah. Yang penting tidak ada lagi di ruangan ini.”

            “Baik.” Pak kepala bagian umum menyudahi dengan senyum yang lebih mirip seringai harimau lapar.

            Ia bergegas mengumpulkan sampah-sampah dalam laci, memasukkannya ke dalam kantong plastik, kemudian memindahkan lembar-lembar sampah itu ke dalam amplop-amplop putih. Dengan cekatan pula ia menuliskan alamat-alamat tempat pembuangan akhir lengkap dengan nama-nama pengelolanya.

            “Yang ini ke Telanaipura, yang ini ke Thehok, yang ini ke Talang Banjar, yang ini…”

            “Tahan.” Tiba-tiba Anton sudah berdiri di ambang pintu ruangan Pak Kepala. “Buang ke mana saja, asal jangan kepada rekanku bernama Rangga dan Arief. Itu saja.”

            Lalu Anton pergi meninggalkan sebagian besar teka-teki tak terpecahkan di kepala Pak Kepala.(*)

 

Jambi, Juli 2014

Twitter: @monasjunior

 

           

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 20, 2014 in Cerpen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: