RSS

Di Antara Lelahmu

04 Nov

Kau sedang tertidur, persis ketika aku menatapmu dengan mata yang mulai berair. Wajahmu begitu lelah, tapi seperti biasa, tetap cantik. Kau terpejam, nafasmu berat, satu-satu, diiringi dada yang naik turun, seperti peri-peri usai melaksanakan tugas kebaikan.

Kau sedang tertidur, ketika otakku masih panas, ototku masih tegang, hatiku masih cemas memikirkan hari esok yang masih belum jelas. Rasanya ingin membangunkanmu dengan kecupan ringan di kening, lalu pipi, lalu mata, lalu hidung, lalu bibir, tapi aku urungkan. Kau, begitu terbenam dengan kelelapan yang sempurna. Bahkan selimut pun tak kau hiraukan, terberai-berai di antara kakimu.

Kadang kau bergeser ke kiri, kadang ke kanan, kadang ke bawah, tak jarang ke atas. Kau selalu lucu kalau sedang tertidur. Tapi kau garang ketika tahu aku memotretmu ketika sedang tidur seperti itu. Atau, sangat garang saat tahu aku mencuri cium wajahmu secara bertubi-tubi. Ah kau, peri kecilku, selalu saja menggemaskan dalam keadaan apapun.

Aku sedang menatap wajahmu, persis ketika aku tahu bahwa kau, benar-benar sedang kelelahan. Rasanya, kelalahanku tak seberapa dibanding kelelahanmu itu.

Aku, lelaki, seakan-akan lelah mencari nafkah untuk keluarga. Dari pagi sampai pagi lagi, kami bertebaran mencari pundi-pundi rezeki di atas bumi. Mengais-ngais ide, melaksanakan pekerjaan, lalu menghasilkan beberapa rupiah setiap harinya. Setelah itu, kami pulang, membawa kelalahan –seperti biasa-, dan berharap mendapat lebih di rumah dari apa yang telah kami perbuat di luar sana.

Kau, para istri, menyambut dengan pelukan hangat –terkadang sedikit rungutan-, saat kami merebahkan tubuh. Kau memberi keleluasaan kepada kami, baik itu untuk istirahat maupun untuk mencukupi kebutuhan lain. Makanan sudah siap ketika aku pulang, lantai sudah bersih, rumah sudah rapi, kamar mandi sudah lengkap dengan aksesorisnya, ranjang telah tertata apik, semua siap digunakan.

Aku, tentunya langsung menggunakannya dengan enteng. Mandi, makan, bicara sedikit, lalu tidur. Pada saat inilah, aku, seringkali melupakanmu, melupakan betapa kau masih sibuk dengan kegiatanmu sendiri.

Seusai aku mandi, makan, lalu tidur, giliranmu melaksanakan tugas secara terperinci. Kau rapikan kamar mandi, meletakan kembali handuk, sabun dan pasta gigi yang aku letakkan sembarangan. Lalu kau ke dapur, merapikan piring, gelas, dan remah-remah yang berantakan di lantai dan meja setelah aku makan.

Kemudian kau ke kamar, memperbaiki selimut di tubuhku, menyesuaikan suhu AC, menatapku sesaat –sesekali mengecup lembut pipiku-, lalu keluar meninggalkanku dengan tidur yang makin lelap. Seringkali kau mengecek keadaanku, menatap sesaat, memastikan aku nyaman, kemudian berlalu ke seluruh penjuru rumah.

Kau masih saja sibuk ketika aku mulai memanjat mimpi. Setiap detil rumah kau pastikan sudah di posisi yang benar. Seluruh ornamen kehidupan kau pastikan sudah beres. Setelah semua gerakan lincah kau hambur-hamburkan di malam hari, lalu kau ke kamar kita.

Lagi-lagi kau masih sibuk, sayangku yang tercinta. Kau masih saja bekerja, entah itu merapikan meja rias, menyusun baju di lemari, mengecas hp-mu hp-ku dan power bank kita, lalu kau duduk sesaat –dan aku tahu pasti, saat itu kau sangat lelah-. Kau berbaring sekenanya, menatap langit-langit –sesekali bermain game di hp- sambil mengingat-ingat apa yang terlewat dari pengamatanmu.

Begitu ingat, kau berdiri lagi, turun dari ranjang, bergerak lincah lagi, pegang ini pegang itu, pergi ke sana-ke sini, beres ini-itu, untuk kemudian kembali ke ranjang yang telah kau kecewakan. Ranjang itu dan aku sangat ingin memelukmu lalu membisikkan kata-kata “sudahlah, istirahat saja sayang..”. Karena kami merinduimu lebih dari kelelahan yang masing-masing kami miliki.

Tapi kau, lagi-lagi tak mempedulikan itu. Berkali-kali kau ke luar kamar, masuk lagi, ke luar lagi, sampai-sampai malam semakin dalu. Separuh sadarku tak bisa lagi memperhatikanmu, hingga akhirnya di pagi hari, mataku menatap tubuhmu yang lincah masih saja bolak-balik di dalam kamar.

Kali ini kau sedang menyiapkan hari agar aku bisa menjalankannya dengan lancar. Kau pastikan bahwa aku bisa ke kantor dengan pakaian rapi, matching, wangi dan sempurna. Kau siapkan sarapan dan segelas teh hangat untuk keperluan energiku di pagi hari. Plus, kau memasak untuk kebutuhan makan kita hari ini.

Di sela-sela itu, kau siapkan pula segala hal untukmu bekerja. Dan hebatnya, semua bisa selesai pada waktu yang kau inginkan. Kau siap aku siap, lalu kita pergi ke luar rumah untuk mencari rezeki. Di jalan, aku berkendara dengan santai dan nyaman berkat engkau. Di kantor, aku bekerja dengan fokus dan lancar berkat kau. Sepulang kantor, aku bisa menikmati istirahat yang cukup juga berkat kau. Ya Allah, alangkah beruntungnya aku!

Aku seringkali diam-diam menangis ketika menyadari betapa pentingnya peranmu buat hidupku. Seringkali pula, terharu mengetahui bahwa kau akan selalu ada di setiap butuhku. Dan aku, sangat sadar bahwa kau, para istri, tak pernah mengalami masa libur yang sebenarnya.

Bayangkan, ketika hari-hari sibuk –Senin sampai Jumat-, kau melakukan rutinitas itu tanpa berhenti dan tanpa mengenal waktu. Akhir pekan, kau bukannya bisa meluruskan pinggang dan kaki, tapi kau malah semakin sibuk. Sabtu, kau pastikan rumah beres, pakaian dicuci dan distrika untuk keperluan hari Senin. Minggu, barulah kau bisa bernafas lega tapi belum sepenuhnya.

Jika beruntung, kau bisa berjalan-jalan denganku, sekedar mencuci mata, sukur-sukur bisa belanja, untuk kemudian pulang dengan pekerjaan lain yang sudah siap menyambutmu di rumah. Rutinitas ini menjadi hantu di kehidupan nyatamu. Kau tak bisa berlari darinya, karena dia akan selalu ada dan merongrong ketenanganmu.

Ini untuk istri yang belum punya anak. Lalu akan seperti apa kalau sudah punya anak? Pekerjaannya sekarang, kau kalikan 4, kalikan lagi 1.000, kali kan lagi 1 juta, angkanya akan menjadi tak berhingga. Ya, kesibukan ibu dari anak-anak akan mencapai angka itu kalau kau tak mau membantunya! Dengarkan ini, bantu dia, bantu ibu dari anak-anakmu wahai para suami!

Mataku makin berair ketika sadar bahwa waktu, tak pernah berhenti untuk membuatmu lelah. Oh istriku yang tercinta, aku semakin mencintaimu dengan semua yang sudah kau lakukan. Aku tak pernah benar-benar lelah jika dibanding kelalahanmu. Aku… sangat tak lemah dibandingmu. Aku… tak akan pernah berhenti mencintaimu.

Terima kasih sayang… terima kasih tak berhingga… Makanya, wajar jika di malam hari ketika terjaga, aku menyempatkan diri untuk menatap lekat wajahmu, biar aku tahu dan jiwaku tahu, bahwa istriku, sudah sangat lelah mengurusku dan memastikan semua kebutuhanku terpenuhi.

Sayang… jangan berhenti mencintaiku karena semua pengorbananmu ini. Maafkan jika aku seringkali bersalah dan menyakitimu, karena aku tak sepantasnya melakukan dosa dari orang yang sangat berjasa bagiku. Aku… mencintaimu tak berhingga.

Monas Junior, November 2015

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 4, 2015 in Curahan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: