RSS

Tuan dan Pemburu Emas (3)

05 Jun

CERITA SEBELUMNYA

Di atas kasur busa beralas seprai biru lembut, aku duduk tanpa bisa berkata-kata. Sekarang semua menjadi jelas. Teori kegilaan berganti menjadi reingkarnasi atau sejenis itu. Aku berusaha turun dari ranjang, berjalan pelan ke luar rumah, lalu menatap langit yang masih menyisakan kelam. Matahari belum siuman dari pingsan semalam.

Karena kalah dengan dingin subuh, aku masuk lagi ke kamar, menatap cermin di lemari dengan lekat. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, aku yang berusia 17 tahun hari ini, tampak begitu berbeda.

Tiba-tiba tangisan itu pecah di mata dan mulutku, tanpa aku tahu penyebabnya.

Bandara Sultan Thaha sudah ramai se siang ini. Di terminal keberangkatan yang satu-satunya dalam bandara itu, aku berdiri menatap landasan pacu. Dengan tas hitam di punggung, topi kupluk, kacamata hitam, jam tangan Swiss Army, sepatu Nike hitam, celana jeans biru, jaket kulit hitam, baju kaos biru, aku menanti pesawat Lion rute Jambi-Jakarta.

Pada papan pengumuman diberitahukan bahwa Lion terlambat dari schedule. Mendengar itu, aku duduk di salah satu kursi besi panjang. Memindahkan tas dari punggung ke pangkuan, lalu menatap ke lantai. Saat ini lah wajah Novi si Gadis Anime membayang di antara sepatu dan lantai.

“Kamu sudah sehat? Kok ndak masuk?”

Novi berdiri di dekat motorku. Parkiran sedang sepi di jam 08.30 WIB. Sehingga, kali ini kami benar-benar berdua saja.

“Ada urusan sangat penting. Aku izin seminggu. Minta tolong, ya, kasih surat ini ke Bu Nani,” ujarku sambil menyerahkan sepucuk surat kepada Novi.

“Kamu mau ke mana?” Novi mengernyitkan dahinya yang putih.

“Gak jauh kok. Aku kan gak bisa jauh dari kamu, cuma mutar-mutar sampai capek, habis tu balik lagi ke kamu.”

Dia tak bisa menahan senyum. “Ih serius. Mau ke mana?”

Aku turun dari motor. Memasang wajah kaku dan menatap tajam ke matanya yang hitam bening.

Dua tanganku menggapai tangan kanannya. Yang kanan di tapak bagian bawah, yang kiri di punggung tangannya.

“Nov, aku tidak tahu apa yang terjadi sama aku beberapa hari ini. Tapi aku tahu, apapun dan siapapun aku yang dulu atau esok, aku tetaplah aku yang kau kenal. Pengagum setiamu, perindu yang mengalahkan pungguk, dan pecinta yang tak terkalahkan. Maaf kalau selama ini aku belum punya keberanian mengungkapnya. Tapi aku yakin kau pasti tahu, bahwa aku, mencintaimu tanpa bisa kau bendung.”

Entah dari mana kata-kata itu tercipta. Aku seperti memiliki kekuatan sejuta tenaga nuklir, semiliar kecerdasan Gibran, dan triliunan kecepatan Rossi. Semua meluncur tepat mengenai hati gadis cantik yang kini tercenung di depanku.

Bibirnya menganga, matanya terbuka lebar. Menyadari itu, aku melepas tangannya, lalu dengan telunjuk kanan kusentuh bibirnya yang tanpa olesan apapun tapi tetap merah itu. Rasanya dingin-dingin basah di ujung jari.

“Aku mencintaimu. Cuma itu yang perlu kau tahu. Dan jangan mengkhawatirkanku, karena ke mana aku pergi, pasti kau ada di situ.”

Pelan-pelan, bibirnya mengatup. Matanya mulai teduh. Diambilnya telunjukku dari bibirnya, digenggamnya, lalu dibiarkannya dalam genggaman itu hingga beberapa saat.

“Janji!”

Aku mengangguk. Matanya mulai berair. Air matanya makin deras ketika aku meninggalkan parkiran. “Ah, Novi, bersabarlah, sayang. Aku cuma sebentar,” bisik hatiku sambil memacu motor ke rumah.

Tiba di rumah, aku memarkirkan motor di garasi. Melepas sepatu, masuk ke rumah pakai kunci sendiri (setiap anggota keluarga kami memiliki kunci masing-masing), menuju kamar dan memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tas Eiger hitam.

Aku mencari-cari buku tabungan, ternyata ada di dalam laci meja belajar. Angka di saldo lebih dari cukup untuk perjalanan satu minggu. Sukurlah aku termasuk anak muda yang rajin menabung.

Berbekal buku tabungan itu, aku meluncur ke bank pakai Gojek. Setelah mencairkan seluruh uang, aku memesan online tiket pesawat Jambi-Jakarta di pukul dua siang. Beruntung masih ada satu kursi tersisa di Lion Air. Meski agak mahal, aku nekat mentransfer uang ke Traveloka. Berikutnya, aku sudah berada di sini, menanti maskapai yang telatnya lebih sering ketimbang tepat waktu itu.

Jika kau bertanya mau ke mana aku setiba di Jakarta? Tentu sebagian sudah tahu jawabannya. Ke tempat pemakaman itu, tempat aku melihat kotak besi yang tersimpan di dalam salah satu makam. Jika kau bertanya apa isi kotak itu? Nanti kita cari tahu, karena, aku sendiri masih penasaran apa di dalam kotak itu.

Babak 3

Kotak Besi

Di Bandara Soekarno-Hatta, aku langsung googling. Beruntungnya hidup di zaman sekarang, ada google map yang selalu siap menjadi panduan arah bagi siapa saja. Berbekal map di dewa mesin pencari itu, aku mencocokkan pemakaman yang ada di Jakarta dengan yang ada di mimpiku. Namun tak ada satupun yang cocok. Kalaupun ada pemakaman mewah, itu tempatnya di Karawang atau dekat Jawa Barat.

Aku mencoba peruntungan. Dengan go car, aku meluncur ke Karawang. Sopirnya ramah. Lelaki muda awal 30-an. Kulitnya bersih, rambut hitam lurus potongan pendek, tubuhnya agak kurus tapi wajahnya cerah. Ia mengintipku dari balik kaca spion di atas dashboard mobil Avanza.

“Di sana ada dua pemakaman mewah. Mas mau yang mana?”

Ia menjelaskan secara detil satu per satu makam mewah di kawasan itu. Aku menyimak dengan susah payah. Kau tahu, meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan siapapun (kecuali Novi ), adalah hal yang pertama kulakukan sejak dilahirkan. Tetapi, rasanya ini sudah pernah kulakukan berkali-kali di masa lalu. Makanya, di antara takut-cemas, aku mengukuhkan hati untuk tetap melanjutkan perjalanan. Toh, kalaupun semua ini salah, berarti aku bisa pulang dengan hati lega. Semua teori lenyap, dan aku bisa meneruskan kisah dengan Novi tanpa ada ganjalan lagi.

“Jadi mau yang di mana, Mas?”

Kang Asep membuyarkan lamunanku. “Kita ke semua tempat itu, Mas. Saya lupa pastinya di mana,” jawabku. Dia mengangguk, kembali fokus di setir bersarung belundru biru itu.

Perjalanan kali ini biasa diisi kesunyian. Aku diam, si Kang Asep juga diam. Kami menjaga pembicaraan di hati masing-masing. Tanpa suara, tapi saling memahami. Sama-sama tak mau diganggu.

Tiba-tiba aku ingat surat untuk kedua orang tuaku. Kuambil HP dari kantong, kubuka aplikasi Whatsapp, lalu kukirim pesan ke Novi yang intinya meminta dia mengantar salah satu surat ke rumahku. “Kalau bisa langsung ketemu Mama. Bilang kita study tour ke Bogor selama 5 hari. Tolong ya, beib. Tq,” tulisku.

Novi membalas dengan sengit. “Ndak mau. Bilang dulu kamu di mana? Atau aku bilang ke Mama kamu bolos dari sekolah!”.

“Aduh! Aku di Jakarta. Nemui paman yang tinggal di sini. Tolong lah, nanti kubelikan oleh-oleh. Please….”

“Pokoknya nanti sore VC aku. Awas kalau ndak!”

“Iya… iya sayang.”

Kumasukkan kembali HP ke saku celana. Lalu kupejamkan mata.

Perjalanan ke makam-makam mewah itu tak membuahkan hasil. Aku tak menemukan apapun kecuali penat dan rasa kecewa yang berat. Lalu kuputuskan untuk kembali ke Jakarta, istirahat semalam, dan merencanakan pulang ke Jambi esok pagi. Kang Asep setuju mengantarku ke salah satu hotel di kawasan ITC Mangga Dua. “Sekalian bisa belanja-belanja,” kata Kakang yang baik hati itu.

“Kalau di Jakarta Pusat, ada gak makam-makam mewah, Kang?”

“Kurang tahu juga, Mas. Tapi kata kawan, tempat pemakaman di Jakarta sudah bersih-bersih. Pemeliharaannya terjamin, rata-rata sudah kayak pemakaman mewah gitu,” ulas Kang Asep. Dia berbicara tanpa menoleh ke spion dalam.

Kepalaku langsung pusing. TPU di Jakarta sangat banyak. Ke mana aku harus mencari pemakaman yang sesuai di mimpi itu?

“Ya udah, ke hotel aja, Kang.” Aku menyerah. Kang Asep tak bergeming.

Di kamar hotel standar ini, aku melempar tas ke kasur, membuka pakaian hingga telanjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Sambil menikmati air hangat dari sower, aku bertekad akan mengelilingi Jakarta hari ini. Satu per satu makam akan kudatangi. Jika tak selesai hari ini, esok pagi akan kulanjutkan. Soalnya, kalau tidak sekarang, entah kapan aku mendapat jawaban pasti dari mimpi-mimpi yang membayangiku beberapa hari ini.

Setelah berganti pakaian, kusambar HP, melihat sesaat ke layar, menolak panggilan VC dari Novi, lalu beranjak ke luar kamar. Beruntung Kang Asep mau meminjamkan KTP-nya untuk cek in di hotel ini, kalau tidak, mungkin aku sudah terdampar di hotel-hotel kelas melati pinggiran kota.

Jalanan Jakarta seperti biasa kulihat di youtube. Ramai gak ketulungan, macet di sana-sini dan sangat tidak teratur. Antara mobil, motor, bus trans Jakarta, metro mini, kopaja, memadati setiap jalan yang kulalui. Nyaris aku menyerah dengan kemacetan panjang ini. Tapi karena tekadku sudah bulat, aku tetap melanjutkan perjalanan.

Satu per satu makam kudatangi. Hingga akhirnya di salah satu pemakaman, aku melihat gerbang yang sangat mirip di mimpiku. Terbuat dari beton, beratap seng, cat biru dan pengawalan yang longgar. Se sore ini, tak terlihat seorang penjaga makam pun berada di dekat gerbang masuk itu. Karena hari cerah, sisa-sisa cahaya matahari menguatkan keberanianku. Dengan ragu, aku melangkah masuk.

Secara mengejutkan, setiba di dalam, langkah kakiku seperti ditarik ke pojok kanan makam. Hingga akhirnya berhenti di makam tak berbatu nisan namun berkeramik batu pualam. Aku mengamati sesaat, melihat sekitar sebentar, lalu berjongkok di dekat makam itu. Pikiranku langsung penuh, dugaan-dugaan berhamburan, keraguan tak terbendung, tapi di saat bersamaan, keyakinanku semakin kuat.

Berbekal kayu nisan dari makam yang sepertinya baru dibuat, aku menggali dan menggali hingga matahari benar-benar tidur. Cahaya dari HP  membantuku menyelesaikan penggalian hingga ke peti. Begitu peti kubuka, aku kaget bukan main. Ternyata apa yang di mimpiku adalah kebenaran! Ada kota besi kecil dalam peti mati tanpa jasad itu. Benda itu tersembunyi di balik tumpukan kain beludru putih.

Antara girang dan bingung, aku menyambar kotak itu, meletakkannya tak jauh dari makam, lalu kembali menutup lubang makam. Dan entah kenapa, tak ada seorang pun saat aku melakukan penggalian di Magrib ini. Aku sadar, andai ini memang pemakaman mewah, sudah pasti sejak tadi ada penjaga yang mendatangiku selama penggalian. Ah, entahlah.

Aku bergegas ke luar makam, menghentikan salah satu taksi, kemudian meluncur cepat ke hotel dengan pakaian kotor bekas tanah pemakaman.

CERITA SELANJUTNYA

 

SAMBUNGANNYA BISA LIHAT DI APP WATTPAD… KLIK LINK DI BAWAH INI

Tuan dan Pemburu Emas 1 (cerbung by: Monas Junior)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 5, 2018 in Novel

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: