RSS

Tuan dan Pemburu Emas (4)

06 Jun

Setengah jam kemudian, aku telah berada di dalam kamar hotel. Duduk di kasur, kotak besi di pangkuan, meraih remot AC lalu mendinginkan suhu kamar. Kutarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya pelan-pelan, lalu kubuka kotak besi yang tidak terkunci itu.

Di dalam kotak itu ada dua buku diary (satu bercover tebal warna hitam satu lagi warna merah), dua kunci dan beberapa lembar kertas. Satu per satu barang yang ada di dalam kotak kukeluarkan. Kubiarkan semuanya berserakan di atas kasur. Sampai akhirnya kuputuskan untuk mengecek buku diary berwarna merah.

Tak ada istimewa di sampul buku ini. Tanpa judul, tanpa tulisan apa-apa kecuali tulisan DIARY yang besar. Namun begitu covernya kubuka, aku terkejut melihat tulisan tangan bertinta hitam di soft cover buku itu.

Andi Rahman, 1980-2018.

Teruntuk kau yang tak kukenal.

Hanya dua kalimat itu. Tak ada yang lain. Karena penasaran, aku mulai membaca isinya.

***

Prancis, 2018

Aku menulis buku ini dengan susah payah di sela-sela ketakutan. Kenapa takut? Nanti kau akan tahu sendiri.

Untuk saat ini, yang perlu kau tahu bahwa aku sekarang sedang berbaring di kasur empuk, apartemen lantai 46, Jalan Rue Marcel, Paris, Prancis, awal tahun 2018. Aku merasa, ini adalah akhir ceritaku.

Tetapi sebelum mengakhirinya, sebaiknya aku memulai cerita aku dan istriku. Oh iya, perkenalkan istriku, Ratih Siswanti. Panggil saja dia Ratih. Anak bungsu dari 7 bersaudara keturunan Prancis-Surabaya. Setiap kutanyakan apakah ia keturunan ningrat atau rintisan putri Majapahit, ia selalu menjawab dengan tawa yang indah; gurih dan nikmat didengar. Soal kecantikan, jangan tanya lagi, tak terbandingkan! Penasaran dengannya, sabar, nanti kau juga akan tahu sendiri.

Dari sekian perjalanan hidup yang panjang, aku memilih tahun 1983. Di sini semua petualangan dimulai. Sebaiknya kau mempersiapkan diri sebelum memulai membaca ini, karena semua perhatianmu dibutuhkan untuk mencermati kisah ini. Dan ini, akan menjawab semua pertanyaan yang ada di benakmu. Percayalah…

Jakarta, 1983

Pintu kontrakanku telah menganga saat aku menginjak teras. Gembok dan engsel kunci sudah terlepas dan berserak di lantai. Tak ada suara dari dalam, kecuali angin yang berdesir pelan di telingaku, membuat aku kian siaga.

Kucabut revolver dari pinggang kanan, kukokang pelatuknya lalu kugenggam senjata itu dengan kedua tangan. Peralahan, kulangkahkan kaki menuju dalam kontrakan.

Di dalam tak ada siapa-siapa. Hanya seprai dan dua bantal yang bertebaran di lantai, serta laci meja yang sudah terbuka. Aku berjalan pelan ke kamar mandi, menodongkan pistol ke dalam, namun juga tak ada siapa-siapa.

Setelah yakin tak ada siapa-siapa, aku kembali ke depan meja rias. Kulihat semua barang sudah berserakan. Bahkan, batangan-batangan emas itu telah raib! Aku langsung panik. Bergegas ke luar kontrakan, lalu menggedor pintu tetangga sebelah.

Tok! Tok! Tok!

Tak ada sahutan. Kugedor lagi pintu berikut, juga tak ada orang. Pintu yang terakhir, akhirnya dibuka oleh Bu Ningsih. Ia terkejut melihat wajahku yang pucat.

“Kenapa Nak Andi?”

“Mau nanya, Bu. Lihat orang masuk ke rumah aku, nggak?”

Dia melongokkan kepala ke sebelah. “Nggak, kenapa?”

“Dengar suara orang dobrak pintu?”

“Nggak. Tadi saya di dapur, lagi masak. Emang kenapa?”

“Gak apa-apa, Bu.”

Aku meninggalkan Bu Ningsih yang masih penasaran itu. Ia memperhatikan kepergianku dengan kerenyit di dahi yang sangat dalam.

Kembali ke dalam kamar, aku menemukan selembar amplop besar. Di situ tertulis namaku. Tak sabaran, amplop itu langsung kubuka.

“Kau harus menghilang. Emas-emas mu sudah kami gantikan nominal di BRI. Ini buku tabungan Simpedes. Kau bisa menarik uangnya di manapun dan kapanpun.” (Di tahun ini, mesin ajaib yang dinamakan ATM itu belum ada di Jakarta. Orang-orang terbiasa menarik uang tunai dengan cara mengantri di bank. Transaksi tunai seperti ini sudah berlangsung sejak zaman pemerintahan Belanda).

Begitu mendapat petunjuk keras seperti ini, aku langsung mengemas pakaian. Mengambil tiga lembar baju kaos, enam lembar celana dalam, lalu kumasukkan amplop di dalam tas ransel. Berikutnya aku sudah berada di Tanjung Priok. Menanti salah satu kapal yang akan berlayar ke Jambi, satu daerah di Sumatera bagian tengah.

Kau tahu, ini adalah kesempatanku untuk membuktikan kebenaran mimpi-mimpi yang selama ini menyiksaku. Ya, mimpi yang kau rasakan juga pernah kurasakan. Mimpi itu datang di waktu-waktu tertentu dengan gambaran yang hampir sama. Aku bahkan bisa mengingat jelas adegan per adegan dalam mimpi-mimpi itu.

Tentang seorang pria yang mengembara di hutan belantara, tentang emas-emas yang tersembunyi di balik goa, tentang orang-orang yang rela menghabisi nyawa orang lain demi benda berkilau itu, dan tentang desa yang tersembunyi dari sentuhan orang luar.

Kapal yang kutunggu sudah tiba. Itu adalah kapal tongkang penarik ponton. Rasanya mau protes dengan kenalanku karena mengirimku ke Sumatera dengan kapal sialan itu, tapi kesadaranku menyuruhku untuk menurut. Toh, sekarang aku tidak dalam posisi bisa memilih.

Setelah membayar beberapa lembar rupiah kepada kapten, aku mengambil posisi di salah satu bilik kecil dalam kapal itu. Kuletakkan tas di bawah ranjang, kumasukkan buku tabungan ke dalam kantong celana dan kuselipkan pistol revolver ke pinggang kiri tertutup kemeja panjang. Aku ke luar, menatap ke belakang kapal, tampak tumpukan batu di dalam ponton bermuatan 2.000 ton itu. Sekarang aku merasa jadi kelasi magang. Bingung mau mengerjakan apa.

“Pernah berlayar sebelumnya?” Sang kapten bertanya dengan gagahnya. Aku gelagapan.

“Belum.”

“Hahahaha…”

Dia tertawa mengejek. Perut buncitnya bergerak naik-turun, persis seperti ombak lautan yang bergelombang. Giliran aku yang tertawa membayangkan itu.

“Hahahaha….”

Sang Kapten terdiam. Tawanya hilang, bibirnya menyungut, matanya menatap bingung. Aku melanjutkan tawa tanpa putus melihat tingkah Si Kapten bengal itu. Entah karena menyerah atau memang sibuk, Si Kapten buncit meninggalkanku begitu saja.

Sejam kemudian, kami berlayar. Dua hari dua malam di lautan, aku telah menghabiskan hampir semua isi di perut. Kamar, tepi geladak, kamar lagi, tepi geladak lagi, hingga entah berapa banyak ikan yang kenyang memakan muntahan dari mulutku. Mabuk laut ini sangat menyiksa, Kapten. Tapi Si Kapten seakan tak peduli. Melirikku setiap kali muntah, melengos setiap kali aku lewat di dekatnya.

Hari ke tiga perutku mulai beradaptasi. Angin kencang tanpa hambatan di laut, kini mulai jadi sahabatku. Burung-burung yang bermigrasi di atas kapal menjadi teman setia. ABK-ABK lain yang ramah-ramah dan super rajin, menjadi pendamping perjalanan. Aku mulai mengerti arti kekompakan di dalam kapal kecil bertenaga luar biasa ini. Tentang kerjasama, tentang saling menghormati, saling menghargai dan saling menjaga satu sama lain. Tak ada sistem yang sempurna selain di dalam kapal. Kecil, tapi sangat selaras.

15 hari sudah dilalui. Kami akhirnya sampai juga di Muarasabak, ujung timur Jambi. Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjanan ke Pelabuhan Talang Duku, dekat dengan Kota Jambi ibukota Provinsi Jambi melalui Sungai Batanghari. Setiba di Talang Duku, berpamitan sekedarnya saja dengan Si Kapten menyebalkan itu, berpelukan dengan ABK-ABK, lalu menumpang mobil truk yang kebetulan lewat pasar utama Kota Jambi.

Di pasar, aku kembali mengingat potongan demi potongan mimpi itu. Tiba-tiba aku tahu harus ke mana.

“Kalau ke Bangko, naik apa, Bang?” tanyaku kepada seorang tukang parkir yang bertubuh kurus berkulit hitam.

“Naik bus. Di Simpang Rimbo banyak tuh. Dari sini naik oplet warna kuning ke Simpang Rimbo, habis tu tanya sama orang di sana, nanti dikasih tahu bus-nya yang mana.”

Meski bertampang sangar, ternyata tukang parkir ini baik hati. Aku mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke arah simpang empat pasar itu, menanti mobil angkot warna kuning tujuan Simpang Rimbo.(Bersambung)

 

SAMBUNGANNYA BISA LIHAT DI APP WATTPAD… KLIK LINK DI BAWAH INI

Tuan dan Pemburu Emas 1 (cerbung by: Monas Junior)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 6, 2018 in Novel

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: