RSS

Potret Gay

Komunitas Lelaki Suka Lelaki Jambi, “Bertransaksi” di Hotspot

Antara Kucing, Gay dan Mugin

 Komunitas Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau gay sudah lama ada di Provinsi Jambi. Namun keberadaan mereka sulit dideteksi karena ketertutupan dan juga penampilan anggotanya yang sekilas tidak ada bedanya dengan kaum adam lainnya. Ada dua istilah penting di komunitas ini; kucing dan mugin. Seperti apa? Berikut penelusuran Jambi Independent.

————————

Beberapa hari lalu, difasilitasi pengurus May Working Group Jambi (MGWJ), komunitas gay Jambi, Jambi Independent menelusuri para lelaki penyuka lelaki itu di tempat mereka biasa kumpul (hotspot) di kawasan KONI Pasar Jambi. Setiba di salah satu ruko, terlihat beberapa pria sedang asyik bercakap-cakap. Sepintas mereka tidak ada bedanya dengan kaum adam lainnya. Hanya saja, cara berpakaian yang modis dan rambut ala mohawk sedikit membedakan mereka. Meski ada belasan orang yang terlihat sama, mereka tidak bergabung, berkelompok di tempat duduk yang berbeda namun tidak terlalu berjauhan.

Melihat kedatangan orang yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, membuat mereka memandang Jambi Independent dengan tatapan curiga. Mereka hanya diam dengan terus menatap tajam. Pandangan mereka tidak beralih sedikitpun dari wartawan koran ini.

Beruntung Jambi Independent bisa bergabung dengan sekelompok komunitas ini dengan alasan mencari salah satu pengurus MGWJ. ”O..iya, dia nggak ada, memang jarang sih dia datang, mau perlu apa ya sama dia?” tanya salah satu dari mereka.

Mereka terlihat masih berhati-hati sekali dalam bicara. Bahkan mereka hanya pilih diam dan menjawab jika ditanya, dan sesekali saling tatap sesama mereka yang berjumlah tiga orang itu.

Setelah setengah jam duduk bersama, barulah mereka mulai banyak bicara. Salah seorang dari mereka yang pada saat itu mengenakan baju kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak berwarna biru muda mulai terbuka. “Kok jarang gabung, biasanya di mana?” tanyanya.

Dengan terus menyembunyikan identitas dan mengaku bagian dari mereka, satu per satu mulai mau bercerita. Pria kelahiran 1992 itu mengaku masuk ke dalam komunitas MGWJ setelah frustasi, karena selalu diputuskan pacarnya semasa SMA. Ketika itu dia ingin menjalin asmara seperti teman-teman satu sekolahnya, namun entah kenapa setiap kali menjalin hubungan dia selalu gagal. Anehnya lagi, yang memutuskan hubungan itu justru pacarnya dan itu tidak ada yang berlangsung lebih dari satu bulan.

Dan pada akhirnya, ketika itu ia duduk di kelas dua SMA, dia diajak oleh temannya untuk jalan-jalan ke kawasan Ancol (sekarang Taman Tanggo Rajo Pasar Jambi). Di sana ia bergabung dengan beberapa orang yang belum pernah dikenalnya. Berawal dari sanalah keakraban mulai terjalin sesama mereka dan pada akhirnya “transaksi” sesama lanang itu terjadi. ”Panjang juga sih ceritanya, tapi yang pasti setelah saya mulai dan saya merasa nyaman,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara ini dengan enteng.

Setelah itu, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jambi ini mengaku dirinya sangat nyaman dengan apa yang ia jalani. Selain itu, apa yang ia lakukan kini cukup sulit diketahui oleh orang lain. Sebab, mereka berpenampilan sebagaimana kaum adam biasanya. Selain itu, berkumpulnya mereka di suatu tempat juga dianggap sebagai kumpul biasa. ”Cuek saja sama orang lain, mereka juga tidak tahu,” lanjut pria yang mengaku saat ini telah memiliki pacar.

Begitu juga dengan teman satunya yang duduk persis di sebelah kanannya. Pria yang memiliki potongan rambut mohak itu mengaku, selain sering diputus pacar, dia mengaku terjun ke dunia gay karena faktor ekonomi.

Ekonomi membuat kedua orang tuanya sering bertengkar dan itu membuat dirinya bosan tinggal di rumah. Dia bergabung dalam komunitas karena diajak temannya yang sudah terlebih dahulu masuk dalam komunitas. Di awal gabung dia mendapat servis baik itu dari kepuasan seksual maupun ekonomi. “Awalnya sedikit ragu, tapi karena banyak kawan dan dapat uang, akhirnya ikut juga,” ceritanya.

Lantas di mana sering “transaksi”? Selain di tempat yang mereka sepakati, terkadang juga di tempat kumpul atau hotspot. Hanya saja, untuk transaksi di hotspot cukup jarang. ”Kan kita sesama lelaki, jadi main ke rumah kawan pun yang sesama LSL (lelaki suka lelaki), orang tua tidak akan curiga,” lanjutnya.

Selain transaksi sesama mereka, percaya atau tidak, ada juga orang yang membutuhkan keberadaan mereka (pelanggan). Biasanya mereka yang seperti ini memiliki ekonomi menengah ke atas dan juga memiliki pekerjaan sehingga mereka lebih tertutup.

Mereka yang menerima transaksi yang seperti ini dinamakan “kucing”. Sementara untuk pelanggan sendiri, biasanya disebut sebagai Mugin.

Lebih lanjut ia mengatakan, dikatakan kucing karena berasal dari mandi kucing, semuanya basah. Begitu juga dengan mereka, semunya akan basah karena mereka sanggup, maaf, menjilat semua bagian tubuh pasangannya seperti kucing. “Pelanggan biasanya bayar dari seratus hingga satu juga, tergantung lobinya juga,” katanya.

Meski begitu, kaum gay menolak diri mereka disamakan dengan perempuan pekerja seks komersial (PSK). Bedanya mereka dengan PSK, mereka lebih setia alias jarang sekali bertukar pasangan. Sebab, selain merasa nyaman, mereka juga berpandangan kerahasiaan sesama mereka akan lebih terjamin dengan tidak bertukar pasangan. “Selain itu kan ada tipikal yang kita senangi masing-masing, makanya lebih cenderung dengan itu-itu saja. Ada juga yang gonta-ganti karena sudah merasa aman dan saling percaya tidak akan membocorkan rahasia,” sambungnya.

Sementara itu, keberadaan mereka tidak akan meresahkan masyarakat karena mereka tidak akan diketahui secara kasat mata. Itulah yang mempermudah mereka untuk saling kumpul sesama mereka. “Hanya sebagian kecil yang tahu dan itu pun sesama kami. Makanya kita tidak akan dianggap macam-macam. Tetapi terkadang ada juga pemuda sekitar yang meminta uang kepada kami, walau itu sangat jarang,” katanya.(ami/nas)

MWGJ, Wadah Positif Kaum Gay

 

Untuk mengakomodir kebutuhan kaum gay di Provinsi Jambi, diam-diam telah berdiri May Working Group Jambi (MWGJ), atau mereka biasa mereka sebut Macam Warna Grup Jambi. Dengan adanya komunitas ini mereka dapat saling mengarahkan untuk lebih terampil.

Jambi Independent sempat berbincang dengan salah satu pengurus MWGJ yang tidak ingin namanya disebutkan. Dia mengatakan, memang sulit untuk mengenali komunitas ini. Meski begitu, jumlah Lelaki Suka Lelaki (LSL atau gay) di Kota Jambi mencapai 200 orang. ”Melihat keberadaan teman-teman yang begitu banyak, maka pada 5 Januari 2010 lalu kami berinisiatif untuk mendirikan wadah,” ungkapnya.

Pria yang mengenakan baju kemeja merek Levis itu menambahkan, berdirinya komunitas ini tidak lain agar mereka yang sudah terjun ke dunia gay dapat dirangkul dan diberi pembelajaran akan bahaya atas “transaksi” yang mereka lakukan. Sebab, dengan “transaksi” yang mereka lakukan itu, maka yang HIV/AIDS juga akan beredar di sekitar mereka.

Menurutnya, sekali terjerumus ke dunia itu, maka akan sulit untuk ke luar. Sebab, dunia itu memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan dia pun yang dulunya pernah bergabung dengan komunitas ini merasa heran kenapa bisa demikian. ”Ini sudah menjadi pilihan hidup, makanya kita hanya melakukan pembinaan dan juga memberi semacam pelatihan. Sebab, untuk menghilangkan komunitas ini tidak akan bisa kecuali hanya pembinaan,” lanjutnya.

Dengan adanya komunitas ini, terkadang para LSL mengadakan kegiatan berupa manajemen leadership dan juga pelatihan keterampilan lainnya. Bahkan komunitas ini juga mengadakan pengajian yang difasilitasi oleh para aktivis HIV/AIDS yang tergabung dalam KP Kanti Sehati Jambi. ”Dengan ketertupan mereka, memang cukup mempersulit kita sehingga kita sukar mengumpulkan mereka,” sambungnya.

Sementara itu, untuk saling kenal, ternyata mereka memiliki kemampuan sendiri dinamakan Gaidar, Gay Radar. Sehingga mereka dapat mengenali sesama mereka. Pria yang sedikit gemuk ini mengatakan, biasanya, mereka dapat saling kenal dari segi pakaian. Sebab, pakaian mereka lebih metroseksual atau yang lebih dikenal dengan style tinggi. Selain itu terlihat juga dari bahasa tubuh mereka.

Komunitas LSL ini terdiri dari berbagai kalangan. ”Tetapi kebanyakan berasal dari pelajar dan mahasiswa, dan dari mereka ada juga yang sudah berkeluarga,” lanjutnya.

Hanya saja, bagi mereka yang telah bekeluarga dan memiliki pekerjaan tetap, biasanya lebih tertutup. Mereka itu hanya bergabung dengan orang yang bisa menjaga rahasia. Bahkan mereka terkadang hanya bersama dengan pasangan mereka saja dan enggan bergabung dengan yang lainnya.

Yang seperti ini biasanya dijadikan simpanan. Mereka sanggup membiayai segala kebutuhan pasangannya itu dengan catatan mereka saling memuaskan kapan mereka mau dan juga saling menyimpan rahasia. ”Yang seperti ini mereka yang memiliki ekonomi mapan dan telah berkeluarga,” lanjut pria 28 tahun ini.

Dijelaskan, mereka yang telah berkeluarga masuk ke dunia ini karena sebelumnya mereka memang berasal dari sana. Mereka tidak bisa meninggalkan dunia itu sehingga memilih untuk tetap melakukannya walau secara diam-diam. ”Hal seperti itukan ada kepuasan tersendiri, meski sudah ada pasangan tetap saja mereka butuh. Dan inilah yang dianggap pilihan hati, mau bagaimanapun juga tetap saja dilakukan,” lanjutnya.

Mereka yang sudah terlanjur terjerumus ke dunia ini, sangat sulit meninggalkannya. Bahkan jika mereka pindah ke suatu daerah, mereka akan tetap mencari komunitas serupa. ”Ada juga yang pendatang, yang sebelumnya sudah seperti itu di daerah asalnya. Begitu juga sebaliknya, jika ada orang kita yang keluar daerah, mereka pasti mencari komunitas di tempat dia tinggal yang baru,” ceritanya.

Dia mengatakan, komunitas ini memiliki hotspot (tempat kumpul), dulunya lebih banyak di kawasan Taman Tanggo Rajo Ancol dan Telanaipura. Namun, setahun terakhir mereka lebih banyak berkumpul di kawasan KONI Jambi. Di kawasan Ancol dan Telanaipura mereka lebih lepas, akan tetapi untuk di KONI mayoritas adalah LSL.(ami/nas)

Pola Asuh dan Pergaulan yang Salah

 

Pola asuh dan pergaulan yang salah kerap menjadi penyebab seseorang menjadi gay. Apalagi jika ada peristiwa traumatik yang menyebabkan seseorang memilih sesama jenis sebagai pasangannya.

Psikiater dr Asianto SpKJ mengatakan, gay sebenarnya bukan gejala baru. Sejak zaman dahulu, kelainan orientasi seksual ini sudah terjadi. “Perbedaannya sekarang mereka lebih terbuka dan tidak menutup diri lagi. Bahkan ada komunitasnya. Beberapa negara malah melegalkannya,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon selulernya, kemarin (10/2).

Kondisi inilah yang menyebabkan gay semakin mudah ditemukan. Termasuk komunitasnya. Akses informasi yang makin terbuka membuat orang juga makin mudah untuk masuk. “Tapi kalau untuk Jambi tidak seterbuka kota besar,” ujarnya.

Mengenai penyebab orang menjadi gay, Direktur Rumah Sakit Theresia ini mengatakan, ada beberapa faktor. Beberapa ada yang karena faktor bawaan. Tapi yang paling sering ditemukan karena faktor pola asuh dan pergaulan yang salah. “Pola asuh ini dimulai dari orang tua. Dimana, sang anak dididik tidak semestinya,” ujarnya.

Ditambah lagi sang anak mulai bergaul dengan orang-orang yang menurutnya memiliki kesamaan dengannya. Awalnya bisa saja hanya sekadar ingin tahu saja. “Tapi karena merasa nyaman, kemudian masuk ke dunia ini,” ujarnya.

Mengenai faktor traumatik, Asianto mengatakan, ini juga bisa memicu. Tapi biasanya tidak 100 persen gay. Bisa saja, awalnya ia normal. Namun karena adanya pristiwa traumatik membuatnya tidak nyaman dengan pasangan lawan jenis. Kemudian, ia menyalurkannya ke sesama jenis. “Biasanya ini tidak murni gay,” katanya.

Apakah orang yang terlanjur gay bisa diubah? Mantan Kepala Rumah Sakit Jiwa Jambi ini mengatakan, tergantung kasusnya. Pada orang yang menjadi gay, karena peristiwa traumatik maupun karena kesalahan pergaulan ini lebih mudah untuk melakukan terapi. Berbeda dengan yang dari kecil atau bawaan lahir. “Terapinya tentu tergantung kasus dan penyebabnya,” ujar pimpinan Yayasan Bunga Bangsa ini.

Yang jelas, gay tidak sama dengan waria. Gay umumnya tampil secara fisik sebagai laki-laki. Tak sedikit dari mereka yang terlihat menarik secara penampilan. Namun, mereka memiliki kelainan orientasi seksual yakni menyukai sesama jenisnya.

Hal senada juga disampaikan Psikolog Ridwan SPsi. Ia mengatakan, secara fisik, pria gay tak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Malah umumnya mereka ini tampil rapi, harum, dan sangat memperhatikan penampilan. ”Berbeda dengan waria yang memang berperilaku feminim dan tampil sebagai perempuan,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Karena itu, dalam hubungannya, sesama gay akan bermain peran. Ada yang berperan sebagai perempuan, dan laki-laki. Meski mereka secara fisik berpenampilan laki-laki. “Meski bisa saja nanti pasangannya ada yang waria. Ataupun tetap berpenampilan laki-laki,” ujarnya.

Karena itu, bagi keluarga yang ingin mengenali  anggotanya sebagai gay atau tidak, bisa melihat perubahan pada gaya bergaul. Umumnya, mereka ini akan menarik diri dari lingkungan dan bergaul dengan komunitasnya. “Perhatikan siapa yang dekat dengan anak. Nanti bisa dilihat apakah cara bergaul anak wajar atau tidak. Dan bagaimana hubungan dengan teman lainnya. Karena biasanya ia susah bergaul dengan teman-teman lainnya,” ujarnya.

Untuk penyebab faktor genetik ini biasanya lebih banyak mempengaruhi pria yang ingin menjadi wanita. Seperti waria. Sementara gay umumnya terjadi karena pola asuh yang salah di keluarga, bergaul dengan orang-orang yang salah serta faktor traumatik. Pola asuh yang mendikte anak bisa berpengaruh ke psikilogis anak. Termasuk jika kemudian orang tua yang ingin mendapatkan anak perempuan, lalu mendidik anak laki-lakinya seperti perempuan.

Untuk faktor traumatik, bisa membuat orang beralih ke sesama jenis. Seperti pernah tersakiti oleh lawan jenis, ditolak sehingga lari dan memilih berpasangan dengan sesama jenis. Apalagi pada kesempatan yang sama, mendapatkan kenyamanan saat sedang ada masalah dari orang yang berstatus gay. “Contoh lain pernah disodomi, kebencian terhadap sesama jenis karena trauma di keluarga dan peristiwa lain yang membuatnya membenci pasangan dari lawan jenis,” jelasnya.

Makanya, orang tua harus melakukan komunikasi yang bersahabat dengan anak, mengenali teman anak. Sehingga orang tua bisa tetap memantau. Termasuk peka terhadap setiap masalah yang dihadapi anak.

Jika menemukan kelainan yang mengarah ke sifat gay, orang tua jangan langsung frontal. Berbicaralah dari hati ke hati. “Untuk terapi tentu tergantung penyebab dan kasusnya,” sarannya.(nid/rtn)

 

 

One response to “Potret Gay

  1. Siska

    Maret 4, 2015 at 8:06 am

    membuat kita lebih mengenal kaum gay

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: