RSS

Valentine’s Day

Valentine’s Day dan Sisi Negatifnya

 

Beri Kado, lalu Habiskan Malam di Kamar Hotel

 

Valentine’s Day atau hari kasih sayang yang jatuh tiap 14 Februari, adalah hari penuh makna. Inilah hari bagi kebanyakan orang untuk mengekpresikan rasa cintanya kepada orang terkasih. Bunga, cokelat, kado, menjadi hadiah terbaik di hari Valentine. Seperti apa tradisi barat ini berlaku di kalangan warga Jambi?

 

————–

 

Ya, hari kasih sayang banyak positifnya. Tapi, ada pula sisi negatifnya. Sengaja Jambi Independent menurunkan tulisan ini untuk mengingatkan orang tua, remaja dan seluruh kalangan yang peduli, untuk mengawasi anak-anak dan anggota keluarganya agar tak terjerumus di hari ini.

Dari penelusuran Jambi Independent, ada beberapa remaja yang menyalahgunakan hari kasih sayang dengan tindakan asusila. Tindakan itu dilakoni dengan penuh kehati-hatian dan rencana yang matang.

Jambi Independent berhasil mewawancarai beberapa oknum pelajar dan mahasiswa. Seperti halnya Y. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jambi ini, kemarin (13/2), mengaku memiliki tradisi khusus saat melewati malam Valentine bersama kekasih tercinta.

Mahasiswa yang juga bekerja ini mengaku kerap mengajak pasangannya menghabiskan malam Valentine di kamar hotel. Hanya berdua. Katanya, itu sudah jadi kebiasaan sebagai bentuk ungkapan cinta. Selain itu, momen ini sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. “Sudah dua tahun ini selalu ngajak pacar ke hotel kalau malam Valentine,” ujarnya, santai.

Selama dua tahun itu, Y menghabiskan malam dengan wanita yang berbeda, yang pada saat Valentine berstatus sebagai pacarnya. “Pacar pertama anak SMA, pacar kedua mahasiswa,” ujarnya.

Y mengaku ada perbedaan antara keduanya. Pacarnya yang masih berstatus pelajar, dengan mudahnya diajak ke hotel bertaraf melati. Sedangkan mahasiswa, harus dibawa ke hotel yang cukup mewah. “Kalau anak SMA kan mudah diloloi. Kasih coklat samo kado be diolah senang. Langsunglah malamnya diajak ke hotel,” bebernya, lagi-lagi dengan santainya.

Lain lagi saat Valentine 2012 lalu, dia harus merogoh kocek cukup dalam karena harus menghabiskan malam di hotel yang cukup mewah. “Kalau mahasiswa agak gengsian. Jadi saya bawa ke hotel yang lebih bagus. Yang penting kita bisa senang-senang,” jabarnya.

Lalu, bagaimana cara Y mengajak sang pacar? Y terlebih dulu membawakan kado dan mengajak pasangannya berjalan-jalan menikmati malam. Setelah tengah malam, barulah diajak ke hotel. “Ajak jalan-jalan dulu. Senang-senang dulu. Kasih dia kado. Lalu barulah kita ke hotel,” bebernya.

Mereka pun berada di kamar hotel hingga matahari terbit. “Pulang sekitar pukul 8 atau 9 pagi. Bawa dia sarapan dulu barulah kita pulang,” jelasnya. Bagaimana dengan tahun ini? Y mengaku belum ada rencana yang cukup matang.

Hal yang sama juga dilakukan B. Semenjak keperawanannya dirusak oleh sang pacar tiga tahun lalu, B selalu menghabiskan malam Valentine bersama pria yang saat itu berstatus pacar barunya. Mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota Jambi ini menuturkan bahwa sejak putus keperawanan, dia selalu berganti pacar. Nah, sudah dua tahun belakangan ini dia dengan sang pacar yang berbeda menghabiskan malam Valentine di hotel yang diakuinya berkelas melati.

Bagaimana dengan Valentine kali ini? B mengaku sudah memiliki rencana sendiri. “Rencananya mau sewa ruang karaoke khusus berdua saja,” ujarnya, seperti Y, dengan santainya.

Benarkah pengakuan Y dan B? Jambi Independent kembali melakukan penelusuran. Beberapa hotel kelas melati didatangi, keterangan yang didapat adalah benar, sebagian kalangan remaja menghabiskan hari Valentine-nya di kamar hotel.

Seorang penjaga sebuah hotel melati kawasan Pasar Kota Jambi, S, mengaku, dari tahun ke tahun ada satu hingga dua pasangan anak sekolah datang ke tempatnya, lalu “ngamar” saat momen seperti Valentine’s Day. Namun para remaja itu lebih banyak tidak memakai seragam lengkap.

“Paling sudah ganti pakaian atau cuma rok. Macam-macamlah. Ada yang datang dengan pasangan. Tapi kita tahu kalau itu anak sekolah,” kata S, tersenyum.

Biasanya para remaja itu datang dan langsung booking kamar. Para remaja itu sudah mengetahui hotel mana saja yang aman dan bisa mereka gunakan. Sampai saat ini diakuinya tidak ada yang pesan lebih dulu.

S mengatakan pasangan demikian ada yang datang dari luar kota. Baik sesama pasangan anak sekolah maupun bersama pacar. Untuk anak sekolah biasanya datang dengan cepat-cepat bahkan ada yang masuk ke dalam hotel dengan masih mengenakan helm.

“Tarif hotel kan murah bang, ada yang Rp 80 ribu, Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Ada yang dengan pacar, kemarin aku pernah diminta tiga anak sekolah cewek yang datang dari luar kota minta carikan gitu,” katanya, terkekeh-kekeh. Ia mengaku tidak hanya hotelnya saja, hotel yang lain juga demikian. Pasangan-pasangan yang lain diakuinya juga ada.

Di hotel lain, M, penjaga sebuah hotel melati kawasan Jambi Selatan mengakui hal serupa. Namun ia terlihat hati-hati dan curiga ketika ditanyakan soal keberadaan remaja di hari Valentine’s Day dalam hotel. Dia mengaku kamar hotel masih ada dan tidak penuh. Sedangkan pasangan remaja demikian langsung datang dan tidak memesan lebih dulu.

“Adalah, tapi kayak biasa, langsung datang dak pakai mesan lagi. Biasanya pakaian bebas dan ada bawa tas anak sekolah. Kalau ada yang pakaian gitu jarang, dan sudah pakai jaket atau cuma sepatu,” akunya.

Pasangan demikian biasanya memilih kamar tarif murah Rp 80 hingga Rp 120 ribu. Para remaja lebih hati-hati saat datang dan keluar hotel. “Bukan di sini be, yang lain jugo ado, apolagi hotel yang agak jauh. Kalo dak hotel kayak gini di kamar kost dengan tempat lain jugo biso,” katanya, dengan nada tinggi.

 

Kian Menyesatkan

 

Menurut pandangan Ainal Mardhiah, salah seorang psikolog yang juga dosen di Universitas Jambi (Unja) mengatakan, perkembangan merayakan hari Valentine atau hari kasih sayang ditengarai kian menguat dari waktu ke waktu. Ini terbukti dari semakin banyaknya paket-paket promosi berkaitan dengan menyambut Valentine yang ditawarkan sejumlah pusat perbelanjaan.

“Porsinya dari tahun ke tahun kian besar. Ini menandakan bahwa peminat yang ingin merayakan hari kasih sayang juga kian banyak,” ungkapnya.

Terlepas dari pro dan kontranya, merayakan hari Valentine jelas dilarang bagi umat muslim karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Terlebih menurut Ainal Mardhiah, saat ini semakin banyak yang merayakan Valentine dengan acara-acara yang menyesatkan, seperti menghabiskan malam berdua saja dengan pasangan.

“Semakin menyesatkan, apalagi kalau mereka bukan pasangan menikah dan menghabiskan sesi malam valentine dengan kegiatan hura-hura, dugem, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, atau melakukan hubungan terlarang dengan menyewa losmen atau hotel,” sambungnya.

Merayakan kasih sayang, menurut Dhiah, tidak hanya di tanggal 14 Februari saja. Setiap hari, sebagai mahkluk sosial harus saling menyayangi sesama dalam konteks yang wajar. “Yang jelas, memasuki bulan Februari itu sebagian orang tua seharusnya sudah ekstra hati-hati dan mawas diri, karena angka maksiat biasanya cenderung tinggi,” imbuh Dhiah.

Senada diakui Alia Suryani, salah seorang psikolog yang juga dosen IAIN STS Jambi. Menurut ketua Hijabers Mom Community tersebut, banyaknya remaja yang merayakan momen hari Valentine, karena tidak adanya atau kurangnya pengetahuan mereka akan hari Valentine yang dalam islam jelas tidak sesuai syariat.

Namun, gencarnya promo tentang Valentine membuat pengetahuan mereka yang sudah minus kian terjerumus. Ironisnya, hari kasih sayang justru diwujudkan dengan kegiatan yang tidak bermanfaat serta merusak citra sebagai remaja dalam pergaulan.

Seharusnya orang tua kian ketat memantau anak-anaknya dengan cara-cara yang fleksibel dan sifatnya tidak mengekang. Anak harus diberikan pandangan tentang valentine, boleh tidaknya dan pendidikan agama harus benar-benar ditanamkan sejak dini sebagai pondasi mental mereka. “Kalau pendidikan agamanya sudah kuat, dengan sendirinya mereka akan membatasi diri dari hal-hal yang menyesatkan,” bebernya.

Selain itu, yang tak kalah penting menurut Alia, orang tua harus mengetahui pergaulan anak-anaknya. Karena pengaruh pergaulan sangat kuat yang jika tidak dipantau, maka akan menarik anak dalam lingkungan yang tidak benar.

Dengan laporan ini, bisa disimpulkan bahwa penyimpangan perilaku di hari Valentine dalam Kota Jambi memang benar adanya. Kita, orang tua, patut mengawasi semua gerak-gerik remaja di lingkungan kita supaya tak terjerumus. Meski begitu, banyak juga yang merayakan Valentine’s Day dengan cara positif. Jadi, jangan salahkan Valentine-nya, tapi salahkan orang yang memaknainya.(viz/pia/tya/nas)

Sejarah Singkat Valentine’s Day

 

Ikut merayakan hari Valentine, tetapi Anda tidak mengetahui sejarah dan asal usulnya. Ternyata ada banyak versi tentang sejarah hari Valentine.

Sejarah versi pertama diceritakan bahwa Valentine adalah nama dari seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad III Masehi. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal sangat kejam. Ya, Valentine sangat membenci kaisar tersebut.

Claudius sangat berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamnya. Namun sayangnya keinginan ini kurang mendapat dukungan, dikarenakan pada saat itu kaum pria enggan terlibat dalam peperangan.

Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya, hal ini membuat Claudius marah besar. Dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila. Saat itu Claudius berpikir bahwa jika pria tidak menikah, maka dengan senang hati mereka akan bergabung dengan militer. Lalu di saat itu juga Claudius melarang adanya pernikahan, dengan harapan pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal.

Namun lagi-lagi usaha keji Claudius digagalkan oleh St. Valentine. Saat itu Valentine menolak untuk melaksanakan aksi gila sang Kaisar. Tanpa rasa takut, Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun ritual ini dilakukan secara rahasia. Akan tetapi Claudius mencium adanya suatu pemberontakan dan sang kaisar pun langsung memberikan peringatan keras terhadap Valentine.

Namun lagi-lagi usaha sang Kaisar tidak membuahkan hasil. St. Valentine sama sekali tidak menggubris peringatan tersebut dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi oleh cahaya lilin.
Sampai pada suatu malam, Valentine tertangkap basah oleh sang kaisar ketika dia tengah memberkati salah satu pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Saat itu Claudius benar-benar sangat murka terhadap Valentine. Lalu sang Kaisar memerintahkan salah seorang prajuritnya untuk menangkap Valentine. Namun pasangan yang tengah diberkati tersebut berhasil lolos dan melarikan diri.

Hingga pada akhirnya Valentine dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.

Pada hari saat ia dipenggal, tepat pada 14 Februari, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara. Ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu. Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara Kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Sejarah kedua mengenai pernikahan Dewa Zeus dan Hera yang terjadi pada bulan Februari. Sedangkan sejarah ketiga bercerita tentang Santo Valentinus yang memberikan surat bertuliskan “dari Valentine-mu” sesaat sebelum ajalnya menjemput. Entah mana yang benar, yang jelas, tradisi Valentine’s Day telah benar-benar masuk ke sebagian besar kalangan muda Jambi.(vis/nas/berbagai sumber)

Berbagi Coklat dan Kado Cinta

 

JAMBI –Bagi sebagian orang, hari kasih sayang atau Valentine’s Day yang jatuh pada hari ini, Kamis 14 Februari 2013, sangat berarti dan spesial. Mereka memaknainya dengan positif.

Sandi, mahasiswa fakultas ekonomi Unja kemarin (13/2) mengatakan, sudah menjadi tradisinya bersama kawan-kawan untuk merayakan hari tersebut. “Karena memang kebiasaan dari sekolah dulu. Dan temen-temen pada ngerayain semua. Jadi buat aku, valentine moment yang paling spesial, dan kalo ada partner bisa dirayain,” ungkapnya kepada Jambi Independent.

Bagi Sandi, hari kasih sayang itu sebenarnya setiap hari. Namun pada hari spesial ini, bisa lucu-lucuan, misalnya dengan membagikan coklat. “Kadang tukaran coklat sama pacar,” katanya.

Ia juga menyadari dan menghargai bahwa ada beberapa orang yang anti, namun selama masih dalam batas wajar, bagi dia tidak ada masalah.

“Aku sih berharapnya tahun ini ada yang menarik. Valentinenya selalu seru meski hadiahnya berbeda,” paparnya.

Tahun ini, sandi berencana merayakan valentine bersama sang kekasih. Meski belum tahu akan merayakan valentine di mana, namun ia sudah menyiapkan hadiah untuk kekasihnya itu di hari spesial ini. “Yang jelas, kami akan rayain dengan saling memberi hadiah,” singkatnya.

Maria, pelajar SMA Xaverius 2 kota Jambi mengaku sudah mempersiapkan 14 buah kado. Kado-kado ini nantinya akan di berikan kepada beberapa temannya. “Kita tukaran kado. Aku menyediakan kado, teman aku juga, jadi kita tukaran. Ada coklat, bunga, baju dan barang lucu lainnya. Kebetulan aku jomblo, jadi valentinenya sama teman teman aja,” kekehnya.

Hal yang berbeda dilakukan oleh Reni. Cewek berambut panjang ini mengaku menghabiskan malam valentine hanya dengan tukaran kado serta dinner bersama sang pacar. “Biasanya makan, nonton bioskop dan tukaran kado. Itu saja,” ujarnya.

Namun, ada juga remaja yang sangat anti dengan semua hal yang berkaitan dengan valentine. Seperti yang diungkapkan oleh Cholida. Cewek berjilbab yang memiliki prinsip kuat ini mengaku tidak pernah merayakan valentine. Baik bersama teman, keluarga apalagi pacar.

“Valentine itu bukan budaya kita. Agama kita juga tidak pernah mengajarkan untuk merayakan valentine apalagi dengan cara yang tidak baik. Bahkan untuk sekedar menerima coklat dari temanpun saya tidak mau,” tegasnya, mantap.

 

Hotel Tak Sediakan Program Khusus

Begitulah, terlepas dari pro dan kontranya, hari ini dirayakan oleh seluruh dunia sebagai hari kasih sayang. Banyak acara yang mempresentatifkan kasih sayang. Salah satunya yang paling populer adalah saling berbagi bingkisan cokelat atau bunga pada orang yang disayangi.

Di Jambi, meski gemanya begitu terasa khususnya mal-mal yang begitu banyak menelurkan program menyambut valentine, dengan aneka bingkisan bernuansa pink yang identik dengan Valentine, namun sejumlah hotel berbintang di Jambi tidak mengeluarkan program menyambut valentine.

Seperti diakui Imelda, salah seorang staf officer Shang Ratu Hotel yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi, Broni, menurutnya tidak ada acara khusus menyambut valentine. “Kita tidak ada promo apapun, termasuk promo kamar. Masih seperti biasa,” ujarnya.

Senada diakui Dewi, staf officer Hotel Cosmo yang beralamat di Jalan Soekarno Hatta, menurutnya dihotelnya tersebut juga tidak menyediakan promo khusus menyambut Valentine. “Setiap tahunnya juga begitu, tidak ada acara apa-apa,” paparnya.

Tak jauh berbeda juga diakui Via, staf oficer Golden Harvest Hotel. Menurutnya, sejak berdiri, hotel yang berada di Jalan Pattimura, kawasan Simpang Rimbo tersebut tak pernah mengeluarkan program khusus menyambut hari kasih sayang.

Begitu juga dengan Novita Hotel. Menurut Nana, Novita Hotel juga tidak memiliki program khusus menyambut Valentine. Sedikit berbeda, meski tidak memiliki jadwal khusus untuk Valentine, Abadi Suite memiliki program promo rate untuk Superior Room yang dihargai Rp. 770 ribu termasuk bingkisan cokelat didalamnya.

“Hanya itu, kalau program lainnya seperti dinner atau apa, kita tidak ada,” sebut Nelly, staf Abadi Suite Hotel saat dikonfirmasi. (mui/viz/tya/nas)

Ratusan Mahasiswa

Tolak Valentine Day

 

JAMBI – Perayaan Valentine Day ditentang ratusan mahasiswa muslim Jambi, dengan cara menggelar aksi unjuk rasa menyeru pelarangan merayakannya bagi kaum muslim. Menariknya, seluruh peserta aksi adalah mahasiswi dari berbagai universitas seperti Unja, Unbari dan IAIN. Ratusan mahasiswa tersebut tergabung dalam Aliansi Muslimah Jambi Peduli Aurat, yang melakukan aksi simpatik di simpang empat Bank Indonesia Telanaipura, kemarin petang (13/2).

Aliansi yang terdiri dari Muslimah FPRJ Kota Jambi, KAMMI Jambi, Indonesia Tanpa JIL Chapter Jambi dan FSLDK Jambi ini, melakukan aksi simpatik menentang perayaan Valentine bagi umat muslim, sekaligus dalam rangka hari gerakan menutup aurat internasional.

Koordinator aksi Irma mengatakan, budaya merayakan hari Valentine atau hari kasih sayang pada 14 Februari bukanlah budaya Indonesia. Masyarakat di tanah air, termasuk Jambi cenderung “latah” ikut memperingati budaya asing tersebut.

Menurutnya, terpengaruhnya generasi muda oleh budaya barat menyebabkan mereka melupakan sebuah aturan yang jelas-jelas terdapat dalam aturan agamanya. Baginya, budaya Valentine Day merupakan salah satu budaya barat yang secara sejarahnya bertentangan dengan budaya Islam dan budaya Melayu Jambi.

“Anehnya, kini banyak muslimah lebih memilih dan menyukai budaya Valentine Day tersebut dibanding menutup aurat,” ujarnya, berapi-api.

Menurutnya, Valentine Day lebih banyak mudarat karena membuka peluang kaum muda melakukan free sex atau seks bebas. Valentine day kini bukan hanya sekedar tukar-tukaran cokelat, akan tetapi sudah pada perbuatan-perbuatan amoral yang tidak pantas dilakukan oleh generasi muslim. “Seperti free sex, pesta narkoba, miras dan lain. Dan itu semua dikarenakan pada awalnya terpengaruh oleh hasil pemikiran-pemikiran barat,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan gerakan kembali menutup aurat. Masalah-masalah seperti pelecehan seksual, pemerkosaan pada awalnya dikarenakan para wanita mengumbar aurat. sehingga hal tersebut menjadikan adanya niat yang tidak baik dari para lelaki.

Anggota MUI Provinsi Jambi Hasan Kasim mengatakan, sebenarnya merayakan Valentine tidak haram. Namun, ia mengingatkan karena bukan budaya sendiri, tidak boleh sampai pada tingkah laku yang berlebihan. Misalnya budaya pergaulan tanpa batas apalagi seks bebas.

“Itu tidak diperbolehkan semua agama karena menyatakan cinta itu harus di jalan moral, khususnya moral agama,” katanya.

Ia tidak menampik bila sebagian orang mengharamkan budaya merayakan Valentine, karena ada kaitannya dengan agama tertentu. Menurutnya, orang Islam yang ikut merayakan tidak boleh bertentangan dengan akidah.

“Sebaiknya generasi muda kita mengembangkan budaya luhur bangsa, daripada ikut latah mengikuti budaya yang nggak ada guna dan manfaatnya,” ujarnya. Ia juga mengimbau kepada masyarakat Jambi supaya menutup aurat sebagaimana yang dianjurkan oleh syariat Islam.(mui/nas)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: