RSS

Arsip Tag: Sastra

Karya-karya saya original.

Yang tercecer…

Pas lagi ngecek email ku, eh tahu-tahu dapat puisi yang dah lama aku tulis. Tapi lupa mengarsipkannya.

—————

Sintesis
:Wulan

Aku ingin teriak keras-keras, tetapi tak ada gunung
yang sanggup mendengar suaraku. Aku ingin memanjat
gelisah kesendirian ini menuju bianglala yang
terpeleset di tabir senja, lagi-lagi ketinggian
membuat aku gamang lalu memaksaku turun ke lembah
terendah kesunyian.

Pernah juga kucari selendang awan di balik wajah
Wohler, ataupun Urea hasil pemanasan amonium sianat di
tujuh lubang tanah merah ini. Tak ada yang berlebih
jika tumbuh-tumbuhan itu ceria dan mengangguk-angguk
senang atas keberhasilan kimia sintesis menghidupkan
mereka. Tapi hujan asam membuat kulitku mengkerut,
pucat dan dingin sangat.

Zat-zat organik itu, sangat busuk sayang. Sebusuk
hatiku yang kelu dingin dan butuh transplantasi rindu.
Tapi hati ini bukan senyawa yang bisa dibuat
dilaboratorium, ataupun atom-atom terstruktur itu!

Aku butuh kau, tolong aduk aku ke dalam bejana
hidupmu. Jadikan aku urea yang terbaik bagi hatimu.

Jambi, Agustus 2004

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 20, 2008 in Renungan

 

Tag: , , ,

Infus

Kalo diinfus, ssst… mestinya harus diam-diam, berbisik-bisik, ndak usah ribut-ribut atau nyeleneh ke sana ke mari. Kalau tidak mau cairan penyehat itu malah berantakan di dalam tubuh.

Nah, kalau bicara Temu Sastrawan se-Indonesia (TSI) yang bakal digelar di Grand Hotel Jambi dan di Taman Budaya Jambi, ssst… mestinya juga harus diam-diam, berbisik-bisik, ndak usah ribut-ribut atau nyeleneh lah ke sana- ke mari, yang penting sastra dan sastrawan harus jalan terus. Supaya Indonesia bisa diobati lewat cairan-cairan jiwa yang lebih tulus, jujur dan berkelanjutan.

Lah???

Lah iya, kenapa harus ribut temu ini temu itu, kalau karya-karya sastra masih berkutat pada kesulitan yang itu-itu juga. Pencapaian yang stagnan, melulu pada minimnya wadah-wadah publikasi karya yang kian hari kian miskin. Apalagi, sebagian besar penulis, rata-rata kesulitan menjadikan dirinya saat ini, sebagai penulis yang benar-benar nyastra via keterbatasan kemampuan. Misalnya kemampuan finansial.

Lah, kenapa tidak dipikirkan soal yang sederhana seperti ini dulu, baru mau bicara ini itu, nyeleneh ini itu, atau mau dialog gono gini.

Tapi yang jelas, TSI 2008 di Jambi Juli 2008 nanti, mungkin bisa melahirkan solusi bagus buat kemajuan sastra di Indonesia. Semoga.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2008 in Renungan

 

Tag: , , , , ,

Akhir Tahun

Cerpen: Monas Junior

 

            Angin menyisakan kering di kerut kulit, meninggalkan debu di antara persendian, meresapkan dingin di daun telinga Rahmat, pria bertubuh pendek namun gemuk, ketika berdiri ragu di depan rumah Sobari, Kepala Desa Kerlung.

Read the rest of this entry »

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in Cerpen

 

Tag: , ,

Vrigid

Cerpen: Monas Junior

 

            Aku wanita diambang 50 tahun. Tubuh kerempeng, kulit keriput, rambut putih, mata sayu, sangat tak menarik bagi lelaki manapun. Termasuk bagi Afsya, suamiku (lelaki yang dulu telah kupilih sebagai persinggahan terakhir bagi cinta, hati, dan hidupku).

            Kemana cinta? Kemana kenangan? Kemana hasrat menggebu yang dulu memanas acapkali sentuhan-sentuhan menyudahi setiap pertemuan, setiap pertengkaran, setiap permasalahan, setiap suasana? Kemana, kemana pergi semua?

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in Cerpen

 

Tag: , , , ,

Tahi Lalat

Cerpen: Monas Junior

Tahi lalat itu, yang jelas, bukan sejenis makanan atau minuman. Bukan juga penyakit kulit menakutkan.

Mungkin manusia paling paham mengenai definisi, makna, manfaat dari tahi lalat, ialah Udin. Pria sepertiga abad yang belum punya bini. Pegawai rendahan akibat kurang kuliahan, tubuh oke, postur tinggi, putih warna kulitnya. Tinggal sendiri di rumah kontrakan satu kamar dua pintu. Anak sulung.

Seperti manusia lain, ia sama sekali tak tampak berbeda. Bahkan wajahnya menyinarkan bias-bias ketampanan. Dengan cambang tipis merata di area pipi, atas bibir, dan dagu. Klimis jika ia memangkas rambutnya tiap dua minggu sekali. Lihat, ia sama sekali tak ada beda.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in Cerpen

 

Tag: , ,